<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7952077414346619986</id><updated>2011-08-02T09:47:36.869+07:00</updated><category term='Artikel Aswaja NU'/><category term='Tokoh'/><title type='text'>blog resmi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Bulletin Ar-Risaalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='16' src='http://4.bp.blogspot.com/_eaQoFojG5Uw/S_qCG0vgVSI/AAAAAAAAAAM/IzR7PqANidY/S220/logo+bulletin+copy.psd.png'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7952077414346619986.post-4201198867383209009</id><published>2010-05-27T21:24:00.000+07:00</published><updated>2010-05-27T21:24:17.106+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>KH. Moch. Ilyas Ruchiyat [Ajengan Santun dari Cipasung]</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;em&gt;&lt;img align="left" alt="KH. Ilyas Ruchiyat" height="136" src="http://gazali.files.wordpress.com/2007/12/ilyas-ruhiyat-sbp.thumbnail.jpg?w=101&amp;amp;h=136" style="height: 153px; width: 110px;" width="101" /&gt;&lt;/em&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;Dalam khazanah budaya Sunda, dikenal adanya tiga pembagian kekuasaan  yang setara dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Ketiga lembaga  kekuasaan itu menyatu dan saling mendukung. Kekuasaan yang dihormati  adalah kekuasaan rohaniah yang disebut resi. Kekuasaan kedua disebut  ratu, yakni pihak eksekutif yang memerintah ketiga kampung kekuasaan.  Dalam bahasa yang lebih primordinal disebut negara. Dan alamat ketiga  adalah rama yang tak lain adalah rakyat, yang lembaganya mengurusi  keamanan dan pertahanan ketiga kesatuan tripartit kampung. Dengan  demikian, ketiga lembaga memiliki pucuk pimpinan atau jawaranya sendiri-&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;  sendiri, yakni jawara rohaniah, jawara eksekutif, dan jawara silat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok  kharismatik ajengan Cipasung Tasimalaya yang dibedah biografinya dalam  buku ini tak lain adalah sosok resi yang telah mensenyawakan dirinya dan  mentalitas spiritualitas Islam secara natural dengan mentalitas budaya  Sundanya di Cipasung. Dia bernama KH Moh Iyas Ruhiat. Dilahirkjan hari  Ahad, 12 Rabiul Awwal 1352 H/31 Januari 1934. Namanya sebagai tafa’ul  terhadap tokoh muda pesantren yang tengah naik daun saat itu, KH  Muhammad Ilyas, yang pernah menjabat Menteri Agama dalam tiga periode  (h. 37). Sejak kecil sampai dewasa, Endang Ilyas (anak kiai diseputar  Tasikmalaya lazim dipanggil Endang), dididk oleh orang tuanya sendiri.  Ajengan Ruhiat, bapak Endang Ilyas, adalah perintis pesantren Cipasung.  Ajengan Ruhiat termasuk pelopor masyarakat Tasimalaya dalam menghadang  imperialisme penjajahan Belanda, sehingga pada 17 November 1941 beliau  ditangkap dan ditahan bersama ulama terkemuka, KH Zainal Musthofa di  Penjara Sukamiskin dan dibebaskan 10 Januari 1942 (h. 29). Kegigihan  sang ayah, sekaligus guru yang paling disegani Endang Ilyas, inilah yang  menjadi spirit Ilyas untuk terus belajar secara tekun dan selalu  bersikap tegar yang nantinya mampu menjadi modal memperjuangkan  masyarakat Cipasung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan dan ketegarannya membuat orang  tuanya bangga, sehingga ketika sang Ayah merasa sakitnya parah, Endang  Ilyas langsung dibai’at oleh ayahanda sebagai penerus kepemimpinan  pesantren Cipasung. Ditangan Moh Ilyas, Cipasung sejak tahun 1980-an  sampai sekarang menjadi pesantren besar yang penuh prestasi. Terlebih  ketika Ajengan Ilyas terpilih sebagai pelaksana harian Rais Aam PBNU  yang ditinggalkan KH Ahmad Siddiq dalam Munas Lampung tahun 1992. Dan  kemudian beliau terpilih kembali sebagai Rais Aam PBNU dalam Muktamar  XXIX tahun 1994 di pesantrennya sendiri, Cipasung. Kesuksesan Ajengan  Ilyas menjadi Rais Aam PBNU membuktikan akan teguhnya beliau sebagai  seorang resi. Dan beliau sampai saat ini, adalah satu-satunya orang  Sunda yang pernah menduduki posisi Rais Aam. Karena dalam kepemimpinan  NU, jabatan Rais Aam selalu diisi orang Jawa. Dan perlu dicatat, Rais  Aam bukanlah sekedar jabatan. Yang terpilih (bukan dipilih) adalah  mereka yang kharismatik dan benar-benar menjadi panutan ummat. Sebut  saja mislanya KH Hasyim Asy’ari, KH A. Wahab Hasbullah, dan KH Bisri  Sansuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok resi yang melekat dalam diri Ajengan Ilyas sangat  dirasakan oleh seluruh warga NU dan pesantren. Beliaulah yang menjadi  siger tengah (tokoh moderat) dalam konflik elite NU di Munas Lampung  1992. Waktu itu, Gus Dur berseteru dengan pamannya sendiri, KH Yusuf  Hasyim, dan KH Ali Yafie. Pada Muktamar Cipasung tahun 1994, ketika Gus  Dur dan Abu Hika warga NU sedang bergairah era reformasi, beliau juga  merestui lahirnya PKB yang kemudian mengantarkan Gus Dur sebagai  Presiden ke-4 RI. Sampai sekarang, walaupun kondisi fisik beliau sudah  sangat lemah, ketika warga NU diterpa godaan politik yang menggoyahkan  Khittah 1926, beliau tetap bersungguh-sungguh mempertahankan Khittah  yang diwariskan para sesepuh NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Totalitas perjuangan Ajengan  Ilyas dalam NU sangatlah besar dan dikagumi warga NU. Tidak hanya warga  NU, tetapi seluruh bangsa. Karena di Jawa Barat beliau juga sering  memelopori dialog lintas agama dan linta sektoral. Beliau selalu  menggandeng Muhammadiyah dalam persoalan umat Islam. Dalam pluralitas  keberagamaan, beliau selalu menggendeng para pemuka agama Indonesia,  termasuk ikut masuk dan berceramah di pesantrennya. Walaupun demikian,  beliau tetap santun dan rendah diri. Menduduki posisi tertinggi di NU,  beliau tetap tinggal di Cipasung. Karena baginya, Ilyas dan Cipasung  bagai biji yang tumbuh ditanahnya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;“Kawin Emas” Kiai Ilyas Ruhiyat: Istri  Pertamanya, Pesantren&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan membina rumah tangga, telah mengantarkan sosok Kiai Ilyas  menjadi panutan. Menjadi tokoh nasional, dengan serangkaian jabatan  amanah melekat pada dirinya. Hal yang membahagiakan pasangan ini, juga  karena mereka telah berhasil mengantarkan anak-anaknya sukses dalam  bidang pendidikan. Si cikal Acep Zamzam Noor jebolan ITB, juga pernah  dua tahun menimba ilmu di Italia, lebih dikenal sebagai seniman. Anak  keduanya, Ida Nurhalida meraih master di UPI Bandung, dan si bungsu  Enung Nursaidah Rahayu juga master pendidikan biologi. "Hal yang  menggembirakan, semua anak-anak kami setelah selesai sekolah, sekarang  kumpul kembali di Cipasung," kata Nyonya Dedeh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Kiai Ilyas dengan daerah Cipasung sendiri, sebagaimana dikatakan  oleh Prof Jokob Sumardjo, guru besar STSI Bandung, bagai biji yang  tumbuh di tanahnya sendiri. Ia tidak pernah meninggalkan kampung itu  sehingga Cipasung identik dengan Kiai Ilyas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilyas kecil memang lahir di Cipasung, tanggal 13 Januari 1934. Ayahnya  adalah ulama besar di Tasikmalaya, K.H. Ruhiat, dan ibunya Aisyah. Kiai  Ruhiat berusaha meminta anaknya yang satu ini agar bisa menghafal semua  kitab, agar bisa menjawab semua persoalan. Selain ngaji ke ayahnya,  Ilyas sering juga mengikuti pengajian Kiai Saefulmillah, Abdul Jabar,  Ustaz Bahrum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilyas ingin meneruskan ke Mesir, belajar di Universitas al-Azhar. Tapi,  semua itu harus disimpan dalam kenangan. Karena saat usainya ke 22  tahun, Ilyas diminta untuk menikah dengan Dedeh, putra ajengan K.H.  Mapruh, asal Rancapaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai Mapruh ini adalah teman Kiai Ruhiat, sewaktu aktif di NU. Dedeh,  kelahiran 6 April 1942, waktu itu baru lulus SD. Dedeh juga ingin  melanjutkan sekolah. Tapi, karena satu sama lain menghormati serta patuh  kepada orang tuanya, mereka menikah tepat pada tanggal 14 Juli 1956. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sebelumnya tidak kenal dengan Apih (Kiai Ilyas-red), hanya tahu  saja sering datang memberikan ceramah. Makanya, kaget juga ketika tahu  dijodohkan dengan Apih ini," kata Hj. Dedeh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang mengharukan, selama menikah tidak pernah Ilyas memarahi  istrinya. "Selama 50 tahun hidup bersama, Apih ini tidak pernah  membentak, atau memaki saya. Apih sayang sekali kepada kita, sabar serta  penuh perhatian kepada kami atau kepada anak-anak. Selalu menghargai  sikap saya, juga mengayomi, " ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai Ilyas Ruhiyat sendiri pada tahun 1990-an menjadi ulama NU yang  sangat disegani di tingkat nasional. Pada Muktamar NU tahun 1995 di  Cipasung, Tasikmalaya, Kiai Ilyas mendapat amanah untuk memimpin NU  bersama Gus Dur. Pada masa itu, Kiai Ilyas mampu membawa NU melewati  masa-masa sulit karena menolak intervensi Orde Baru. Kiai Ilyas pernah  menolak permintaan pemerintah yang memohon kesediaannya menjadi anggota  MPR. Independensi NU saat itu tidak lepas dari peranan Kiai Ilyas  sebagai Rais Aam PBNU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukannya mengajar, ceramah dan mengurus NU itulah yang menyebabkan  Kiai Ilyas sering meninggalkan istrinya, Hj. Dedeh. Kadang ia merasa  jadi istri yang ketiga. Istri pertamanya, pesantren, kedua NU. Selamat  ulang tahun pernikahan ke 50 Pak Kiai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Selamat Jalan Kyia kami....... &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…&lt;/em&gt;Tokoh besar NU telah  meninggalkan kita. Beliau dipanggil pulang Yang Maha Kuasa, Selasa  (18/12/2007) sore pukul 16.15 WIB dalam usia 73 tahun.&amp;nbsp;Beliau adalah  sosok hadir yang di panggung nasional dengan kejujuran, ketulusan, dan  kesederhanaan. Karena hal, seluruh komponen bangsa ini membutuhkan dan  merindukannya. Beliau juga diterima semua kalangan, baik muslim maupun  nonmuslim&lt;span id="more-195"&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" class="style1"&gt;KH. Moh Ilyas Ruchiyat lahir pada 12  Rabiul Awal 1352 H/31 Januari 1934. Dalam karirnya, ia tercatat pernah  menjabat Rois Syuriyah PB NU periode 1994-1999, di masa KH. Abdurrahman  Wahid (Gus Dur) menjabat Ketua Tanfidizyah PBNU. Ketika terjadi  rebut-ribut antara Gus Dur dengan pamannya, KH. Yusuf Hasyim dan KH. Ali  Yafie, saat Munas NU di Lampung 1992, Ajengan Ilyas lah yang berposisi  sebagai penengah, demikian tulis gusdur.net.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="style1"&gt;Berikut tulisan mas ulil tentang kiai  kharismatik tersebut yang saya dapatkan di milis kmnu2000. Saya  husnuz-zan, bahwa Kiai Ilyas Ruhiyat adalah “min ahlil jannah”. Semoga  pembawaan Kiai Ilyas yang lembut, akomodatif, toleran, dan mengayomi  semua pihak ini bisa menjadi teladan bagi kita semua, baik di dalam atau  di luar NU, terutama di saat-saat ketika toleransi sebagai ide dan  praktek dikutuk dan dimusuhi seperti sekarang ini.&lt;/div&gt;Meski tak dikenal sebagai kiai yang banyak menulis, melontarkan  pendapat di media, atau sering menyampaikan “prefarat” dalam  seminar-seminar dan konferensi, Kiai Ilyas adalah sebuah “mazhab”, jika  saya boleh agak sedikit “takalluf” dan “superlatif” (mubalaghah) . Gaya  kekiaian Kiai Ilyas adalah salah satu di antara corak kekiaian yang  berkembang dalam tubuh NU.&lt;br /&gt;Pesantren Cipasung yang diasuh oleh Kiai Ilyas, menurut saya, adalah  merupakan contoh pelaksanaan dari prinsip yang dikenal dan dihayati  dalam NU, “al-muhafazah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdhu bi ‘l-jadid  al-aslah”, memelihara yang lama yang baik, menyerap yang baru yang  lebih baik.&lt;br /&gt;Saya mengenal pesantren Cipasung pertama kali awal&amp;nbsp; 80an sebagai  salah satu pesantren yang bekerjasama dengan LP3ES (kemudian dilanjutkan  oleh P3M) untuk pengembangan masyarakat (bahasa yang dipakai saat itu  adalah “community development” ), bersama-sama dengan pesantren lain  seperti Maslakul Huda asuhan Kiai Sahal Mahfudz, Pesantren Tebuireng  asuhan (saat itu) alm.&amp;nbsp; Kiai Yusuf Hasyim, Pesantren Pabelan asuhan Kiai  Hamam Ja’far, dan pesantren Asy-Syafi’iyah.&lt;br /&gt;Ide “pengembangan masyarakat” saat itu bermula dari gagasan kalangan  “intelektual kota” yang sedang asyik dengan kritik atas teori  pembangunan untuk menjadikan&lt;br /&gt;pesantren sebagai eksperimen untuk model pembangunan alternatif yang  “bottom up”, bukan “up-to-bottom” gaya Suharto.&lt;br /&gt;Tidak semua pesantren menerima gagasan ini dan dijadikan sebagai  proyek percontohan untuk “kritik pembangunanisme” ini. Sebagian kiai  mencurigai proyek ini sebagai “proyek Yahudi” yang berbahaya. Bersama  sejumlah kiai lain, Kiai Ilyas menerima inisiatif ini&lt;br /&gt;dengan tangan terbuka, tanpa kecurigaan yang berlebihan. Proyek rintisan  LP3ES tidak semua berhasil. Yang paling tahan lama hanyalah percontohan  yang ada di tiga pesantren: Kajen, Tebuireng dan Cipasung. Sekarang,  yang tersisa hanya dua: Kajen dan Cipasung.&lt;br /&gt;Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan moral dan intelektual dari  kiai-kiai semacam Kiai Sahal dan Kiai Ilyas itu. Dari proyek inilah  lahir sejumlah “santri-aktivis” yang menjembatani pesantren sebagai  lemabaga “&lt;em&gt;tafaqquh fil al-din”&lt;/em&gt; (istilah yang sering dipakai  oleh Kiai Sahal) dan masyarakat.&lt;br /&gt;Dari Cipasung lahir santri-aktivis yang sudah saya kenal sejak lama,  Kang Tatang. Dari Kajen, lahir orang-orang seperti alm. Pak Masykur  Maskub. Dari Tebuireng, lahir orang seperti Nas Sodri Nashori (yang  sekarang masih aktif di P3M) dan Mas Mufid A. Busyairi&lt;br /&gt;(sekarang anggota DPR dari PKB). Dari Assyafiiyyah, Jatiwaringin, lahir  orang-orang seperti Mansour Fakih (yang memperkenalkan dengan gigih  gagasan “pendidikan- sebagai-penyadar an” a la &lt;span class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;Paulo  Freire&lt;/span&gt;) dan Budhy Munawar Rachman.&lt;br /&gt;Saya adalah santri yang sedang tumbuh dan bergairah berkenalan dengan  ide-ide baru pada periode itu. Lahirnya pusat-pusat pengembangan  pesantren pada awal 80an itu memberikan saya kesempatan untuk berkenalan  dengan gagasan-gagasan “sekuler” yang datang dari kota. Pak Masykur  Maskub, yang saat itu menjadi guru di madrasah Mathali’ul Falah, Kajen,  sambil mengelola pusat pengembangan masyarakat di&amp;nbsp; pesantrennya Kiai  Sahal, memperkenalkan kepada saya sejumlah buku dan jurnal Prisma  terbitan LP3ES.&lt;br /&gt;Dari LP3ES pula lahir majalah “Pesan” (singkatan dari “Pesantren”)  yang banyak memuat contoh-contoh sukses proyek pengembangan masyarakat  melalaui pesantren.&lt;br /&gt;Majalah yang antara lain dikelola oleh Mas Hadimulyo (sekarang aktif di  PPP) ini saya baca dengan penuh minat saat saya masih menjadi santri di  Kajen dulu.&lt;br /&gt;Pada suatu pagi yang cerah, matahari berbinar-binar di ufuk timur  (ini bukan hiperbola, tetapi penggambaran harafiah), saya membaca  majalah Pesan dan menemukan puisi-puisi Acep Zamzam Noor, putera dari  Kiai Ilyas yang saat itu masih kuliah di ITB.&lt;br /&gt;Pada edisi yang saya baca itu, antologi puisi Kang Acep, “Tamparlah  Mukaku”, sedang&amp;nbsp; diresensi. Sejumlah puisi Kang Acep juga dimuat di  sana. Sebagai santri pedusunan, terus terang saya tak paham semua yang  ditulis Kang Acep. Saya hanya terpana berhadapan&lt;br /&gt;dengan susunan kalimat yang aneh dalam puisi itu. Hingga sekarang, saya  termasuk penggemar puisi-puisi Kang Acep, terutama puisi-puisi yang ia  gubah saat melancong ke Itali (beberapa dimuat di jurnal Kalam).&lt;br /&gt;Saya juga menyukai sejumlah lukisan Kang Acep. Beberapa di antaranya  saya lihat di ruang tamu kediaman Kiai Ilyas di Cpasung (saya lihat saat  saya ikut menjadi “romli” [rombongan liar] pada Muktamar NU ke-29 di  Cipasung, Desember 1994).&amp;nbsp; Beberapa lukisannya yang lain saya lihat di  rumah Sitok Srengenge di Depok.&lt;br /&gt;Suasana pesantren selepas Muktamar NU ke-27 yang ingar-bingar saat  itu, hingga muktamar yang ke-29 di Cipasung, adalah suasana penuh  antusiasme menyambut&lt;br /&gt;ide-ide baru. Pada periode itulah saya tumbuh sebagai seorang santri  “ndeso” di sudut desa Kajen, Pati. Pada saat itulah, saya mulai  berkenalan dengan ide-ide Gus Dur, Cak Nur, Dawam Rahardjo, Djohan  Effendi, Sutjipto Wirosardjono, Jalaluddin Rakhmat, Masdar, Aswab  Mahasin, MM Billah, Nasihin Hasan, Hadimulyo, Mansour Fakih.&lt;br /&gt;Nama-nama itu saya kenal entah lewat majalah Prisma, Pesan, atau  Pesantren (diterbitkan oleh P3M beberapa saat setelah muktamar di  Situbondo), atau majalah&lt;br /&gt;Tempo. Pada saat itu, terbit sebuah majalah yang sudah dilupakan banyak  orang saat ini, yakni majalah Nuansa. Majalah yang sangat baik ini  terbit hanya satu edisi, dan dalam edisi yang hanya satu-satunya itulah  diulas dengan cukup kritis ide negara Islam yang saat itu masih cukup  kuat berkembang di kalangan aktivis masjid kampus (antara lain Masjid  Salman, &lt;span class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;Bandung&lt;/span&gt;). Pada edisi itulah saya membaca  kritik atas konsep negara&lt;br /&gt;Islam-nya Maududi yang ditulis oleh Pak Djohan Effend (saya lupa  persisnya: kalau tidak Pak Djohan ya Mas Dawam Rahardjo).&lt;br /&gt;Dengan kata lain, saya mengenang Kiai Ilyas sebagai salah satu kiai  yang menjadi bagian penting dari periode “keterbukaan” dan antusiasme  menerima ide-ide baru itu.&lt;br /&gt;Saat ini, bandul pesantren sudah berubah. Tampaknya saat ini  kecenderungan yang lebih menonjol di beberapa pesantren adalah  keengganan, atau bahkan kecurigaan, pada gagasan baru. Sebagaimana  setiap buah memiliki musimnya masing-masing, begitu pula periode  keterbukaan itu juga memiliki musimnya sendiri. Musim itu, kini,  tampaknya sedang berlalu, digantikan oleh musim yang lain.&lt;br /&gt;Saya kangen pada musim keterbukaan itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Allahumma ighfir li Kiai Ilyas war hamhu wa ‘afihi&lt;br /&gt;wa’fu ‘anhu. Allahumma ij’al manqubatahu ma’tsaratan min ma’atsiri&lt;br /&gt;Nahdlatil Ulama’.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7952077414346619986-4201198867383209009?l=bulletinarrisaalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/feeds/4201198867383209009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/kh-moch-ilyas-ruchiyat-ajengan-santun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/4201198867383209009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/4201198867383209009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/kh-moch-ilyas-ruchiyat-ajengan-santun.html' title='KH. Moch. Ilyas Ruchiyat [Ajengan Santun dari Cipasung]'/><author><name>Bulletin Ar-Risaalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='16' src='http://4.bp.blogspot.com/_eaQoFojG5Uw/S_qCG0vgVSI/AAAAAAAAAAM/IzR7PqANidY/S220/logo+bulletin+copy.psd.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7952077414346619986.post-1063868924033434614</id><published>2010-05-27T20:39:00.000+07:00</published><updated>2010-05-27T20:39:39.199+07:00</updated><title type='text'>readmore</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;ninnis sjhdkhsdas dsajdaskdj&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;  Msdsadsadasg yang tinggi untuk msdasdassdadasda adsadas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7952077414346619986-1063868924033434614?l=bulletinarrisaalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/feeds/1063868924033434614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/readmore.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/1063868924033434614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/1063868924033434614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/readmore.html' title='readmore'/><author><name>Bulletin Ar-Risaalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='16' src='http://4.bp.blogspot.com/_eaQoFojG5Uw/S_qCG0vgVSI/AAAAAAAAAAM/IzR7PqANidY/S220/logo+bulletin+copy.psd.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7952077414346619986.post-4770416380117114207</id><published>2010-05-27T20:24:00.004+07:00</published><updated>2010-05-27T20:49:39.461+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Aswaja NU'/><title type='text'>Penjelasan tentang Wahidiyah</title><content type='html'>Tulisan ini, dikutip tanpa ada penambahan dan pengurangan dari buku &lt;i&gt;Polaritas  Sektarian: Rekonstruksi Doktrin Pinggiran"&lt;/i&gt;, sebuah buku hasil  kajian siswa &lt;i&gt;mutakharijin&lt;/i&gt; tahun 2007 Pondok Pesantren Lirboyo  Kediri.&lt;br /&gt;Imam Syafi'i menyatakan bahwa adab orang yang bermadzhab adalah:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Meyakini bahwa pendapatnya yang paling benar tetapi  mungkin salah dan pendapat orang lain salah tapi mungkin benar. &lt;/blockquote&gt;Dengan adab ini kita tidak akan &lt;i&gt;taasub&lt;/i&gt; /fanatis dengan  kelompok kita, dan membuka diri dari koreksi madzhab lain. Karena itu,  tulisan ini tidak dalam porsi mencaci atau semacamnya. Tetapi hanya  sebagai pengukuh kebenaran menurut kacamata pendapat kami yang mungkin  salah. Kami juga berharap pembaca yang tidak&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;setuju khususnya para  pengamal Wahidiyah, menggunakan tulisan ini sebagai media &lt;i&gt;muhasabah&lt;/i&gt;,  introspeksi diri, antara mengukuhkan pendapat atau merekonstruksi  kembali pemahaman yang benar.&lt;/div&gt;Pandangan tentang Wahidiyah, juga bukan serta merta menunjukkan  kebencian pada shalawat, karena shalawat tidak identik dengan Wahidiyah.  Pondok Pesantren Nurul Huda secara istiqamah juga menyelenggarakan  pembacaan shalawat, sebagai perwujudan menjalankan perintah al Quran.  Pandangan Pesantren Kami atas amalan Wahidiyah hanyalah sebagai koreksi  atas 'cara baca'dan 'cara pandang' atas shalawat itu sendiri.&lt;br /&gt;Jawaban Kyai Masduqi atas pertanyaan warga Nahdliyin di majalah Aula  beberapa tahun yang lalu (yang kemudian dimuat kembali dalam web ini),  disamping berdasar koreksi 'cara baca' juga berdasar 'dialog langsung  dengan Kyai Abdul Majid sang pendiri' karena kebetulan, sebenarnya  ketika shalawat Wahidiyah pertama kali diperkenalkan, Kyai Masduqi  sempat mengantar Kyai Abdul Majid ke beberapa tempat di Malang. Namun  setelah melihat ada beberapa hal yang dinilai kurang pas, Kyai Masduqi  tidak lagi bersedia memfasilitasi.&lt;br /&gt;Semoga tulisan ini tidak dinilai sebagai bahasa permusuhan tetapi  lebih pada pengamalan ayat &lt;i&gt;fa dzakkir fainna dzikra tanfa'  almu'minin.&lt;/i&gt; Amin&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7952077414346619986&amp;amp;postID=4770416380117114207" name="TOC0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_1"&gt;&lt;/a&gt;Mengenal  Wahidiyah&lt;/h3&gt;Di Kediri, tepatnya sebelah barat sungai Brantas terdapat sebuah  pesantren Kedunglo. Pesantren ini didirikan tahun 1901 oleh &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Muhammad Ma'roef. Kiai Ma'roef pernah mengenyam  pendidikan di pesantren Bangkalan Madura pimpinan &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt;  M. Kholil. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Ma'roef wafat tahun 1955 dan  kepemimpinan pesantren dilanjutkan salah satu anaknya, &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Madjid.&lt;br /&gt;&lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Madjid lebih memfokuskan diri  pada bidang tasawuf dengan mendalami kitab Al-Hikam. Menurut &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Madjid tasawuf tidak hanya merupakan  bahasa ilmiah, melainkan terapan kehidupan untuk menggapai makrifat  Allah. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Madjid  inilah pendiri  sekaligus maestro sholawat Wahidiyah. Setelah &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt;  Abdul Madjid meninggal, usaha pengembangan tasawuf Wahidiyah  dilanjutkan oleh &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Latif Madjid.&lt;br /&gt;Pada masa kepemimpinan &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Latif  Madjid inilah, popularitas pesantren Kedunglo semakin menanjak terutama  terkait dengan ajaran sholawat yang terus mereka sebarkan sejak awal  tahun 1964.&lt;br /&gt;Berdasarkan catatan Republika, pengamal sholawat tersebut saat ini  tidak terbatas di kalangan santri pesantren, tapi masyarakat luas dan  jumlahnya telah mencapai puluhan ribu orang. Para pengamal ini tiap  tahun berkumpul di Kedunglo untuk memperingati 1 Muharram dan Maulid  Nabi serta mengadakan Mujahadah Qubro.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn1"&gt;1&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;  &lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_2"&gt;&lt;/a&gt;Definisi  Ajaran Wahidiyah&lt;/h3&gt;Yang dimaksud dengan ajaran Wahidiyah adalah Bimbingan praktis  lahiriyah dan batiniyah di dalam mengamalkan dan menerapkan tuntunan  Rasulullah yang mencakup bidang syariat, bidang hakikat, penerapan iman,  pelaksanaan Islam, perwujudan ihsan dan pembentukan moralitas,  peningkatan iman menuju kesadaran atau makrifat kepada Allah,  pelaksanaan Islam sebagai realisasi dari ketakwaan terhada Allah,  perwujudan ihsan sebagai manifestasi dari iman, Islam yang kamil  (komprehensif), pembentukan moral untuk mewujudkan akhlaqul karimah,  bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah di dalam memanfaatkan potensi  lahiriyah yang ditunjang oleh pendayagunaan potensi batiniyah/spiritual  yang balans dan serasi.&lt;br /&gt;Menurut mereka, bimbingan praktis Wahidiyah telah meliputi segala  bentuk kegiatan hidup dalam hubungan manusia dengan Allah yang disebut  dengan hablum mina-Allah, hubungan manusia dalam kehidupan bermasyarakat  sebagai insan sosial atau hablun minan-Nas &lt;i class="human relations"&gt;,&lt;/i&gt;  hubungan insan dengan keluarga, rumah tangga, dengan bangsa &lt;i&gt;(international  public relations)&lt;/i&gt; serta hubungan manusia dengan segala makhluk di  lingkungan hidup pada umumnya.&lt;br /&gt;Kemudian yang dimaksud dengan sholawat Wahidiyah sendiri adalah  seluruh rangkaian amalan yang tertulis dalam lembaran solawat Wahidiyah.  Ditambah dengan etika ketika mengamalkan sholawat Wahidiyah seperti &lt;i&gt;lillah,  billah, lirrasul, lil ghauts, bil ghaust, istihdlor tadzallul,  tadlolul, tadlollum, iftiqor, ta'dzim, mahabbah,&lt;/i&gt; dan lain  sebagainya.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn2"&gt;2&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Nama Wahidiyah sendiri berasal dari salah satu nama Allah &lt;i&gt;al-a'dzom&lt;/i&gt;  yaitu &lt;i&gt;Al-Wahidu&lt;/i&gt;. Kata &lt;i&gt;al-Wahidu&lt;/i&gt; tersebut telah  tertuang dalam permulaan sholawat Wahidiyah, &lt;i&gt;“Allahumma ya wahidu ya  ahad”&lt;/i&gt;.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn3"&gt;3&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_3"&gt;&lt;/a&gt;Perintah  Bersholawat&lt;/h3&gt;Bukan rahasia lagi bahwa Nabi Muhammad memiliki derajat yang sangat  istimewa di sisi Tuhan. Sebab itulah Allah memuji Nabi Muhammad di  hadapan para malaikat, lalu para malaikatpun mengucapkan sholawat pada  Nabi. Setelah itu Allah memerintahkan pada penduduk bumi untuk membaca  sholawat atas Nabi agar pujian sholawat berkumandang dari alam langit  dan alam bumi.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn4"&gt;4&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;  Dalam al-Qur'an disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;إن الله وملائكته يصلون على النبي ياايها الذين ءامنوا صلوا عليه وسلموا  تسليما&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk  Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan  ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".&lt;/i&gt; (QS. Al-Ahzab: 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholawat Allah yang disampaikan pada Nabi berarti rahmat dan  ridlo-Nya. Kemudian sholawat dari malaikat berarti mendoakan Nabi dan  memohonkan ampun. Sedangkan sholawat dari manusia berarti mendoakan Nabi  dan mengagungkan beliau.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn5"&gt;5&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat tersebut Allah menyampaikan kalimat afirmatif &lt;i&gt;"shollu&lt;/i&gt;  (bersholawatlah kamu)" yang mengindikasikan kewajiban membaca sholawat  kepada Nabi Muhammad saw. Kemudian setelah &lt;i&gt;jumhurul fuqoha'&lt;/i&gt;  melakukan penjelajahan intelektual akhirnya mereka menyimpulkan ada dua  hukum dalam membaca sholawat: wajib dan sunnah. Namun mereka belum  sepakat mengenai, dalam kondisi yang bagaimanakah sholawat diwajibkan?&lt;br /&gt;Menurut Hanafiyah dan Malikiyah, hukum membaca sholawat pada tasyahud  akhir adalah sunnah. Pendapat ini didukung oleh ulama' Madinah, ulama'  Kuffah dan beberapa ulama' yang lain. Sedangkan dalam pandangan  Hanafiyah dan Malakiyah membaca sholawat pada tasyahud awal bukanlah  sesuatu yang &lt;i&gt;masyru'&lt;/i&gt;, bahkan jika sholawat itu sengaja  dilakukan maka hukumnya makruh dan sholat yang dilakukan harus diulangi.  Lalu menurut Hanafiyah jika sholawat tersebut dilakukan karena lupa  maka harus melakukan sujud &lt;i&gt;sahwi&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Jadi menurut perspektif mereka sholawat hanya wajib dilakukan sekali  selama manusia hidup. Mereka mengatakan, "Seluruh orang yang beriman  wajib membaca sholawat minimal sekali seumur hidup, sebab hal itu telah  diperintahkan Allah dalam firman-Nya: &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;'ya ayyuhal ladzina amanuu shollu 'alaihi wa sallimuu  taslimaa'. &lt;/blockquote&gt;Kemudian menurut ath-Thahawi, kita harus membaca sholawat ketika  mendengar nama Nabi disebut.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn6"&gt;6&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Syafi'iyah dan Hanabilah, kita wajib membaca  sholawat setiap kali melakukan sholat, tepatnya ketika melakukan  tasyahud akhir. Selain itu, sholawat harus juga dibaca ketika takbir  kedua daam sholat jenazah, dalam dua khutbah jum'at dan dua khutbah Hari  Raya. Selain itu, sholawat tidak diwajibkan.&lt;br /&gt;Kewajiban sholawat dalam tasyahud akhir juga menjadi pendapat para  ulama sahabat dan ulama periode setelahnya. Di antara para sahabat  adalah Abdullah bin Mas'ud, Abu Mas'ud Al-Badri dan Abdullah bin Umar.  Kemudian diantara para tabi'in adalah Abu Ja'far Muhammad bin Ali,  Sya'bi serta Muqothil bin Hayyan. Dan di antara ulama madzhab adalah  Ishaq bin Rohawaih dan salah satu riwayat Imam Ahmad.&lt;br /&gt;Dalam qoul jadidnya, Imam Syafi'i berpendapat bahwa hukum membaca  sholawat ketika tasyahud awal dalam sholat yang berjumlah empat atau  tiga rakaat adalah sunnah. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Hubairoh dan  Ajurri dari kalangan Hanabilah. Namun, jika sholawat dalam tasyahud awal  tersebut ditinggalkan maka tidak akan berpengaruh pada keabsahan  sholat. Hanya saja sunnah untuk diganti dengan sujud sahwi.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn7"&gt;7&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, hukum membaca sholawat  adalah sunnah dan merupakan salah satu ibadah yang utama. Keutamaan  sholawat sering kali disampaikan oleh Nabi dalam sabda-sabda beliau,  diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;أولى الناس بي يوم القيامة أكثرهم علي صلاة&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Orang yang paling utama dalam pandanganku kelak pada hari kiamat  adalah orang-orang yang paling banyak membaca sholawat padaku."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;من صلى علي صلاة صلى الله عليه بها عشرا وكتب له بها عشر حسنات&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa membaca sholawat kepadaku satu kali, maka Allah akan  memberinya sepuluh sholawat dan sebab sholawat itu, Allah akan  menuliskan sepuluh kebaikan".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;من صلى علي صلاة واحدة صلى الله عليه عشر صلوات وحط عنه بها عشر سيئات  ورفعه بها عشر درجات&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa membaca sholawat kepadaku satu kali, maka Allah akan  memberinya sepuluh sholawat, menghapus sepuluh kejelekan dan  meninggikan sepuluh derajat".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;من صلى علي صلاة واحدة صلى الله عليه عشرا, ومن صلى علي عشرا صلى الله صلى  الله عليه مائة, ومن صلى علي مائة كتب الله بين عينيه براءة من النفاق  وبراءة من النار وأسكنه يوم القيامة مع الشهداء.&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa membaca sholawat kepadaku satu kali, maka Allah akan  memberinya sepuluh sholawat. Barangsiapa membaca sholawat kepadaku  sepuluh kali,maka Allah akan memberinya seratus sholawat. Barangsiapa  membaca sholawat kepadaku seratus kali maka Allah akan (memerintahkan  untuk) menuliskan di antara kedua mata orang tersebut tulisan: 'terbebas  dari munafik dan terbebas dari neraka'. Dan kelak pada hari kiamat,  Allah akan menempatkan orang tersebut bersama para syuhada".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;إن الدعاء موقوف بين السماء والأرض لا يصعد منه شيء حتى تصلي على نبيك صلى  الله عليه وسلم&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya doa tertahan antara langit dan bumi. Doa tersebut  tidak bisa naik sampai engkau membacakan sholawat atas Nabimu  Sholaallahu 'alaihi wa sallam".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;رغم أنف رجل ذكرت عنده فلم يصلل علي&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Terkudunglah hidung seseorang yang namaku disebut di sisinya dia  tidak membaca sholawat kepadaku".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;لاتجعلوا قبري عيدا وصلوا علي فإن صلاتكم تبلغني حيث كنتم&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai tempat perayaan.  Bacalah sholawat kepadaku, sesungguhnya sholawat kalian akan sampai  kepadaku, di manapun kalian berada".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;البخيل من ذكرت عنده, فلم يصل علي&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Orang yang bakhil adalah orang yang namaku disebut di sisinya,  kemudian dia tidak membaca sholawat kepadaku".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Hadits yang menjelaskan mengenai lafadz sholawat sendiri  disebutkan dengan riwayat yang variatif. Namun menurut para sahabat dan  ulama pasca sahabat, lafadz sholaat tidak tergantung pada lafadz-lafadz  yang &lt;i&gt;manshus&lt;/i&gt; saja. Siapapun yang menguasai ilmu bayan, sehingga  dia mampu menyampaikan beberapa makna dengan lafadz yang fasih, yaitu  lafadz-lafadz yang menunjukkan betapa sempurnanya kemuliaan dan  keagungan Nabi, maka dia diperbolehkan sholawat dengan lafadz tersebut.  Hujjah yang mereka gunakan adalah Hadits riwayat Abdurrozak, Abd bin  Humaid, Ibnu Majah dan Ibnu Marduwaih dari Ibnu Mas'ud: &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sesunggguhnya ia berkata, "ketika kalian mengucapkan  sholawat atas Nabi maka perindahlah sholawat kalian. Sesungguhnya kalian  tidak tahu, mungkin sholawat tersebut disampaikan pada Nabi. Kemudian  para sahabat berkata, "Ajarilah kami!" Ibnu Mas'ud kemudian mengatakan :  Ucapkanlah kalimat berikut:&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;اللهم اجعل صلواتك ورحمتك وبركاتك على سيد المرسلين وإمام المتقين وخاتم  النبيين محمد عبدك ورسولك إمام الخير وقائد الخير ورسول الرحمة اللهم ابعثه  مقاما محمودا يغبطه يه الأولون والآخرون اللهم صل على محمد كما صليت على  إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد.8&lt;/div&gt;&lt;h3&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_4"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;Kejanggalan-Kejanggalan  Wahidiyah&lt;/h3&gt;&lt;h4&gt;Cinta Rasul yang Disalahartikan&lt;/h4&gt;Sholawat, menurut Wahidiyah merupakan tanda cinta terhadap Rasul.  Barangsiapa mencintai sesuatu pasti dia akan sering menyebutnya, mungkin  begitulah prinsip mereka. Bahkan hal ini diakui oleh salah seorang  pengamal sholawat Wahidiyah, &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Setelah saya rajin membaca bacaan yang diberikan oleh  kawan saya itu, yaitu ya sayyidi ya rasulullah, semenjak itulah ada  semacam getaran-getaran yang sangat dahsyat rasa cinta kepada Rasulullah  saw".&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn9"&gt;9&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;  &lt;/blockquote&gt;Sekarang mari kita kupas tentang bagaimana sebenarnya cinta Rasul dan  bagaimana cara mencintai Rasul?&lt;br /&gt;Mencintai Rasul merupakan salah satu dari pokok keimanan, dan  kecintaaan tersebut harus disertai dengan kecintaan pada Allah.  Kecintaan pada Allah dan pada Rasul harus menjadi prioritas, melebihi  dari kecintaan kita pada orang tua, sahabat, kekasih, harta, tanah air,  atau yang lain. Ringkasnya, cinta kita pada Allah dan rasul harus berada  di atas segalanya. Dalam Al-Qur'an Allah berfirman;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;قل إن كان ءاباؤكم وأبناؤكم وإخوانكم وأزواجكم وعشيرتكم وأموال اقترفتموها  وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في  سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره.&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Katakanlah: 'jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara,  isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan,  perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat  tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan  Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah  mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada  orang-orang fasik".&lt;/i&gt; (Q.S. at-Taubah : 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah untuk mencintai Nabi dengan setulus-tulusnya, melebihi  segala cinta kita pada apapun, juga disebutkan dalam hadits berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;لا يؤمن عبد حتى أكون أحب إليه من أهله وماله والناس أجمعين&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Seorang hamba tidaklah beriman sampai aku lebih dicintainya  daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang disebutkan dalam hadits tersebut bukanlah cinta yang telah  menjadi karakteristik manusia sebagai makhluk pencinta, melainkan cinta  yang diusahakan. Contoh dari cinta tabiati (karakteristik) ialah  kecintaaan manusia pada dirinya sendiri, siapapun secara naluriah pasti  akan mencintai diri sendiri, demikianlah menurut Abu Sulaiman  al-Khoththobi. Selanjutnya al-Khoththobi mengatakan, "cintamu kepadaku  (Muhammad saw) adalah palsu sampai dirimu sirna, tenggelam dalam  ketaatanmu kepadaku, sampai engkau lebih mementingkan keridlaanku  daripada kesenangan pribadimu, walaupun untuk itu kau harus mengorbankan  nyawamu".&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn10"&gt;10&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Baththol dan al-Qodli 'Iyadh mengatakan, "Cinta dapat  diklasifikasikan menjadi tiga bagian. &lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pertama, cinta mengagungkan seperti rasa cinta anak pada kedua  orangtuanya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kedua, cinta kasih sayang seperti kecintaan pada anak-anak kita. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketiga, cinta karena ada kesesuaian rasa dan karena pesona seperti  kecintaan manusia pada umumnya. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Ketiga jenis cinta ini dapat kita asimilasikan dalam kecintaan pada  Rasul".&lt;br /&gt;Selanjutnya Ibnu Baththol mengatakan, "Makna dari hadits di atas  ialah seseorang yang memiliki keimanan sempurna maka dia akan tahu bahwa  hak Nabi lebih kuat dibandingkan dengan hak orangtua, anak, bahkan  seluruh manusia. Sebab dengan lantaran nabi saw kita bisa selamat dari  neraka dan mendapatkan secercah petunjuk dari jalan yang sesat".  Kemudian al-Qodli 'Iyadl mengatakan, "di antara bukti kecintaan kita  pada Nabi adalah ketika kita mau memperjuangkan sunnah-sunnah Nabi dan  membela syariat beliau".&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn11"&gt;11&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah riwayat Umar ra juga pernah mengungkapkan perasaan  cintanya pada Nabi, "Wahai Nabi! Engkau lebih aku cintai dari segalanya,  kecuali cintaku pada diriku sendiri". Nabi kemudian menolak cinta Umar  ra, "Tidak wahai Umar! Sampai aku lebih Engkau cintai daripada dirmu  sendiri". Umar ra kemudian mengatakan, "Demi Allah! Sekarang Engkau  lebih Aku cintai daripada diriku sendiri". Nabi lantas bersabda,  "Sekarang Engkau baru mencintaiku". Kecintaan kita pada diri sendiri,  apalagi pada orang lain tidak boleh sampai mengalahkan kecintaan Kita  pada Allah dan Rasul.&lt;br /&gt;Setiap cinta harus ada pembuktian, cinta yang tidak disertai dengan  bukti adalah bohong. Jika mengaku sebagai pecinta Rasul, lalu apa bukti  kecintaan kita? Jangan sampai kita memiliki anggapan kosong, mengira  mencintai Nabi, tapi sebenarnya itu tipuan setan belaka, karena ekspresi  cinta dalam hati pasti akan tampak dalam perilaku. Oleh karenanya kita  harus mengenal dan menguji kecintaan kita dengan memperhatikan beberapa  indikasi dan bukti, lalu kembali bertanya, benarkan kita telah mencintai  Nabi dengan sepenuh hati? Tanda-tanda cinta ini bisa kita ketahui dari  ekspresi lahiriyah karena cinta adalah pohon yang abik, akarnya teguh,  dan cabangnya menjulang ke langit, kemudian buahnya akan tampak dalam  hati, lisan dan anggota tubuh. Oleh karenanya, perasaan cinta pasti  dapat terbaca dari perilaku seseorang. Perilaku merupakan indikator,  sebagaimana asap yang menunjukkan keberadaan api, ada asap pasti ada  api.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn12"&gt;12&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan cinta seseorang bisa dibenarkan ketika perilakunya selalu  sama dengan perilaku sang kekasih, sebab cinta adalah mengikuti segala  perilaku sang kekasih. Dalam al-Qur'an disebutkan :&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;قل ان كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Katakanlah : 'Jika Kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah  aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu".&lt;/i&gt; (QS.  Al-Imron : 31)&lt;br /&gt;Kita sering mengaku bahwa kita telah mencintai Rasul di atas  segalanya. Pengakuan ini dapat kita uji kebenarannya ketika dalam waktu  yang sama terjadi pertentangan antara perintah Rasul dan perintah lain  yang lebih kita senangi. Jika kita lebih mendahulukan perintah Rasul  maka pengakuan cinta tersebut merupakan pengakuan yang benar sebab Dia  telah memprirotaskan Nabi di atas yang lain. Namun jika dia menuruti  kesenangan pribadi dengan meninggalkan perintah Rasul maka pengakuan  tersebut merupakan pengakuan yang dusta.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn13"&gt;13&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Ya! Mengikuti apapun yang dikehendaki oleh kekasih, itulah hakikat  cinta. Sehingga ketika kita ingin meraih cinta sejati kepada Rasul, kita  harus mengikuti seluruh perintah dan sunnah-sunnah beliau, keudian  melakukannya. Tidak cukup hanya dengan menyebut-nyebut nama beliau  tetapi bodoh dan tidak mau tahu dengan perintah dan sunnah beliau. Cinta  akan lebih berarti jika diekspresikan dengan tindakan, bukan hanya  sekedar diucapkan atau mungkin hanya kadang-kadang saja menyebut nama  kekasih, sebab cara yang paling tepat untuk mengingat kekasih adalah  dengan anggota tubuh, tidak hanya dengan lisan.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn14"&gt;14&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Rasa cinta pada Rasul akan tumbuh ketika kita mengetahui kesempurnaan  Nabi, sifat-sifat beliau dan kehebatan syariat yang beliau bawa.  Pengetahuan itu sendiri akan timbul ketika kita mengetahui kebesaran  Dzat yang telah mengutus Nabi. Sesungguhnya kecintaan pada Allah tidak  akan sempurna kecuali dengan mentaati-Nya, dan satu-satunya jalan untuk  mentaati Allah adalah dengan cara mengikuti Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Karena cinta adalah mengikuti, maka cinta kepada Rasul  diklasifikasikan menjadi dua bagian. Pertama wajib, yaitu mengikuti  kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Nabi, tidak melaksanakan  larang-larangan beliau, dan ridlo dengan perintah dan larangan tersebut.  Ditambah dengan lapang dada dan berserah diri terhadap seluruh syariat  yang dibawa Nabi, tidak bersedia menerima petunjuk selain dari cahaya  lentera Nabi, dan tidak mencari kebenaran kecuali dari apa yang telah  dibawa oleh Nabi.&lt;br /&gt;Kedua adalah cinta yang bersifat fadlal atau sunnah, yaitu setelah  kita mengikuti nabi dalam hal wajib di atas, selanjutnya kita mengikuti  perilaku dan etika beliau, mengikuti petunjuk beliau, jalan beliau,  menjalin interaksi yang harmonis dengan keluarga dan rekan-rekan Nabi.&lt;br /&gt;Selain itu kita dituntut untuk mengikuti akhlak lahiriyah Nabi,  seperti kezuhudan (asketis) beliau terhadap dunia dan kecintaan beliau  pada akhirat, kedermawanan beliau, kealtuisan beliau  (itsar--mendahulukan orang lain), sifat pengampun beliau, kesabaran  beliau, tabah dalam menahan hal-hal yang menyakitkan dan kerendahan hati  beliau.&lt;br /&gt;Setelah itu kita juga harus mengikuti akhlak batiniyah Nabi, yaitu  kesempurnaan rasa takut beliau pada Allah, cinta beliau pada Allah,  kerinduan beliau untuk bertemu Allah, kerelaan hati beliau dengan takdir  Allah, hati beliau yang selalu ingat kepada Allah, hati beliau yang  tidak pernah mengandalkan beberapa sebab, lisan beliau yang  terus-menerus menyebut nama Allah, beliau yang senantiasa bahagia  bersama Allah, merasa nikmat ketika sendiri bersama Allah, ketika  munajat kepada Allah, ketika berdoa, dan merasa nikmat ketika membaca  kitab-Nya sambil tadabbur dan memikirkan setiap ayat yang beliau  lantunkan. Kesimpulannya, akhlak Nabi adalah al-Qur'an, beliau meridhoi  apa yang diridhoi oleh al-Qur'an dan membenci apa yang dibenci oleh  al-Qur'an.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn15"&gt;15&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui hakikat cinta di atas, kita tidak boleh serta  merta menyebut orang-orang yang berteriak histeris sambil menangis  ketika menyebut nama Nabi sebagai orang yang mencintai Nabi sepenuh  hati. Tetapi kita lihat dulu bagaimana perilakunya sehari-hari, apakah  sudah sesuai dengan tuntunan Rasul atau belum? Jangan sampai kita  tertipu dengan air mata.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Wahidiyah Kurang Mengerti Arti Sebuah Tangis&lt;/h4&gt;Menangis dan tertawa merupakan salah satu bahasa universal untuk  mengungkapkan kesedihan dan bahagia, walaupun manusia tinggal di negara  yang berbeda-beda dan memiliki bahasa yang berbeda-beda pula, namun  bahasa duka dan bahagia mereka sama, yaitu tangis dan tawa. Namun  terkadang ada orang-orang yang menodai kesucian arti sebuah tangisan,  mereka bahagia tapi air mata mereka menetes, itulah air mata buaya,  sebagaimana tangisan saudara-saudara Nabi Yusuf. Setelah mereka berhasil  mencelakakan Yusuf, sore harinya mereka datang menemui sang ayahanda,  yaitu Nabi Ya'qub sambil menampakkan raut muka sedih dan menangis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;وجاءوا أباهم عشاء يبكون. قالوا ياءبانا إنا ذهبنا نستبق وتركنا يوسف عند  متاعنا فأكله الذئبصلى وما أنت بمؤمن لنا ولو كنا صادقين. وجاءوا على قميصه  بدم كذبج قال بل سولت لكم أنفسكم أمرا فصبر جميل والله المستعان على ما  تصفون.&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil  menangis. Mereka berkata : 'Wahai Ayah Kami, sesungguhnya kami pergi  berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami,  lau dia dimakan serigala, dan kamu sekali-kali tidak percaya kepada  kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar'. Mereka datang  membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub  berkata: 'sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan  (buruk) itu, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah  sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."&lt;/i&gt;  (QS. Yusuf : 16-18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua tangis itu baik, bahkan dari sekian banyak jenis tangis  ada tangis yang dilarang, seperti menangisi mayat seolah-olah tidak  terima dengan takdir Tuhan. Tangis yang demikian bukan sekedar tangis  kasih sayang seperti tangis Nabi ketika putra beliau sayyid Ibrahim  wafat, tetapi tangis yang melampaui batas, seolah-olah ingin mendemo  Tuhan, sambil berteriak-teriak histeris menyebut jasa-jasa sang mayat,  menampar pipi, menyobek-nyobek pakaian dan ekspresi kekecewaan yang  lain. Karena ketika tertimpa musibah, baik kematian atau yang lain, yang  harus kita lakukan adalah bersabar dan berserah diri pada keputusan  Allah. Ratap tangis yang berlebihan telah dilarang oleh Nabi, dalam  sebuah hadits beliau bersabda:&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn16"&gt;16&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;فإذا وجب فلا تبكين باكية&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Ketika kematian menjemput, maka perempuan yang menangis jangan  lagi menangis".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada juga jenis tangis yang dianjurkan seperti tangis  orang-orang yang merasa takut dengan murka Allah, menyesali atas  kenistaan dirinya karena telah banyak melakuakan dosa dan tangis-tangis  sejenisnya. Al-Qur'an dan al-Hadits seringkali menyampaikan pujian pada  orang-orang yang hatinya lembut dan mudah menitikkan air mata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;ويخرون للأذقان يبكون ويزيدهم خشوعا&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan  mereka bertambah khusyu'". (QS. Al-Isra' : 109)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;أفمن هذا الحديث تعجبون. وتضحكون ولاتبكون&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu  menertawakan dan tidak menangis?" (QS. An-Najm : 59-60)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa suatu hari Nabi meminta Ibnu  Mas'ud untuk membacakan al-Qur'an pada beliau. Karena Ibnu Mas'ud merasa  kurang pantas membacakan al-Qur'an pada Nabi lalu beliau berkata.  "Wahai Rasulullah! Apakah aku pantas membacakan al-Qur'an untukmu,  sedangkan al-Qur'an itu diturunkan kepadamu?". Nabi lantas bersabda,  "Aku ingin mendengarkan al-Qur'an dari orang lain". Ibnu Mas'ud kemudian  membacakan surat an-Nisa', dan ketika ia sampai pada ayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Maka bagaimanakah (halnya dengan orang kafir nanti), apabila  kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami  mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai  umatmu)."&lt;/i&gt; (QS. An-Nisa': 41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi tiba-tiba berkata, "Sudah! Sekarang sudah cukup!". Nabi lantas  pergi dan aku lihat kedua mata beliau menitikkan air mata.&lt;br /&gt;Dalam sebuah khutbahnya, Nabi juga pernah menyatakan, "Seandainya  kalian mengetahui apa yang telah aku ketahui, maka kalian akan sedikit  tersenyum dan banyak menangis". Mendengar khutbah itu, para sahabat  menutupi muka dan terdengar bunyi sengau tangis dari mereka.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn17"&gt;17&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya lagi adalah sabda Nabi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;إن هذا القرأن نزل بحزن, فإذا قرأتموه فابكوا, فإن لم تبكوا فتباكوا&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya al-Qur'an ini diturunkan dalam suasana sedih.  Ketika engkau membaca al-Qur'an maka menangislah, dan jika kalian tidak  bisa menangis maka berusahalah untuk menangis".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;عينان لا تمسهما النار : عين بكت من خشية الله, وعين باتت تحرس فى سبيل  الله&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Ada dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka; mata yang  menangis karena takut pada Allah dan mata yang sepanjang malam berjaga  untuk menegakkan agama Allah".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak Hadits-hadits lain yang menunjukkan keutamaan air  mata. Sering kita melihat orang meneteskan air mata di tengah melakukan  ritual ibadah. Orang-orang yang shaleh akan menangis ketika perasaan  takut kepada Allah bergejolak dalam hatinya. Sebagaimana Abu Sulaiman  pernah mengatakan, "Air mata timbul dari perasaan takut, sedangkan  perasaan timbul dari rindu dendam".&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn18"&gt;18&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Tangis penyesalan yang sebenarnya yaitu tangis yang mampu  menggerakkan hati kita untuk bangkit melakukan amal yang lebih baik.  Jika kita menyesali masa lalu, namun ternyata perilaku kita tidak ada  perubahan ke yang lebih baik, tidak berusaha untuk mengganti amal-amal  yang telah kita lakukan dan tidak berusaha melakukan ibadah yang harus  dilakukan hari ini dengan sebaik mungkin, maka tangisan itu &lt;i&gt;ghurur&lt;/i&gt;  (tipuan) belaka. &lt;br /&gt;Abu Sulaiman ad-Daroni pernah mengatakan, "Yang disebut tangis  bukanlah memeras mata, melainkan yang disebut tangis ialah meninggalkan  sesuatu yang sedang engkau tangisi (baca: maksiat)". Selanjutnya Abu  Sulaiman mengingatkan kita agar tidak mudah tertipu dengan air mata,  sebab saudara Nabi Yusuf juga menangis ketika mendatangi ayah mereka,  namun sebenarnya mereka bangga karena rencana mereka untuk menyingkirkan  Nabi Yusuf telah berhasil.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn19"&gt;19&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Sebab itulah, ketika Rabiah al-Adawiyah mendengar seorang lelaki  sedang mengatakan, "wa ahzanah! (aduhai sedihnya aku!)", lalu Rabiah  mengatakan, "Engkau tidak pantas berkata demikian, yang lebih pantas  engkau mengatakan, "Aduhai ucapanku wa ahzanah". Rabiah meneruskan  nasihatnya, "Jika engkau benar-henar sedih maka engkau tidak akan sempat  untuk bernafas."&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn20"&gt;20&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penjelasan di atas, air mata yang menunjukkan kesedihan  dapat kita bagi menjadi tiga kategori. Pertama air mata buaya, yaitu air  mata yang keluar dari orang-orang yang tidak berusaha memperbaiki amal  perbuatannya pada masa 1alu. Kedua air mata shodiqin, yaitu tangis yang  disertai dengan kesungguhan dan tidak ekstrim dalam beramal, serta  berusaha memanfaatkan waktu yang masih ada dengan sebaik mungkin untuk  mengganti kesalahan-kesalahan pada masa lalu. Ketiga air mata shodiqin  yang Iain, yaitu mereka yang menangis ketika waktu mereka terbuang  sia-sia, ketika mereka lalai, ketika mereka cenderung dengan kepentingan  pribadi dan cenderung untuk memenuhi syahwat.&lt;br /&gt;Air mata para &lt;i&gt;shiddiqin&lt;/i&gt; bukanlah hal yang tak berkesudahan,  sebab kesedihan itu akan hilang ketika mereka tidak lagi tergantung  dengan apa pun dan tidak ada lagi yang membuat hati mereka gundah.  Orang-orang yang &lt;i&gt;wushul,&lt;/i&gt; tidak akan pernah lagi merasakan  gelisah dan takut. Dalam al-Qur'an disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="arab" style="text-align: right;"&gt;ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada  kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati".&lt;/i&gt;  (QS. Yunus : 62)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penyebab dari kesedihan adalah rasa kehilangan sesuatu atau  sesuatu yang diharapkan tidak tercapai. Oleh karenanya orang-orang yang  telah mendapatkan Allah tidak akan pernah merasa kehilangan. Mereka  kemudian berucap:&lt;br /&gt;&lt;div class="arab"&gt;وقالوا الحمد لله الذي أذهب عن الحزن&lt;/div&gt;&lt;i&gt;"Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang Telah  menghilangkan duka cita dari kami."&lt;/i&gt; (QS. Fatir : 34)&lt;br /&gt;Dalam maqom ini air mata akan berhenti menetes, di surga tidak ada  lagi air mata.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn21"&gt;21&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kesedihan yang tersirat dalam air mata juga harus sampai  meresap dalam hati. Harus ada persesuaian antara lahir dan batin. Jika  anggota fisik kita menampakkan kesedihan, namun kesedihan itu sama  sekali tidak dirasakan oleh hati, maka hal tersebut merupakan khusu'nya  orang-orang munafik. Orang-orang seperti ini pernah ditegur oleh Umar  ra, yaitu ketika ia melihat orang yang berjalan sambil menundukkan  kepala. Umar ra kemudian melempar orang tersebut dengan susu dan  mengatakan, "Angkatlah kepalamu! Sesungguhnya khusu' itu berada di sini!  (sambil menunjuk ke arah hati beliau)".&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn22"&gt;22&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Itulah tangis kesedihan yang sebenarnya, tangis yang disertai dengan  rasa penyesalan, tidak ingin mengulang dosa-dosa masa lalu, dan  kesedihan tersebut meresap sampai ke dalam hati. Lalu pertanyaannya  sekarang adalah, bagaimana dengan air mata yang ditumpahkan secara masal  dan terorganisir sebagaimana yang dilakukan oleh Wahidiyah dalam &lt;i&gt;mujahadah  qubro?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mengatakan air mata itu keluar karena takut kepada Allah  maka kita berat untuk menerimanya, sebab seperti yang telah dijelaskan  di atas bahwa tangisan yang sebenarnya adalah tangisan yang mampu  merubah pelakunya menjadi lebih baik, tidak lagi melakukan maksiat  kepada Allah. Padahal sekarang kita dapat melihat dengan mata kita  sendiri bagaimana keadaaan orang-orang yang melakukan tangis secara  masal tersebut.&lt;br /&gt;Tanpa mereka sadari di tengah mereka meratap, mereka telah melakukan  maksiat yang sebenarnya tidak boleh dilakukan, yaitu berbaurnya  laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn23"&gt;23&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;  Da1am sebuah hadits Nabi pernah menyebutkan, "Aku tidak meninggalkan  fitnah yang lebih membahayakan bagi seorang lelaki dibandingkan dengan  para wanita". Da1am Hadits lain beliau bersabda, "Jauhkanlah antara  laki-laki dan wanita".&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn24"&gt;24&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Air mata yang ditumpahkan secara masal dan terorganisir sangat  berpotensi menimbulkan riya'. Dia ingin memperlihatkan pada orang lain  bahwa ia adalah orang yang khusyu' dan lembut hatinya. Ama1 yang  demikian inilah yang sangat dilarang oleh para ulama, bahkan Fudlail bin  Iyadl pernah mengatakan, "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya'  dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah  ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya".&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn25"&gt;25&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Para ulama sering kali menjelaskan bahwa tangis yang dilakukan ketika  sendiri lebih aman dari hal-hal yang menyebabkan amal kita menjadi  rusak, tidak ikhlas karena Allah. Salah satu pijakan mereka adalah  Hadits yang menjelaskan tentang tujuh orang yang akan mendapatkan tempat  berteduh ketika tiada lagi tempat berteduh selain dari Allah. Salah  satu dari ketujuh orang tersebut ialah orang yang mengingat Allah dalam  sepi, kemudian kedua matanya menitikkan air mata.&lt;br /&gt;Jika Anda ingin mengetahui bagaimana tanda orang-orang yang riya',  Anda bisa menyimak tiga ciri yang pernah disampaikan oleh Ali bin Abi  Thalib ra. Ciri-ciri tersebut ialah:&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn26"&gt;26&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;  &lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bermalas-malasan ketika sedang sendiri&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bergairah ketika sedang bersama dengan orang lain&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lebih banyak melakukan amal ketika mendapatkan pujian namun ketika  dicela dia jarang-jarang melakukan amal"&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sekarang mari kita coba menyimak bagaimana pentingnya menyembunyikan  air mata dan bagaimna yang dilakukan oleh para ulama ketika melihat  orang yang menangis dalam keramaian.&lt;br /&gt;Suatu ketika Abu Umamah al-Bahili melihat seorang sedang melakukan  Sujud dalam masjid sambil menangis. Abu Umamah kemudian memanggilnya dan  berkata, "Bagaimana engkau ini! Sebaiknya hal ini engkau lakukan saja  di rumahmu". Muhammad bin al-Mubarok ash-Shuwari juga pernah mengatakan,  "Tampakkanlah sikap diam pada malam hari, sebab hal itu lebih baik dari  pada menampakkan diam pada siang hari. Jika diam pada waktu siang  adalah untuk makhluk maka diam pada malam hari adalah untuk Tuhan  semesta Alam".&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn27"&gt;27&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Hubaib juga pernah bercerita, "Suatu ketika aku melihat  Muhammad bin Ka'ab sedang bercerita, kemudian tiba-tiba terdengar suara  seorang laki-laki sedang menangis. Muhammad bin Ka'ab lantas  menghentikan ceritanya dan berkata, " Siapa tadi yang menangis?"  Orang-orang dalam pertemuan itu menjawab, "Dia maula bani fulan".  Seolah-olah Muhammad bin Ka'ab tidak senang mendengar tangisan itu.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn28"&gt;28&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Itulah ulama-ulama terdahulu, mereka berusaha menyembuhkan tangisan  mereko dan bukan malah dipublikasikan. Mungkin kita perlu meniru  bagaimana cara mereka menutup-nutupi tangisan itu serapi mungkin agar  tidak diketahui oleh orang lain. Mungkin bisa dengan meniru cara Ayub.  Ketika menangis ia memegangi hidungnya dan berkata, "Terkadang penyakit  flu ini menyerang". Lantas ketika tangis itu kembali terasa  mendesak-desak dalam dada, ia berusaha untuk menenangkan tangis itu dan  kembali mengatakan, "Orang kalau sudah tua, biasanya sering meludah".&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn29"&gt;29&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;  Atau dengan cara Abi Sail. Saat membaca Hadits atau al-Quran biasanya  ia menangis, namun ketika tangis itu terasa ingin tumpah maka dengan  segera ia pura-pura tersenyum.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn30"&gt;30&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Para ulama tersebut lebih senang jika tangisan itu tidak diketahui  oleh siapa pun termasuk istri-isr\tri mereka. Diceritakan oleh Muhammad  bin Wasi', "Aku pernah melihat seorang suami yang tidur satu bantal  dengan istrinya. Ketika itu air mata sang suami itu mengalir membasahi  pipi, sedangkan sang istri tidak mengetahui bahwa suaminya telah  menangis. Aku juga pernah melihat seorang laki-laki pergi meninggalkan  shof dan air matanya menetes membasahi pipi, namun orang di sampingnya  tidak mengetahui keadaan ini". Muhammad bin Wasi' juga pernah bercerita  bahwa dia pernah melihat seorang lelaki menangis di sisi istrinya selama  dua puluh tahun, namun tangisan itu tidak pernah diketahui oleh sang  istri.&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn31"&gt;31&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Mereka lebih senang untuk menyembunyikan tangis tersebut dan kalau  perlu suara tangis itu pun mereka sembunyikan, seperti yang diceritakan  oleh Abdullah bin Isa, "Ayahku pernah bercerita bahwa suatu ketika Hasan  bin Abi Sinan mendatangi masjid Malik bin Dinar. Ketika Malik  berbicara, Hassan menangis sampai air matanya membasahi kedua telapak  tangannya, namun sama sekali tidak terdengar suara tangis darinya".&lt;sup class="footnote"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/wahidiyah-nov07.single?seemore=y#fn32"&gt;32&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;  Mereka berusaha untuk menyembunyikan tangis tersebut karena takut,  sebab kelak pada hari kiamat mereka akan ditanya apa maksud dari air  mata kalian? Karena riya'kah atau karena Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___________________________________________________________________ &lt;br /&gt;&lt;div class="footnote" id="fn1"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;i&gt;Ponpes Kedunglo Kediri  Memelihara Budaya Islam&lt;/i&gt;, Republika Online, 25 April 2003&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn2"&gt;&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; Jama'ah Perjuangan Wahidiyah, &lt;i&gt;Pedoman  Pokok-pokok Ajaran Wahidiyah,&lt;/i&gt; hlm. 48.&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn3"&gt;&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt; Ibid.&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn4"&gt;&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt; Abu l-Fida' Ismail bin Umar  bin Katsir al-Qurosyiy, &lt;i&gt;Tafsir al-Qur'anul adzim,&lt;/i&gt; vol. &lt;span class="caps"&gt;VI, &lt;/span&gt;hlm. 457, &lt;a href="http://www.qurancomplex.com/"&gt;http://www.qurancomplex.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn5"&gt;&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt; Syamsuddin al-Qurthubi, &lt;i&gt;Tafsir  al-Qurthubti,&lt;/i&gt; vol. 14, hlm. 232, &lt;a href="http://www.waqfeya.net/shamela"&gt;http://www.waqfeya.net/shamela&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn6"&gt;&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt; Wizarotul Auqof wa Syu'un  al-Islamiyah, &lt;i&gt;al-Mausu'ah al-Islamiyah,&lt;/i&gt; vol.27, hlm.236,  Maktabah Jamiul Fiqhil Islami.&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn7"&gt;&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt; Ibid, vol.27, hlm. 237-238&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn8"&gt;&lt;sup&gt;8&lt;/sup&gt; Syihabuddin Muhammad ibnu  Abdillah al-Husaini al-Alusi, &lt;i&gt;Ruhul Ma'ani fi Tafsiril Qur'an  al-Adzim was Sab'il Matsani,&lt;/i&gt; vol. &lt;span class="caps"&gt;XVI, &lt;/span&gt;hlm.  214, &lt;a href="http://www.altafsir.com/"&gt;http://www.altafsir.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn9"&gt;&lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt; Kata Hati Sang Tulisan, &lt;i&gt;Luforsa  yang Selalu tetap Berusaha tabah dalam menjalani hidup ini, Inginnya  Aku Mencintaimu, Ya Rasulullah&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn10"&gt;&lt;sup&gt;10&lt;/sup&gt; Syarofuddin Yahya an-Nawawi,  &lt;i&gt;Syarah an-Nawawi 'ala Muslim,&lt;/i&gt; vol. I, hlm. 124. &lt;a href="http://www.al-islam.com/"&gt;http://www.al-islam.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn11"&gt;&lt;sup&gt;11&lt;/sup&gt; Ibid.&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn12"&gt;&lt;sup&gt;12&lt;/sup&gt; Abu Hamid Al-Ghozaly, &lt;i&gt;Ihya'  Ulumud Dien,&lt;/i&gt; vol. &lt;span class="caps"&gt;III, &lt;/span&gt;hlm. 424, &lt;a href="http://www.alwarraq.com/"&gt;http://www.alwarraq.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn13"&gt;&lt;sup&gt;13&lt;/sup&gt; Ibnu Rojab, &lt;i&gt;Fathul Bari,&lt;/i&gt;  vol. I, hlm. 22, &lt;a href="http://dorar.net/"&gt;http://dorar.net&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn14"&gt;&lt;sup&gt;14&lt;/sup&gt; Ibnu Ajibah, &lt;i&gt;Iqodzul  Himam,&lt;/i&gt; vol. I, hl. 129, &lt;a href="http://www.alwarraq.com/"&gt;http://www.alwarraq.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn15"&gt;&lt;sup&gt;15&lt;/sup&gt; Ibnu Rojab, op. cit., vol.  I, hl. 24-25, &lt;a href="http://dorar.net/"&gt;http://dorar.net&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn16"&gt;&lt;sup&gt;16&lt;/sup&gt; Syarofuddin Yahya an-Nawawi,  &lt;i&gt;al-Majmu',&lt;/i&gt; vol. V, hlm. 307, &lt;a href="http://www.waqfeya.net/shamela"&gt;http://www.waqfeya.net/shamela&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn17"&gt;&lt;sup&gt;17&lt;/sup&gt; Syihabuddin Yahya an-Nawawi,  &lt;i&gt;Riyadus Sholihin,&lt;/i&gt; vol. I, hlm. 66-67, &lt;a href="http://www.alwarraq.com/"&gt;http://www.alwarraq.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn18"&gt;&lt;sup&gt;18&lt;/sup&gt; Abu Hamid al-Ghozaly, op.  ct. vol. &lt;span class="caps"&gt;III, &lt;/span&gt;hlm. 263&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn19"&gt;&lt;sup&gt;19&lt;/sup&gt; Ibnu Ajibah, op. ct., vol.  H, hlm. 91&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn20"&gt;&lt;sup&gt;20&lt;/sup&gt; Ibid.&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn21"&gt;&lt;sup&gt;21&lt;/sup&gt; Ibid.&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn22"&gt;&lt;sup&gt;22&lt;/sup&gt; Abu Abdillah Muhammad bin  Muhammad bin Muhammad al-Abdari, &lt;i&gt;al-Madkhol,&lt;/i&gt; vol. I, hlm. 74, &lt;a href="http://www.al-islam.com/"&gt;http://www.al-islam.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn23"&gt;&lt;sup&gt;23&lt;/sup&gt; Abi Bakar, Sayyid Bakri ibn  Sayyid Muhammad Syatho, &lt;i&gt;I'anathut Tholibin,&lt;/i&gt; vol. I, hlm. 313, &lt;a href="http://www.waqfeya.net/shamela"&gt;http://www.waqfeya.net/shamela&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn24"&gt;&lt;sup&gt;24&lt;/sup&gt; Ibnu Qoyyim al-Juziyah, &lt;i&gt;ath-Thuruq  al-Hukmiyah,&lt;/i&gt; hlm. 239, Jami'ul Fiqhil Islami&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn25"&gt;&lt;sup&gt;25&lt;/sup&gt; Syarofuddin Yahya an-Nawawi,  &lt;i&gt;Adzkar,&lt;/i&gt; vol. I, hlm. 7, &lt;a href="http://www.waqfeya.net/shamela"&gt;http://www.waqfeya.net/shamela&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn26"&gt;&lt;sup&gt;26&lt;/sup&gt; Adz-Dzhahabi, &lt;i&gt;al-kabair,&lt;/i&gt;  vol. I, hlm. 53, &lt;a href="http://www.alwaruq.com/"&gt;http://www.alwaruq.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn27"&gt;&lt;sup&gt;27&lt;/sup&gt; Ibid.&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn28"&gt;&lt;sup&gt;28&lt;/sup&gt; Ibnu Abi Dunya, ar-Riqoh wal  Buka', vol. I, hlm. 159, &lt;a href="http://www.alsunnah.com/"&gt;http://www.alsunnah.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn29"&gt;&lt;sup&gt;29&lt;/sup&gt; Ibid, vol. I, hlm. 161&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn30"&gt;&lt;sup&gt;30&lt;/sup&gt; Ibid, vol. I, hlm. 163&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn31"&gt;&lt;sup&gt;31&lt;/sup&gt; Ibid, vol. I, hlm. 176&lt;/div&gt;&lt;div class="footnote" id="fn32"&gt;&lt;sup&gt;32&lt;/sup&gt; Ibid, vol. I, hlm. 176&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7952077414346619986-4770416380117114207?l=bulletinarrisaalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/feeds/4770416380117114207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/penjelasan-tentang-wahidiyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/4770416380117114207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/4770416380117114207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/penjelasan-tentang-wahidiyah.html' title='Penjelasan tentang Wahidiyah'/><author><name>Bulletin Ar-Risaalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='16' src='http://4.bp.blogspot.com/_eaQoFojG5Uw/S_qCG0vgVSI/AAAAAAAAAAM/IzR7PqANidY/S220/logo+bulletin+copy.psd.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7952077414346619986.post-9006207767466786811</id><published>2010-05-27T20:20:00.001+07:00</published><updated>2010-05-27T20:54:31.127+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Aswaja NU'/><title type='text'>Riwayat Perjuangan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama'</title><content type='html'>&lt;h3&gt;Jam'iyyah Nahdlatul Ulama' Lahir&lt;/h3&gt;Setelah kaum Wahabi melalui pemberontakan yang mereka lakukan pada  tahun 1925 berhasil menguasai seluruh daerah Hejaz, maka mereka mengubah  nama negeri Hejaz dengan nama Saudi Arabia. Dengan dukungan sepenuhnya  dari raja mereka yang pertama, Ibnu Sa'ud, mereka mengadakan  perombakan-perombakan secara radikal terhadap tata cara kehidupan  masyarakat. Tata kehidupan keagamaan, mereka sesuaikan dengan tata cara  yang dianut oleh golongan Wahabi, yang antara lain adalah ingin  melenyapkan semua batu nisan kuburan dan meratakannya dengan tanah.&lt;br /&gt;Keadaan tersebut sangat memprihatinkan bangsa Indonesia yang  banyak  bermukim di negeri Hejaz, yang menganut paham Ahlus Sunnah Wal  Jama'ah,dengan memilih salah satu dari empat madzhab. Mereka sangat&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;terkekang dan tidak mempunyai kebebasan lagi dalam menjalankan ibadah  sesuai dengan paham yang mereka anut. Hal ini dianggap oleh bangsa  Indonesia sebagai suatu persoalan yang besar.&lt;/div&gt;Persoalan tersebut oleh bangsa Indonesia tidak  dianggap sebagai  persoalan nasional bangsa Arab saja, melainkan dianggap sebagai  persoalan internasional, karena menyangkut kepentingan ummat Islam di  seluruh dunia. Oleh karena itu, para tokoh ulama di Jawa Timur  menganggap penting untuk membahas persoalan tersebut. Dipelopori oleh  alm. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Wahab Hasbullah dan almarhum  hadlratus syaikh &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Hasyim Asy'ari,  diadakanlah pertemuan di langgar H. Musa Kertopaten Surabaya. Pada  pertemuan tersebut dilahirkan satu organisasi yang diberi nama  &lt;b&gt;Comite  Hejaz&lt;/b&gt;, yang anggotanya terdiri dari para tokoh tua dan para  tokoh muda.&lt;br /&gt;Semula &lt;b&gt;Comite Hejaz&lt;/b&gt; bermaksud akan mengirimkan   utusan  ke  tanah  Hejaz untuk menghadap raja Ibnu Sa'ud. Akan tetapi  oleh karena satu  dan lain hal pengiriman utusan ditangguhkan, dan  sebagai gantinya hanya mengirimkan telegram kepada raja Ibnu Sa'ud.&lt;br /&gt;Pada tanggal 31 Januari 1926 M. atau 16 Rajab 1345 H, hari Kamis, di  lawang Agung Ampel Surabaya, diadakan pertemuan yang disponsori  oleh  Comite Hejaz sebagai realisasi dari gagasan yang timbul  pada pertemuan  sebelumnya. Pada pertemuan ini, lahirlah organisasi baru yang diberi  nama "JAM'IYYAH &lt;span class="caps"&gt;NAHDLATUL ULAMA&lt;/span&gt;" dengan  susunan pengurus HB &lt;b&gt;(Hoof Bestuur)&lt;/b&gt; sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellspacing="0" class="clearBorder"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Ra'is Akbar&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Hadlratus  Syaikh &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Hasyim Asy'ari&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Wakil  Ra'is&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Said bin Shalih&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Katib  Awwal&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Wahab  Hasbullah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Katib Tsani&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Mas H. Alwi  Abdul Aziz&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;A'wan&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;1. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Halim (Leuwimunding)&lt;br /&gt;2. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Ridlwan Surabaya (pencipta lambang NU)&lt;br /&gt;3. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Bisri Sansuri, Denanyar, Jombang. &lt;br /&gt;4. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Said.&lt;br /&gt;5. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdullah Ubaid, Surabaya.&lt;br /&gt;6. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Nahrawi Thahir, Malang.&lt;br /&gt;7. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Amin, Surabaya.&lt;br /&gt;8. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Kholil Masyhuri, Soditan, Lasem, Jateng&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Musytasyar&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;1.  &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Asnawi, Kudus&lt;br /&gt;2. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Ridlwan, Semarang.&lt;br /&gt;3. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Nawawi, Sidogiri, Pasuruan.&lt;br /&gt;4. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Doro Muntoho, Bangkalan.&lt;br /&gt;5. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Ahmad Ghonaim Al Misri.&lt;br /&gt;6. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Hambali, Kudus.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="3"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Presiden&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;H. Hasan Gipo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Penulis&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;H.  Sadik alias Sugeng Yudodiwiryo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Bendahara&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;H.  Burhan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Komisaris&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;H. Saleh Syamil&lt;br /&gt;H. Ihsan&lt;br /&gt;H. Nawawi&lt;br /&gt;H. Dahlan Abd. Qohar&lt;br /&gt;Mas Mangun&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Kehadiran Jam'iyyah Nahdlatul Ulama' dimaksudkan sebagai suatu  organisasi yang dapat mempertahankan ajaran  Ahlus Sunnah Wal Jama'ah  dari segala macam intervensi (serangan)  golongan-golongan Islam di luar  Ahlus Sunnah Wal Jama'ah di Indonesia pada khususnya dan di seluruh  dunia  pada umumnya; dan bukan hanya sekedar untuk menghadapi golongan  Wahabi saja sebagaimana &lt;b&gt;Comite Hejaz&lt;/b&gt;. Disamping itu  juga dimaksudkan sebaga organisasi yang mampu memberikan reaksi terhadap  tekanan-tekanan yang diberikan oleh Pemerintah Penjajah Belanda kepada  ummat Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;1926-1929&lt;/h3&gt;Setelah Jam'iyyah Nahdlatul Ulama' lahir pada tanggal 31 Januari 1926  M, maka Comite Hejaz dibubarkan.  Sedangkan semua tugas Comite Hejaz  yang belum dilaksanakan, dilimpahkan seluruhnya kepada Jam'iyyah &lt;span class="caps"&gt;NU.&lt;/span&gt; Alhamdulillah, meskipun Jam'iyyah NU baru saja  lahir, ternyata telah mampu melaksanakan tugas-tugas yang berat; baik  tugas yang dilimpahkan oleh Comite Hejaz, maupun tugas yang diharapkan  oleh ummat Islam kepadanya. Tugas-tugas tersebut antara lain:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pada bulan Februari 1926 M. setelah berhasil menyelenggarakan  kongres Al Islam di Bandung yang dihadiri oleh  tokoh-tokoh  organisasi  Islam  selain &lt;span class="caps"&gt;NU, &lt;/span&gt;seperti: &lt;span class="caps"&gt;PSII,&lt;/span&gt;  Muhammadiyah dan lain-lainnya. Diantara keputusan kongres tersebut  adalah mengirimkan dua orang utusan, yaitu: &lt;span class="caps"&gt;H.U&lt;/span&gt;mar  Said Tjokroaminoto dari &lt;span class="caps"&gt;PSII &lt;/span&gt;dan &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Mas Mansur dari Muhammadiyah, ke Muktamar Alam  Islam yang diselenggarakan oleh raja Ibnu Saud (raja Saudi Arabia) di  Makkah. Disamping itu, Jam'iyyah NU juga mengirimkan utusan yang khusus  membawa amanat &lt;span class="caps"&gt;NU, &lt;/span&gt;yaitu: &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt;  Abdul Wahab Hasbullah dan &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Ahmad Ghonaim  Al Misri. Alhamdulillah kedua  utusan ini berhasil dengan baik.&lt;br /&gt;Kedua beliau ini pulang dengan membawa surat dari raja Sa'ud ke   Indonesia tertanggal 28 Dzul Hijjah 1347 H./ 13 Juni 1928 &lt;span class="caps"&gt;M., &lt;/span&gt;nomor: 2082, yang isinya antara lain menyatakan   bahwa raja Ibnu Sa'ud menjanjikan akan membuat satu ketetapan yang  menjamin setiap  ummat  Islam  untuk menjalankan Agama Islam menurut  paham yang dianutnya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sesuai dengan yang diharapkan oleh bangsa Indonesia, maka  sejak lahir, Jam'iyyah NU telah berani memberikan reaksi secara aktif  terhadap rencana pemerintah Penjajah Belanda mengenai: &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ordonansi Perkawinan atau Undang-Undang Perkawinan, yang isinya  mengkombinasikan hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum yang dibawa  Belanda dari Eropa.   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelimpahan pembagian waris ke Pengadilan Negeri (Nationale Raad)  dengan menggunakan ketentuan hukum di luar Islam. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Persoalan pajak rodi, yaitu pajak yang dikenakan kepada warga negara   Indonesia yang bermukim di luar negeri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dan lain-lainnya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Walhasil, meskipun NU tidak pernah menyatakan sebagai Partai Politik,  namun yang ditangani adalah soal-soal politik.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;1929-1942&lt;/h3&gt;Pada tanggal 5 September 1929  Jam'iyyah NU mengajukan  Anggaran  Dasar &lt;b&gt;(Statuten)&lt;/b&gt; dan Anggaran Rumah Tangga  (Huishoudelijk Reglemen) yang telah disusun kepada Pemerintah Hindia  Belanda. Dan pada tanggal 6 Februari 1930 mendapat pengesahan dari  Pemerintah Hindia Belanda sebagai organisasi resmi dengan nama:  "PERKUMPULAN &lt;span class="caps"&gt;NAHDLATUL ULAMA&lt;/span&gt;"  untuk jangka  waktu 29 tahun terhitung sejak berdiri, yaitu: 31 Januari 1926.&lt;br /&gt;Hoofbestuur (Pengurus Besar) Nahdlatul Ulama' juga berusaha membuat  lambang NU dengan jalan meminta kepada para Kyai untuk melakukan  istikharah. Dan ternyata Almarhum &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Ridlwan  Abdullah, Bubutan Surabaya berhasil. Dalam mimpi, beliau melihat gambar  lambang itu  secara lengkap seperti lambang yang sekarang; tanpa  mengetahui makna simbol-simbol yang terdapat dalam lambang tersebut  satu-persatu.&lt;br /&gt;Setelah berdiri secara resmi, Nahdlatul Ulama'  mendapat  sambutan  dari seluruh masyarakat Indonesia yang sebagian besar berhaluan salah  satu dari madzhab empat. Sehingga dalam waktu yang relatif singkat, 4  sampai 5 bulan, sudah terbentuk 35 cabang. Hal ini disebabkan oleh  beberapa faktor, yang antara lain:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jam'iyyah Nahdlatul Ulama' dipimpin oleh para ulama' yang menjadi  guru dari para kyai yang tersebar di seluruh Nusantara, khususnya  Hadlratus Syaikh  &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Hasyim Asy'ari.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kesadaran ummat Islam Indonesia akan keperluan organisasi Islam  sebagai tempat menyalurkan aspirasi dan sebagai kekuatan sosial yang  tangguh dalam menghadapi tantangan dari luar.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sebagai organisasi sosial  yang  harus  menangani  semua  kepentingan  masyarakat, Nahdlatul Ulama' memandang sangat perlu untuk membentuk  kader-kader yang terdiri dari generasi muda yang sanggup melaksanakan  keputusan-keputusan yang telah diambil oleh &lt;span class="caps"&gt;NU.&lt;/span&gt;  Untuk itu, pada  tanggal 12 Februari 1938, atas prakarsa &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Wahid Hasyim selaku konsul Jawa Timur,  diselenggarakan konferensi Daerah Jawa Timur yang  menelorkan keputusan  untuk menyelenggarakan pendidikan formal,  yaitu   mendirikan  madrasah-madrasah, disamping sistem pendidikan pondok pesantren.  Madrasah-madrasah yang didirikan itu terdiri dari dua macam, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Madrasah Umum, yang terdiri dari: &lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Madrasah Awwaliyah, dengan masa belajar 2 tahun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Madrasah Ibtidaiyyah, dengan masa belajar 3 tahun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Madrasah Tsanawiyyah, dengan masa belajar 3 tahun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Madrasah Mu'allimin Wustha, dengan masa belajar 2 tahun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Madrasah Mu'allimin 'Ulya, dengan masa belajar 3 tahun.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Madrasah Kejuruan (Ikhtishashiyyah), yang terdiri dari: &lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Madrasah Qudlat (Hukum).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Madrasah Tijarah (Dagang).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Madrasah Nijarah (Pertukangan).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Madrasah Zira'ah (Pertanian).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Madrasah Fuqara' (untuk orang-orang fakir).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Madrasah Khusus.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;h3&gt;Kelahiran &lt;b&gt;Al Majlis Al Islamiy Al A'la&lt;/b&gt; (MIAI)&lt;/h3&gt;Pada masa penjajahan Belanda, ummat Islam Indonesia selalu mendapat  tekanan-tekanan dari pemerintah penjajah Belanda, disamping  penghinaan-penghinaan yang dilakukan oleh golongan di luar Islam kepada  agama Islam, Al Qur'an dan Nabi Besar Muhammad saw.. Untuk menghadapi  hal tersebut, maka Nahdlatul Ulama' memandang perlu untuk mempersatukan  seluruh potensi ummat Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;Pada tahun 1937 Nahdlatul Ulama' telah memelopori persatuan  ummat  Islam di seluruh Indonesia dengan membidani kelahiran dari  Al Majlis al  Islamiy al A'la Indonesia (MIAI), dengan  susunan  dewan sebagai  berikut:&lt;br /&gt;&lt;table cellspacing="0" class="clearBorder"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Ketua Dewan&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Wahid Hasyim, dari NU&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Wakil  Ketua Dewan&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;W. Wondoamiseno, dari &lt;span class="caps"&gt;PSII&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Sekretaris  (ketua)&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;H. Fakih Usman, dari Muhammadiyah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Penulis&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span class="caps"&gt;S.A.&lt;/span&gt; Bahresy, dari &lt;span class="caps"&gt;PAI&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Bendahara&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;1.  S. Umar Hubeis, dari Al Irsyad&lt;br /&gt;2. &lt;span class="caps"&gt;K.H.&lt;/span&gt; Mas Mansur, dari Muhammadiyah&lt;br /&gt;3. Dr. Sukiman, dari &lt;span class="caps"&gt;PII&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Adapun tujuan perjuangan yang akan dicapai oleh &lt;span class="caps"&gt;MIAI  &lt;/span&gt;antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menggabungkan segala perhimpunan ummat Islam Indonesia untuk bekerja  bersama-sama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berusaha mengadakan perdamaian apabila timbul pertikaian di antara   golongan ummat Islam Indonesia, baik yang telah tergabung dalam &lt;span class="caps"&gt;MIAI  &lt;/span&gt;maupun belum.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merapatkan hubungan antara ummat Islam Indonesia dengan ummat Islam   di luar negeri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdaya upaya untuk keselamatan agama Islam dan ummatnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membangun Konggres Muslimin Indonesia (KMI) sesuai dengan pasal 1  Anggaran Dasar &lt;span class="caps"&gt;MIAI.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;h3&gt;1942-1952 &lt;/h3&gt;&lt;h4&gt;Kelahiran Majlis Syura Muslimin Indonesia (MASYUMI)&lt;/h4&gt;Pada masa penjajahan Jepang, &lt;span class="caps"&gt;MIAI &lt;/span&gt;masih  diberi hak hidup oleh Pemerintah Penjajah Jepang. Malah suara &lt;span class="caps"&gt;MIAI &lt;/span&gt;tetap diijinkan untuk terbit selama isinya  mengenai hal-hal berikut:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menyadarkan rakyat atas keimanan yang sebenar-benarnya dan  berusaha  dengan sekuat tenaga bagi kemakmuran bersama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penerangan-penerangan dan tafsir Al Qur'an.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Khutbah-khutbah dan pidato-pidato keagamaan yang penting  dari   para ulama' atau kyai yang terkenal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberi keterangan kepada rakyat, bagaimana  daya  upaya Dai Nippon   yang sesungguhnya untuk membangunkan Asia Timur Raya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memperkenalkan kebudayaan Dai Nippon dengan jalan berangsur-angsur.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Akan tetapi setelah Letnan Jendral Okazaki selaku Gunseikan pada  tanggal 7 Desember 1942 berpidato di hadapan para ulama' dari  seluruh  Indonesia yang dipanggil ke istana Gambir Jakarta, yang isinya antara  lain: Akan memberikan kedudukan yang baik kepada pemuda-pemuda  yang   telah  dididik  secara  agama,  tanpa membeda-bedakan dengan golongan  lain asal saja memiliki kecakapan yang cukup dengan jabatan yang akan   dipegangnya, maka sekali lagi Nahdlatul Ulama' tampil ke depan untuk  memelopori kalahiran dari Majlis Syura Muslimin Indonesia (MASYUMI)  sebagai organisasi yang dianggap mampu membereskan segala macam  persoalan kemasyarakatan; baik yang bersifat sosial maupun yang bersifat  politik, agar keinginan untuk menuju Indonesia Merdeka, bebas dari  segala  macam penjajahan segera dapat dilaksanakan. Dan setelah Masyumi  lahir, maka &lt;span class="caps"&gt;MIAI &lt;/span&gt;pun dibubarkan.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Pembentukan laskar rakyat&lt;/h4&gt;Pemerintah Penjajah Jepang memang mempunyai taktik yang lain dengan  Penjajah Belanda terhadap para ulama' di Indonesia. Dari informasi yang  diberikan oleh para senior yang dikirim oleh pemerintah Jepang ke  Indonesia jauh sebelum masuk ke Indonesia (mereka menyamar sebagai  pedagang kelontong dan lain sebagainya yang keluar masuk kampung),  penjajah Jepang telah mengetahui bahwa bangsa Indonesia yang mayoritas  beragama Islam serta menganut paham Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, semuanya  ta'at, patuh dan tunduk kepada komando yang diberikan oleh para ulama'.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, penjajah Jepang ingin merangkul para ulama' untuk  memukul bangsa Indonesia sendiri. Itulah sebabnya, maka  dengan   berbagai macam dalih dan alasan, penjajah Jepang meminta kepada para   ulama' agar memerintahkan kepada para pemuda untuk memasuki dinas   militer,  seperti Peta, Heiho dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Sedang Nahdlatul Ulama' sendiri mempunyai maksud lain, yaitu bahwa  untuk mencapai kemerdekaan Indonesia dan mempertahankan kemerdekaan,  mutlak diperlukan pemuda-pemuda yang terampil mempergunakan senjata dan  berperang. Untuk itu Nahdlatul Ulama' berusaha memasukkan pemuda-pemuda   Ansor dalam dinas Peta dan Hisbullah.  Sedangkan  untuk  kalangan kaum  tua, Nahdlatul Ulama' tidak melupakan untuk membentuk Barisan Sabilillah    dengan &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Masykur sebagai panglimanya;    meskipun  sebenarnya    selama penjajahan Jepang NU telah dibubarkan.  Jadi peran aktif  NU selama penjajahan  Jepang adalah menggunakan wadah &lt;span class="caps"&gt;MIAI &lt;/span&gt;dan kemudian &lt;span class="caps"&gt;MASYUMI. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Masyumi menjelma sebagai Partai Politik&lt;/h4&gt;Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia,  Nahdlatul  Ulama'  yang  dibubarkan oleh penjajah Jepang bangkit kembali dan mengajak kepada  seluruh ummat Islam Indonesia untuk membela dan mempertahankan tanah air  yang baru saja merdeka dari serangan kaum penjajah yang ingin merebut   kembali dan merampas kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;Rais Akbar dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama', Hadlratus  Syaikh &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Hasyim Asy'ari, mengeluarkana fatwa bahwa  mempertahankan dan membela kemerdekaan Indonesia adalah wajib hukumnya.&lt;br /&gt;Seruan dan ajakan NU serta fatwa dari Rais Akbar ini mendapat  tanggapan yang positif dari ummat Islam; dan bahkan berhasil  menyentuh   hati nurani arek-arek Surabaya, sehingga mereka tidak  mau ketinggalan  untuk memberikan andil yang tidak kecil artinya dalam peristiwa 10  November '45 &lt;br /&gt;Pengurus Besar NU hampir sebulan lamanya mencari jalan keluar untuk  menanggulangi bahaya yang mengancam dari fihak penjajah  yang  akan  menyengkeramkan kembali kuku-kuku penjajahannya di Indonesia. &lt;br /&gt;Kelambanan NU dalam hal tersebut disebabkan karena pada masa  penjajahan Jepang NU hanya membatasi diri dalam pekerjaan-pekerjaan yang  bersifat agamis,sedang hal-hal yang menyangkut perjuangan  kemerdekaan  atau berkaitan dengan urusan pemerintahan selalu disalurkan dengan nama  Masyumi.&lt;br /&gt;Atas prakarsa Masyumi, di bawah pimpinan &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt;  Abdul  Wahid Hasyim, maka Masyumi yang pada masa penjajahan Jepang  merupakan federasi dari organisasi-organisasi Islam, mengadakan  konggresnya di Yogyakarta pada tanggal 7 November 1945.  Pada konggres  tersebut telah disetujui dengan suara bulat untuk meningkatkan Masyumi  dari Badan Federasi menjadi satu-satunya Partai Politik Islam di  Indonesia dengan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama' sebagai tulang punggungnya.   Adapun susunan Dewan Pimpinan Partai Masyumi secara lengkap adalah  sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellspacing="0" class="clearBorder"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;th colspan="3"&gt;Majlis  Syura (Dewan Partai)&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Ketua Umum&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Hadlratus  Syaikh &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Hasyim Asy'ari&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Ketua  Muda I&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Ki Bagus Hadikusuma&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Ketua  Muda II&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Wahid  Hasyim&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Ketua Muda &lt;span class="caps"&gt;III&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Mr.  Kasman Singodimejo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Anggota&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;1. &lt;span class="caps"&gt;RHM.&lt;/span&gt; Adnan.&lt;br /&gt;2. H. Agus Salim.&lt;br /&gt;3. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Wahab Hasbullah.&lt;br /&gt;4. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Abdul Halim.&lt;br /&gt;5. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Sanusi.&lt;br /&gt;6. Syekh Jamil Jambek&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;th colspan="3"&gt;Pengurus Besar&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Ketua&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Dr.  Sukirman&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Ketua Muda I&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Abi Kusno  Tjokrosuyono&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Ketua Muda II&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Wali Al  Fatah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Sekretaris I&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Harsono  Tjokreoaminoto&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Sekretaris II&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Prawoto  Mangkusasmito&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Bendahara&lt;/td&gt;&lt;td&gt;:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Mr. &lt;span class="caps"&gt;R.A.&lt;/span&gt; Kasmat&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;h4&gt;Nahdlatul Ulama Memisahkan Diri Dari Masyumi&lt;/h4&gt;Perpecahan yang terjadi dalam tubuh Partai Masyumi benar-benar di  luar keinginan Nahdlatul Ulama'. Sebab Nahdlatul Ulama' selalu menyadari  betapa pentingnya arti persatuan ummat Islam untuk mencapai  cita-citanya. Itulah yang mendorong Nahdlatul Ulama' yang dimotori oleh &lt;span class="caps"&gt;KH.A&lt;/span&gt;bdul Wahid Hasyim untuk mendirikan &lt;span class="caps"&gt;MIAI, MASYUMI, &lt;/span&gt;dan akhirnya mengorbitkannya menjadi  Partai Politik. Bahkan Nahdlatul Ulama' adalah  modal  pokok  bagi  existensi Masyumi, telah dibuktikan oleh Nahdlatul Ulama' pada  konggresnya di Purwokerto yang memerintahkan semua warga NU untuk   beramai-ramai menjadi anggauta Masyumi. Bahkan pemuda-pemuda Islam yang  tergabung dalam Ansor Nahdlatul Ulama' juga diperintahkan untuk terjun  secara  aktif dalam &lt;span class="caps"&gt;GPII &lt;/span&gt;(Gabungan Pemuda  Islam Indonesia).&lt;br /&gt;Akan tetapi apa yang hendak dikata, beberapa oknum  dalam  Partai  Masyumi berusaha dengan sekuat tenaga untuk menendang NU keluar dari  Masyumi. Mereka beranggapan bahwa Majlis Syura  yang mempunyai kekuasaan  tertinggi dalam Masyumi sangat menyulitkan gerak  langkah  mereka dalam  menyelesaikan persoalan-persoalan yang bersifat politis. Apalagi segala  sesuatu persoalan harus diketahui / disetujui oleh Majlis Syura, mereka  rasakan sangat menghambat kecepatan untuk bertindak. Dan mereka tidak  mempunyai kebebasan untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan  politik. Akhirnya ketegangan hubungan antara ulama'/kyai dengan  golongan intelek yang dianggap sebagai para petualang yang berkedok  agama semakin parah. Karena keadaan semacam itu, maka para pemimpin &lt;span class="caps"&gt;PSII   &lt;/span&gt;sudah tidak dapat menahan diri lagi. Mereka  mengundurkan diri dari Masyumi dan aktif kembali pada organisasinya;  sampai kemudian &lt;span class="caps"&gt;PSII &lt;/span&gt;menjadi partai. &lt;br /&gt;Pengunduran diri &lt;span class="caps"&gt;PSII &lt;/span&gt;tersebut oleh  pemimpin-pemimpin Masyumi masih dianggap biasa saja. Bahkan pada  muktamar Partai Masyumi ke-IV di Yogyakarta yang berlangsung pada  tanggal 15 - 19 Desember 1949,  telah diputuskan perubahan Anggaran  Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Majlis Syura yang semula menjadi dewan  yang tertinggi diubah  menjadi Penasihat yang tidak mempunyai hak veto;  dan nasihatnya sendiri tidak harus dilaksanakan.&lt;br /&gt;Sikap Masyumi yang telah merendahkan derajat para ulama' tersebut   dapat ditolelir oleh warga Nahdlatul Ulama'. Namun &lt;span class="caps"&gt;PBNU  &lt;/span&gt;masih berusaha keras untuk memperhatikan persatuan ummat Islam.  Nahdlatul Ulama' meminta kepada pimpinan-pimpinan Masyumi agar  organisasi ini dikembalikan menjadi Federasi Organisasi-Organisasi   Islam,  sehingga  tidak menyampuri urusan rumah tangga dari  masing-masing organisasi yang bergabung di dalamnya. Namun permintaan  ini tidak digubris, sehingga  memaksa Nahdlatul Ulama' untuk mengambil  keputusan pada muktamar NU di Palembang, tanggal: 28 April s/d 1 Mei  1952 untuk keluar dari Masyumi, berdiri sendiri dan menjadi Partai.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Nahdlatul Ulama' membentuk Liga Muslimin&lt;/h4&gt;Setelah Nahdlatul Ulama' keluar dari Masyumi, Jam'iyyah NU yang   sudah menjadi Partai Politik ternyata masih gandrung pada persatuan   ummat Islam Indonesia. Untuk itu Nahdlatul Ulama' mengadakan kontak  dengan &lt;span class="caps"&gt;PSII &lt;/span&gt;dan &lt;span class="caps"&gt;PERTI &lt;/span&gt;membentuk  sebuah badan yang berbentuk federasi dengan tujuan untuk membentuk  masyarakat Islamiyah yang sesuai dengan hukum-hukum Allah dan sunnah  Rasulullah saw.  Gagasan NU ini mendapat tanggapan yang positif dari &lt;span class="caps"&gt;PSII &lt;/span&gt;dan &lt;span class="caps"&gt;PERTI, &lt;/span&gt;sehingga  pada tanggal 30 Agustus 1952 diakan pertemuan yang mengambil tempat di  gedung Parlemen RI di Jakarta, lahirlah Liga Muslimin Indonesia  yang  anggautanya terdiri dari  Nahdlatul Ulama', &lt;span class="caps"&gt;PSII,  PERTI &lt;/span&gt;dan Darud Dakwah Wal Irsyad.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Dekade 1965&lt;/h3&gt;Selama Nahdlatul Ulama' menjadi Partai Islam, dalam gerak langkah nya  mengalami pasang naik dan juga ada surutnya. Saat kabut hitam  melingkupi awan putih wilayah nusantara pada tanggal 30 September 1965,  kepeloporan Nahdlatul Ulama' muncul dan mampu  mengimbangi kekuatan anti  Tuhan yang menamakan dirinya &lt;span class="caps"&gt;PKI &lt;/span&gt;(Partai  Komunis Indonesia). Sikap Nahdlatul Ulama' pada saat itu betul-betul  sempat  membuat kejutan pada organisasi-organisasi selain &lt;span class="caps"&gt;NU.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan Nahdlatul Ulama' dalam menumbangkan &lt;span class="caps"&gt;PKI  &lt;/span&gt;dapat diakui oleh semua fihak. Dan hal ini menambah kepercayaan   Pemerintah  terhadap Nahdlatul Ulama'. Nahdlatul Ulama' sebagai Partai  Politik sudah membuat kagum dan dikenal serta disegani oleh setiap orang  di kawasan Indonesia, bahkan oleh dunia internasional. Apalagi mampu  menumbangkan dan menumpas pemberontakan Partai Komunis yang belum pernah  dapat ditumpas oleh negara yang manapun di seluruh dunia. Sehingga  dengan demikian, Nahdlatul Ulama' dihadapkan kepada  permasalahan-permasalahan yang sangat komplek dengan berbagai  tetek-bengeknya. Namun Nahdlatul Ulama' sendiri dalam hal rencana  perjuangannya yang terperinci, mengalami  pembauran kepentingan partai  dengan kepentingan pribadi dari para pimpinannya. Oleh sebab itu, pada  sekitar tahun 1967, Nahdlatul Ulama' yang sudah berada di puncak mulai  menurun. Hal ini disebabkan antara lain oleh pergeseran  tata-nilai,  munculnya tokoh-tokoh baru, ketiadaan generasi penerus dan lain  sebagainya.&lt;br /&gt;Pergeseran tata-nilai ini terjadi di saat Nahdlatul Ulama' menghadapi  Pemilihan Umum tahun 1955. Nahdlatul Ulama' harus mempunyai anggauta  secara realita, terdaftar dan bertanda anggauta secara pasti. Demi  pengumpulan suara, maka apa-apa yang menjadi tujuan Nahdlatul Ulama',  kini dijadikan nomor dua. Partai Nahdlatul Ulama' membutuhkan anggauta   sebanyak-banyaknya, sekalipun mereka bukan penganut aliran Ahlus Sunnah   Wal Jama'ah. Akibat dari pergeseran nilai inilah yang membuat  kabur  antara  tujuan,  alat  dan sarana. Sebagai Partai Politik yang militan,  Nahdaltul Ulama' harus berusaha agar dapat merebut kursi Dewan   Perwakilan  Rakyat sebanyak mungkin; demikian pula halnya  jabatan-jabatan sebagai  menteri. Hal itu dimaksudkan sebagai alat untuk  dapat melaksanakan program  dalam mencapai tujuan partai. Akan tetapi  karena pengaruh lingkungan dan  juga karena pergeseran nilai, maka  jabatan-jabatan yang semula dimaksudkan sebagai alat yang harus dicapai  dan dimiliki, kemudian berubah menjadi tujuan. Dan hal ini sangat  berpengaruh bagi kemajuan dan kemunduran partai dalam mencapai tujuan.&lt;br /&gt;Pada sekitar tahun 1967/1968, Nahdlatul Ulama' mencapai puncak  keberhasilan. Akan tetapi sayang sekali, justeru pada saat itu ciri    khas Nahdlatul Ulama telah menjadi kabur. Pondok Pesantren yang semula  menjadi benteng terakhir Nahdlatul Ulama' sudah mulai terkena erosi,   sebagai akibat perhatian Nahdlatul Ulama' yang terlalu dicurahkan dalam  masalah-masalah politik.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Penyederhanaan Partai-Partai&lt;/h3&gt;Pada pemilu tahun 1971, Nahdlatul Ulama' keluar sebagai pemenang  nomor dua. Hal tersebut membawa anggapan baru bagi masyarakat umum bahwa  sebenarnya kepengurusan Nahdlatul Ulama' adalah sebagai hal yang luar  biasa; sementara di pihak lain terdapat dua partai yang tidak  mendapatkan kursi sama sekali, yaitu Partai &lt;span class="caps"&gt;MURBA &lt;/span&gt;dan  &lt;span class="caps"&gt;IPKI, &lt;/span&gt;yang berarti aspirasi politiknya  terwakili oleh kelompok lain. Dari sinilah timbul gagasan untuk  menyederhanakan partai-partai politik.&lt;br /&gt;Kehendak menyederhanakan partai-partai politik tersebut, datangnya  memang bukan dari Nahdlatul Ulama'. Akan tetapi Nahdlatul Ulama'  menyambut dengan gembira. Dan dalam penyederhanaan tersebut Nahdlatul  Ulama' tidak membentuk federasi, akan tetapi melakukan fusi. Namun  demikian, ganjalan pun terjadi, karena memang masing-masing pihak yang  berfusi mempunyai tata-nilai sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;Bagaimanakah kenyataannya? &lt;br /&gt;Kehidupan politik yang ditentukan oleh golongan elit telah menyeret  para pemimpin dan tokoh-tokoh Jam'iyyah Nahdlatul Ulama'  ke  dalam  kehidupan elit. Padahal kehidupan elit semacam ini tidak terdapat dalam  tubuh Nahdlatul Ulama'. Sehingga kehidupan elit ini sebagai barang baru  yang berkembang biak dan hidup subur di kalangan Nahdlatul Ulama'. Maka  timbullah pola pemikiran baru yang mengarah kepada kehidupan  individualis, agar tidak tergeser dari rel yang menuju kepada kehidupan  elit. Dari fusi inilah rupa-rupanya yang membuat parah kondisi yang   asli  dari Jam'iyyah Nahdlatul Ulama' sejak mula pertama didirikan  sebagai jam'iyyah.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Nahdlatul Ulama' Kembali Kepada Khittah An Nahdliyah&lt;/h3&gt;Selama Nahdlatul Ulama' berfusi dalam tubuh Partai Persatuan  Pembangunan (PPP), tata-nilai semakin berjurang lebar; sementara dalam  tubuh Nahdlatul Ulama' sendiri terdapat banyak ketimpangan dan  kesimpang-siuran. Dalam kurun waktu yang lama, secara tidak disadari,    Nahdlatul Ulama' telah menjadi kurang peka dalam  menanggapi  dan   mengantisipasi perkembangan keadaan, khususnya yang menyangkuat  kepentingan ummat  dan bangsa. Salah satu sebabnya adalah ketelibatan  Nahdlatul Ulama'  secara berlebihan dalam kegiatan politik praktis; yang  pada gilirannya   telah menjadikan Nahdlatul Ulama' tidak lagi berjalan  sesuai dengan maksud kelahirannya, sebagai jam'iyyah yang ingin  berkhidmat secara nyata kepada agama, bangsa dan negara. Bahkan hal  tersebut telah mengaburkan hakekat Nahdlatul Ulama' sebagai gerakan yang  dilakukan oleh para ulama'. Tidak hanya sekedar itu saja yang sangat  menyulitkan Nahdlatul  Ulama'  dalam kancah politik selama berfusi dalam  &lt;span class="caps"&gt;PPP&lt;/span&gt;; akan tetapi silang pendapat di kalangan  NU sendiri semakin tajam, sehingga sempat bermunculan berbagai hepothesa  tentang bagaimana dan siapa sebenarnya Nahdlatul Ulama'.&lt;br /&gt;Dari kejadian demi kejadian dan  bertolak  dari  keadaan  tersebut,  maka sangat dirasakan agar Nahdlatul Ulama' secepatnya mengembalikan  citranya yang sesuai dengan khittah Nahdlatul Ulama' tahun 1926. Hal ini  berarti bahwa Nahdlatul Ulama' harus melepaskan diri dari kegiatan  politik praktis secara formal, seperti yang telah diputuskan dalam  Musyawarah Alim Ulama' Nahdlatul Ulama' (Munas NU) di Pondok Pesantren  Salafiyah Syafi'iyyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur tahun 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" height="36" src="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/images/kh_masduqi.jpg" style="padding-right: 10px;" width="36" /&gt; &lt;b&gt;Disusun oleh:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Drs. &lt;span class="caps"&gt;KH.&lt;/span&gt; Achmad Masduqi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7952077414346619986-9006207767466786811?l=bulletinarrisaalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/feeds/9006207767466786811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/riwayat-perjuangan-jamiyyah-nahdlatul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/9006207767466786811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/9006207767466786811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/riwayat-perjuangan-jamiyyah-nahdlatul.html' title='Riwayat Perjuangan Jam&apos;iyyah Nahdlatul Ulama&apos;'/><author><name>Bulletin Ar-Risaalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='16' src='http://4.bp.blogspot.com/_eaQoFojG5Uw/S_qCG0vgVSI/AAAAAAAAAAM/IzR7PqANidY/S220/logo+bulletin+copy.psd.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7952077414346619986.post-2312686014553073461</id><published>2010-05-27T20:19:00.002+07:00</published><updated>2010-05-27T21:01:45.004+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Aswaja NU'/><title type='text'>Risalah Amaliyah Nahdliyah</title><content type='html'>&lt;h3&gt;Pengantar&lt;/h3&gt;Risalah kecil ini disusun oleh tiga lembaga di bawah naungan  Nahdlatul Ulama yaitu LAKPESDAM, Lembaga Bahtsul Masail dan &lt;i&gt;Rabithah  Maahidil Islam&lt;/i&gt; Kota Malang dalam rangka Harlah NU ke-82.&lt;br /&gt;Diantara kegiatan-kegiatan yang diadakan pengurus NU Kota Malang, PC  NU Kota Malang berupaya menerbitkan risalah ini agar dijadikan pegangan  dan bekal bagi para jamaahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risalah ini memuat berbagai dalil amaliah yang selama ini sudah  dilaksanakan ditengah-tengah kehidupan social sehari-hari. Para Ulama  dahulu dengan segala kearifannya, lebih menekankan amal dari ilmu dari  setiap amaliah sehari-hari. Ketika zaman telah berubah dimana gempuran  kaum wahabi bertubi-tubi dari berbagai penjuru, mereka meracuni  nahdliyin dengan berbagai pernyataan bahwa setiap amaliah yang telah  dilakukan orang NU tidak berdasar dan bid’ah. Bahkan di daerah Jawa  Tengah kelompok &lt;i&gt;Wahabi&lt;/i&gt; dengan menggunakan baju&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Majelis  Qiraah al Quran&lt;/i&gt;, membayar beberapa stasiun radio agar  mempropagandakan bahwa amaliyah NU itu sesat dan bid’ah setiap pagi dan  sore.&lt;/div&gt;Apa yang dilakukan PCNU Kota Malang ini harus disambut baik,  ditindaklanjuti dan disebarluaskan ke berbagai kalangan Nahdliyin agar  mereka tidak goyah dengan amaliyahnya sehari-hari.&lt;br /&gt;Untuk mempermudah cara baca, sengaja risalah ini dibuat dengan sistem  tanya jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7952077414346619986&amp;amp;postID=2312686014553073461" name="TOC0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/risalah_amaliyah_nahdliyah-pcnu_malang-mar08.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_1"&gt;&lt;/a&gt;Tahlil  dan Dzikir Jamaah&lt;/h3&gt;&lt;h4&gt;Bagaimana hukumnya tahlil?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Mengapa hukumnya tahlil ditanyakan? Bukankah tahlil itu &lt;i&gt;sighat masdar&lt;/i&gt; dari &lt;i&gt;madzi hallala&lt;/i&gt;  yang artinya baca &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illa Allah&lt;/i&gt;.&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Bukan. Yang saya maksud adalah tahlil menurut istilah yang berlaku di kampung-kampung itu.&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Tahlil menurut istilah yang berlaku di kampung-kampung, kota-kota bahkan seluruh penjuru adalah  berisi bacaan &lt;i&gt;Laa Ilaaha Illa Allah,Subhaana Allah wa bi Hamdihi,  Astaghfirullah al Adzim, &lt;/i&gt;sholawat, ayat-ayat al Quran, fatihah,&amp;nbsp;Muawwidzatain&amp;nbsp;dan  sebagainya apakah juga masih ditanyakan hukumnya?&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Tetapi apakah ada aturan berdzikir secara jamaah sebagaimana dilakukan jamaah NU?&lt;/h4&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;وَاصبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الذِيْنَ يَدْعُونَ  رَبَّهُمْ بِالغَدَاةِ وَالعَشِيِّ يُرِيْدُونَ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ  عَنْهُمْ&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya  di pagi dan senja hari dengan mengharap keridlaan NYA; dan janganlah kedua  matamu berpaling dari mereka…&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Di samping ayat disebutkan diatas, diantara ayat yang biasa anda dan kyai NU pahami sebagai anjuran dzikir berjama'ah  adalah&lt;/h4&gt;&lt;i&gt;"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam  keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi  (seraya berkata), "Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." &lt;/i&gt;&lt;i&gt;(QS.  3:191) &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas, dianggap sebagai dalil yang  membolehkan &lt;i&gt;dzikir&lt;/i&gt; berjamaah karena menggunakan sighat  (konteks) &lt;i&gt;jama'&lt;/i&gt; (plural) yaitu &lt;i&gt;yadzkuruna&lt;/i&gt;. Menurut kyai NU &lt;i&gt;jama'&lt;/i&gt; berarti banyak dan banyak artinya  bersama-sama.&amp;nbsp;Pengambilan dalil semacam ini menurut saya adalah tidak benar, karena tidak setiap kalimat yang disampaikan dalam  bentuk &lt;i&gt;jama'&lt;/i&gt; harus dipahami bahwa itu dilakukan dengan bersama-sama.&lt;br /&gt;Syaikh Dr. Muhammad bin Abdur Rahman al-Khumayyis, penulis makalah "&lt;i&gt;Adz-Dzikr al-Jama'i baina al-Ittiba' wal ibtida'&lt;/i&gt;  (telah dibukukan dengan judul yang sama), menjelaskan bahwa &lt;i&gt;sighat&lt;/i&gt;  (konteks) jama' dalam ayat di atas adalah sebagai anjuran yang bersifat umum dan  menyeluruh kepada semua umat Islam untuk berdzikir kepada Allah subhanahu wata'ala  tanpa kecuali, bukan anjuran untuk melakukan &lt;i&gt;dzikir&lt;/i&gt; berjama'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu  jika &lt;i&gt;sighat&lt;/i&gt; (konteks) jama' dalam ayat tersebut dipahami  sebagai anjuran untuk melakukan dzikir secara berjama'ah atau bersama-sama maka kita  akan kebingungan dalam memahami kelanjutan ayat tersebut. Disebutkan bahwa &lt;i&gt;dzikir&lt;/i&gt;  itu dilakukan dengan cara berdiri (&lt;i&gt;qiyaman&lt;/i&gt;), duduk (&lt;i&gt;qu'udan&lt;/i&gt;)  dan berbaring (&lt;i&gt;'ala junubihim&lt;/i&gt;). Nah bagaimanakah praktek dzikir bersama-sama  dengan cara berdiri, duduk dan berbaring itu? Apakah ada dzikir berjama'ah dengan  cara seperti ini? Permasalahan lainnya adalah bahwa ayat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para  shahabat berada di samping beliau. Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  dan para shahabat memahami ayat tersebut sebagai perintah untuk &lt;i&gt;dzikir&lt;/i&gt;  bersama-sama satu suara?&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Kalau anda menyatakan bahwa lafadz &lt;i&gt;jama'&lt;/i&gt; itu tidak selalu  bersama-sama, maka bisakah anda menunjukkan bahwa lafadz jama' itu tidak mungkin dimaknakan bersama-sama?&amp;nbsp; Bagaimanakah dengan kisah para sahabat yang berdoa bersama Rasul saw dengan melantunkan syair  (Qasidah/Nasyidah) di saat menggali &lt;i&gt;khandaq&lt;/i&gt; (parit) Rasul saw dan sahabat2  radhiyallhu ‘anhum bersenandung bersama sama dengan ucapan:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"HAAMIIIM LAA YUNSHARUUN.."&lt;/i&gt; (lihat Kitab &lt;i&gt;Sirah Ibn Hisyam&lt;/i&gt; Bab &lt;i&gt;Ghazwat  Khandaq&lt;/i&gt;).&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Perlu anda ketahui bahwa &lt;i&gt;sirah Ibn Hisyam&lt;/i&gt; adalah buku sejarah yg pertama  ada dari seluruh buku sejarah, yaitu buku sejarah tertua. Karena ia adalah &lt;i&gt;Tabi'in&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;  Sehingga akurasi sumber datanya lebih valid. Begitu juga pada waktu para sahabat membangun saat membangun  Masjidirrasul saw: mereka bersemangat sambil bersenandung:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Laa 'Iesy illa 'Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal Muhaajirah"&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar ini maka Rasul saw pun segera mengikuti ucapan mereka seraya bersenandung  dengan semangat:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Laa 'Iesy illa 'Iesyul akhirah,  Allahummarham Al Anshar wal Muhajirah ..."&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(Sirah Ibn Hisyam Bab Hijraturrasul saw- bina' masjidissyarif hal 116)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ucapan ini pun merupakan  doa Rasul saw demikian diriwayatkan dalam &lt;i&gt;shahihain&lt;/i&gt;.  Mengenai makna berdiri (&lt;i&gt;qiyaman&lt;/i&gt;), duduk (&lt;i&gt;qu'udan&lt;/i&gt;) dan berbaring (&lt;i&gt;'ala junubihim&lt;/i&gt;).  Tidakkah anda pernah shalat berjamaah? Bukankah shalat juga melafalkan dzikir? Bukankah shalat itu  bisa berdiri, duduk dan tidur miring? Menafsiri ayat tersebut diatas Ibn Katsir mengutip hadits Nabi riwayat Bukhari:&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;عن عِمْران بن حُصَين، رضي الله عنه، أن رسول  الله صلى الله عليه وسلم قال: "صَلِّ قائما، فإن لم تستطع فقاعدا، فإن لَم تستطع فَعَلَى جَنْبِكَ أي: لا  يقطعون ذِكْره في جميع أحوالهم بسرائرهم وضمائرهم وألسنتهم&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div dir="ltr"&gt;Jadi ayat tersebut di atas lebih dititikberatkan kepada bagaimana tata cara orang shalat, namun secara umum dapat juga diartikan  dzikir secara &lt;i&gt;laf-dziy&lt;/i&gt;. Seseorang dapat berdzikir kepada Allah dengan  segala tingkah sesuai kemampuannya. Kalau anda memaknakan bahwa dzikir berjamaah dengan  tidur semua, duduk semua atau berdiri semua, manakah point yang menunjukkan  itu? Bagaimana kalau dimaknakan bila dzikir itu dibaca berjamaah, kita dapat berdiri, duduk dan tiduran sesuai dengan kondisi kita? Berdiri karena  tidak lagi kebagian tempat, tiduran karena kondisi tubuhnya tidak memungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Rasul radhiyallahu'anhum mengadakan shalat tarawih berjamaah, dan Rasul  saw justru malah menghindarinya, mestinya andapun shalat tarawih sendiri  sendiri, kalau toh Rasul saw melakukannya lalu menghindarinya, lalu mengapa  Generasi Pertama yg terang benderang dg keluhuran ini justru mengadakannya dengan berjamaah. Sebab mereka merasakan ada kelebihan dalam berjamaah, yaitu  syiar, &amp;nbsp;mereka masih butuh syiar dibesarkan, apalagi kita dimasa ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div dir="ltr"&gt;Kalau anda tidak mau memaknakan kalimat jama' dengan arti bersama-sama, dari makna apa anda  shalat tarawih berjamaah? Berdasar hadits dan ayat al Quran yang mana?&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div dir="ltr"&gt;Kita &lt;i&gt;Ahlussunnah waljama'ah&lt;/i&gt; berdoa, berdzikir, dengan &lt;i&gt;sirran wa jahran&lt;/i&gt;, di dalam hati, dalam  kesendirian, dan bersama sama. Sebagaimana Hadist Qudsiy Allah swt berfirman :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي  نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Bila ia (hambaKu) menyebut namaKu dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam  diriku, bila mereka menyebut namaKu dalam kelompok besar, maka Akupun menyebut (membanggakan) nama mereka dalam kelompok yg lebih besar dan lebih  mulia"&lt;/i&gt;. (HR Muslim).&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Kita di majelis menjaharkan &lt;i&gt;lafadz&lt;/i&gt; doa dan &lt;i&gt;munajat&lt;/i&gt; untuk menyaingi  panggung-panggung maksiat yg setiap malam menggelegar dengan dahsyatnya menghancurkan telinga, berpuluh ribu  pemuda dan remaja MEMUJA manusia manusia pendosa dan mengelu elukan nama  mereka.. menangis menjilati sepatu dan air seni mereka.., suara suara itu  menggema pula di televisi di rumah rumah muslimin, di mobil2, dan hampir di semua  tempat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahkah bila ada sekelompok pemuda mengelu-elukan nama Allah Yang Maha Tunggal? Menggemakan nama Allah?  Apakah Nama Allah sudah tak boleh dikumandangkan lagi dimuka bumi? Mewakili banyak hadits tentang dzikir berjamaah ini, perhatikan dan camkanlah  hadits ini:&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا  يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ  بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ  مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ  وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي قَالَ فَيَقُولُونَ لَا  وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي قَالَ يَقُولُونَ  لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا  وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا قَالَ يَقُولُ فَمَا يَسْأَلُونِي قَالَ يَسْأَلُونَكَ  الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ  مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ  أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا  وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً قَالَ فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ قَالَ يَقُولُونَ مِنْ النَّارِ  قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا  قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ  مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً قَالَ فَيَقُولُ فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي  قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ يَقُولُ مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ  مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ قَالَ هُمْ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ  جَلِيسُهُمْ&amp;nbsp; &amp;nbsp;رواه البخارى&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Sabda Rasulullah saw: "Sungguh Allah memiliki malaikat yg beredar  dimuka bumi mengikuti dan menghadiri majelis majelis dzikir, bila mereka  menemukannya maka mereka berkumpul dan berdesakan hingga memenuhi antara hadirin  hingga langit dunia, bila majelis selesai maka para malaikat itu berpencar dan  kembali ke langit, dan Allah bertanya pada mereka dan Allah Maha Tahu :  "darimana kalian?" mereka menjawab : kami datang dari hamba hamba Mu, mereka  berdoa padamu, bertasbih padaMu, bertahlil padaMu, bertahmid pada Mu, bertakbir  pada Mu, dan meminta kepada Mu,&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Maka Allah bertanya: "Apa yg mereka minta", Malaikat berkata: mereka meminta sorga, Allah berkata: apakah mereka telah melihat sorgaku? Malaikat menjawab: tidak, Allah  berkata: "Bagaimana bila mereka melihatnya". Malaikat berkata: mereka  meminta perlindungan Mu, Allah berkata: "mereka meminta perlindungan dari apa?"  Malaikat berkata: "dari Api neraka", Allah berkata: "apakah mereka telah melihat nerakaku?" Malaikat menjawab tidak, Allah berkata: Bagaimana  kalau mereka melihat neraka Ku. Malaikat berkata: mereka beristighfar pada Mu,  Allah berkata: "sudah kuampuni mereka, sudah kuberi permintaan mereka, dan  sudah kulindungi mereka dari apa apa yg mereka minta perlindungan darinya,  malaikat berkata: "wahai Allah, diantara mereka ada si fulan hamba pendosa, ia  hanya lewat lalu ikut duduk bersama mereka, Allah berkata: baginya  pengampunanku, dan mereka (ahlu dzikir) adalah kaum yg tidak ada yg dihinakan siapa  siapa yg duduk bersama mereka&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h3&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/risalah_amaliyah_nahdliyah-pcnu_malang-mar08.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_2"&gt;&lt;/a&gt;Berdzikir,  Berdoa dan Bersedekah untuk Mayat&amp;nbsp;&lt;/h3&gt;&lt;h4&gt;Bagaimanakah hukum berdzikir atau berdoa untuk orang yang sudah meninggal dunia?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Berdoa merupakan perintah Allah. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berdoa kepada Allah. Karena doa erupakah  inti dari ibadah. Dalam setiap gerak ibadah yang dilakukan olelh seorang mukmin  itu ada doa. Bahkan dalam sebuah hadits dinyatakan, bahwa doa itu merupakan  pedang bagi seorang muslim. Islam membolehkan berdoa atau dzikir untuk orang yang  sudah mati. Dalam sebuah ayat dinyatakan:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Orang-orang yang datang sesudah mereka(Muhajirin dan Anshar),  mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang  telah beriman lebih dulu daripada kami." &lt;/i&gt;(QS. Al-Hasyr)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat  tersebut secara jelas menyatakan bahwa para sahabat pernah berdoa untu saudara-saudara mereka yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Ketika  para sahabat melakukan hal itu, rasulullah pun tidak melarangnya. Nabi  membiarkan dan membolehkannya. Perintah untuk mendoakan orang lain juga disebutkan  dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang  mukmin, laki-laki dan perempuan."&lt;/i&gt; (QS. Muhammad: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi  SAW.sendiri dalam beberapa haditsnya memerintahkan secara terang-terangan supya umat islam membacakan ayat-ayat al-Qur'an untuk  orang yang telah meninggal dunia. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut:&lt;br /&gt;Dari Mu'aqqol ibn Yassar ra.: &lt;i&gt;"barang siapa membaca surat yasin karena mengharap ridlo Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah  lalu, maka bacakanlah surat yasin bagi orang yang mati diantar kamu."&lt;/i&gt;  (Al-Baihaqi, Jami'us Shogir: bab Syu'abul Iman, Vol. 2, hal. 178, termasuk hadits  shohih.)&lt;br /&gt;Senada dengan itu, dalam hadits lain Rasulullah juga menganjurkan  kepada kaum muslimin untuk memohonkan ampunan bagi si mayit atas dosa-dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan saat hidup di dunia. Dari Utsman bin Affan ra, dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ketika Rasulullah selesai menguburkan jeazah, maka beliau berdiam diri atas mayit, lalu bersabda,  "mohon ampunlah kalian semua kepada Allah SWT.untuk saudaramu. Dan mohonlah  ketetapan untuk mayit sesungguhnya saat ini dia sedang diberi pertanyaan."&lt;/i&gt;  (HR. Abu Daud dan Hakim, termasuk hadits shohih menurut Abu Daud, Bulughul Maram: 115/604)&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Bagaimana hukum bersedekah untuk orang yang sudah meninggal dunia?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Dalam islam, sedekah merupakan amalan mulia yang sangat dianjurkan,  bahkan merupakan perintah yang harus dijalankan. Di dalam al-Qur'an digambarkan  bahwa bersedekah merupakan salah satu cirri orang yang bertaqwa. Dengan kata  lain seseorang tidak masuk dalam kategori&amp;nbsp; bertaqwa (&lt;i&gt;muttaqin&lt;/i&gt;) manakala ia tidak mau menyisihkan sebagian  hartanya untk disedekahkan kepada orang yang berhak. Allah befirman:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada  surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang  yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu  lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."&lt;/i&gt;  (QS. Ali- Imron: 133-134)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hikmah yang dapat diambil dalam  bersedekah. Oranng yang bersedekah tidak akan mengalami kerugian, baik materil maupun spiritual. Allah  sendiri dalam wahyu-Nya menjanjkan mereka yang mau bersedekah untuk  dilipatgandakan. Seseorang yang mensedekahkan hartanya digambarkan akan mendapatkan  pahala berlipat-lipat ibarat dahan pohon yang memiliki tujuh ranting, dan  setiap ranting memiliki seribu benih. Dalam ayat lain Allah secara tegas akan  menjamin orang yang bersedekah, ia akan dilindungi dari kejahatan orang-orang  dzalim.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya  (dirugikan)."&lt;/i&gt; (QS. A-Anfal : 60).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersedekah tidak saja  dapat dilakukan ketika masih hidup. Tetapi sedekah juga dapt dilakukan untuk orang yang sudah meninggal dunia. Rasulullah  pernah SAW.perah memerintah seseorang suaya bersedekah untuk keselamatan  keluarganya yang telah meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dari Aisyah ra.bahwa seorang laki-laki berkata kepada rasulullah  SAW. "Sesungguhnya ibuku telah meninggal, dan aku melihatnya seolah-olah dia berkata, bersedekahlah. Apakah baginya pahala jika aku bersedekah  untuknya?". Rasulullah SAW. Bersabda,"ya".&lt;/i&gt; (Muttafaqu ‘alaih)&lt;br /&gt;Perintah rasulullah yang senada itu juga dapat ditemukan dalam hadits-hadits yang lain. Bahkan beliau menyebut amalan sedekah sebagai  amalan yang tidak akanpernah putus meskipun oranng yang bersedekah itu telah  meninggal dunia. Pahala sedekah tidak saja dapat mengalir ketika yang bersangkutan  masih hidup, tetapi juga ketika jasad sudah ditiggalkan oleh rohnya. Dari Abi Hurairah ra.bahwa rasulullah SAW.bersabda:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;'Tatkala manusia meninggal maka putuslah semua amalnya, kecuali  tiga perkara. Yaitu amal Jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang mendoakannya."&lt;/i&gt;  (HR. Muslim). &lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Apa hukum talqin (pengajaran) kepada mayit?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Di kalangan ulama ahli ijtihad, tidak ada perbedaan pendapat mengenai talqin (mengajarkan kalimal La ilaaha illa Allah)  kepada orang yang sedang sekarat, berdasarkan hadits:&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ بِلاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Hendaklah kamu semua mengajarkan kepada orang-orang meninggal alian degan kalimat Laa ilaaha  illa Allah(tidak ada Tuhan selain Allah)"&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Adapun mengajari (talqin) orang yang baru dikuburkan menurut ulama  madzhab Syafi'i, mayoritas ulama madzhab Hambali dan sebagian ulama madzhab  Hanafi dan Maliki hukumya sunnah, berdasarkan riwayat At-Tabrani:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Dari Abu Umamah ra., "Apabila salah seorang di antara saudaramu meninggal dunia dan tanah telah diratakan di atas kuburannya, maka  hendaklah salah seorang diantara kamu berdiri di arah kepala, lalu ucapkanlah,  ‘Hai Fulan bin fulanah (nama mayat dan nama ibunya). ‘Sesungguhnya si mayat itu  mendengar, namun tidak dapat menjawab. Kemudian ucapkan ‘Hai fulan bin fulanah, ‘Sesungguhnya dia duduk. Lalu ucapkan lagi, ‘hai fulan bin fulanah, maka  si mayat berkata, ‘Bimbinglah kami, semoga Allah merahmatimu. Kemudian  katakanlah "ingatlah apa yang kamu pertahankan saat meninggal dunia berupa kalimat syahadat dan kerelaanmu trhadap Allah sebagai Tuhan, islam sebagai  agama, Muhammad sebagai Nabi, dan Al-Qur'an sebagai panutan. Sesungguhnya  malaikat munkar dan nakir saling berpegangan tangan dan berkata, ‘ayo pergi.  Tidak perlu duduk di sisi orang yang diajarkan kepadanya jawabannya. Allah-lah yang  dapat memintainya jawaban, bukan malikat munkar dan akir. Lalu ada seorang  laki-laki bertanya, ya Rasulullah bagaimana jika ibu si mayat tidak diketahui?  Beliau menjawab, sambungkan nasabnya ke ibu Hawa.&lt;/i&gt; (HR. At-Thabrani)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Hadits tersebut marfu', sekalipun dhoif, tetapi hadits ini boleh  diamalkan dalam amal-amal kebaikan (fadhoilul a'mal) dan untuk mengingatkan  orang-orang mukmin, dan juga mengingatkan firman Allah SWT:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan  itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman."&lt;/i&gt; (QS. Adz-Dzariyat: 55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu saja nasehat yang paling dibutuhkan oleh setiap hamba adalah ketika baru saja dikebumikan. Imam ibnu Taimiyah dalam fatwa-fatwanya menjelaskan, sesungguhnya talqin sebagaimana tersebut  diatas benar-benar dari sekelompok sahabat Nabi SAW.bahwa mereka menganjurkan  talqin. Diatara mereka adalah Abu Umamah ra. Imam ibnu Taikiyah berkata,  "Hadits-hadits yang menerangkan bahwa orang yang dalam kubur itu ditanya dan diuji dan  perlu di doakan adalah sngat kuat. Oleh sebab itu talqin berguna baginya,  sebab mayat itu dapat mendengar seruan, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang  shohih:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya Nabi SAW. Bersabda: "Sesungguhnya mayat dalam kubur itu mendengar gesekan  sandal-sandal kamu semua."&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sementara itu, dalam hadits yang lain disebutkan:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya beliau bersabda: "kamu semua tidaklah lebih mendengar apa yang kau ucapkan  daripada mereka."&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h3&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/risalah_amaliyah_nahdliyah-pcnu_malang-mar08.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_3"&gt;&lt;/a&gt;Tawasul&lt;/h3&gt;&lt;h4&gt;Apa arti tawasul dengan walinya Allah?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Tawasul dengan walinya Allah SWT artinya menjadikan para kekasih Allah sebagai perantara menuju kepada Allah  SWT.dalam mencapai hajat, karena kedudukan dan kehormatan di sisi Allah yang  mereka miliki, disertai keyakinan bahwa mereka adalah hamba dan makhluk Allah  SWT.yang dijadikan oleh-Nya sebagai lambing kebaikan, barokah, dan pembuka kunci  rahmat. Pada hakekatnya, orang yang bertawasul itu tidak meminta hajatnya  dikabulkan kecuali kepada Allah SWT dan tetap berkeyakinan bahwa Allah-lah yang  maha memberi dan Maha Menolak. Bukan yang lain-Nya. Ia menuju kepada Allah  SWT.dan orang-orang yang dicintai Allah SWT, karana mereka lebih dekat  kepada-Nya, dan Dia menerima doa mereka dan syafaatnya karena kecintaan-Nya. Allah SWT,mencintai orang-orang yang baik dan orang-orang yang bertaqwa. Dalam hadits qudsi disebutkan:&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;ولا يزال عبدي يتقرّب إليّ بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذى سمع به وبصره الذى يبصر  به ويده التى يبطش بها ورجله الذى يمشى بها ولئن سألني لأعطيته ولئن استعاذني  لأعيذنه&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Hambaku tidak henti-hentinya mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah, sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku  mencintainya, maka Aku pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang  ia melihat dengannya, tangannya, dan penglihatanny yang ia melihat  dengannya, kakinya yang ia berjalan dengannya. Apabila ia memohon kepada-Ku, maka  aku berinya, dan jia meminta perlindungan, maka Aku berinya perlindungan."&lt;/i&gt;  (HR. Imam al-Bukhori). &lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Apa hukum tawasul dengan orang-orang yang dikasihi oleh Allah?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Tawasul dengan orang-orang yang dicintai Allah, seperti nabi-nabi dan orang-orang yang shalih itu boleh, berdasarkan ijma' ulama' kaum muslimin. Bahkan ia merupakan cara  orang-orang mukmin yang diridloi. Tawasul itu telah dikenal sejak zaman dahulu dan sekarang.&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Bagaimana halnya dengan orang yang beranggapan bahwa tawasul itu  adalah syirik dan kufur, serta pelakunya adalah musyrik dan kafir?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Tidak dapat diteladani orang yang &lt;i&gt;nyleneh&lt;/i&gt; dan berpisah dari jama'ah  yang beranggapan bahwa &lt;i&gt;tawasul&lt;/i&gt; adalah perbuatan syirik atau haram, lalu  menghukumi musyrik orang-orang yang bertawasul. Ini jelas tidak benar dan batil, sebab  anggapan seperti ini akan menimbulkan penilaian, bahwa sebagian umat Islam telah  membuat kesepakatan (&lt;i&gt;ijma'&lt;/i&gt;) atas perkara yang haram atau kemusyrikan.  Hal demikian adalah mustahil, karena umat Muhammad ini telah mendapat jaminan tidak  bakal membuat kesepakatan atas perbuatan sesat, berdasarkan hadits-hadits  Rasulullah SAW.seperti hadits:&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;سألت ربي أن لايجمع أمتي على ضلالة فأعطانيها&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Saya memohon kapada Tuhanku  Allah, untuk tidak menghimpunkan umatku atas perkara sesat, dan Dia mengabulkan permohonanku itu."&lt;/i&gt;  (HR. Ahmad dan at-Thabrani).&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;لايجمع الله أمتي على ضلالة أبدا&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Allah tidak menghimpunkan umatku untuk bersepakat atas perkara sesat selama-lamanya."&lt;/i&gt; (HR.Imam al-Hakim).&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;ما رآه المسلمون حسنا فهوعهند الله حسن&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Apa yang diyakini baik oleh orang-orang islam, maka menurut  Allah juga baik."&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Apakah ada dalil al-qur'an tentang tawasul?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Ya, ada. Adapun ayat al-Qur'an yang menunjukkan dibolehkan tawasul  adalah ayat:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan  yang mendekatkan diri kepada-Nya."&lt;/i&gt; (QS. Al-Maidah: 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini  adalah permintaan dari Allah, agar kita mencari &lt;i&gt;wasilah&lt;/i&gt; (perantara), yaitu segala  sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai sebab untuk mendekatkan kepada-Nya dan  sampai pada terpenuhinya hajat dari-Nya. &lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Apakah tawasul itu terbatas pada amal perbuatan saja, tidak pada benda (Dzat)?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Tidak, karena ayat Al-Qur'an tersebut umum (‘&lt;i&gt;amm&lt;/i&gt;) meliputi amal-amal perbuatan baik dan orang-orang shalih, yakni  dzat-dzat yang mulia, seperti Nabi SAW.dan wali-wali Allah yang bertaqwa.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Adapun orang yang berpendapat boleh tawasul dengan amal perbuatan  saja, sedangkan tawasul dengan dzat-dzat tidak boleh, dan ia membatasi maksud  ayat pada pengertian pertama (tawasul dengan amal perbuatan), maka pendapat  ini tidak berdsar, sebab ayat tersebut adalah mutlak. Bahkan membawa ayat kepada pengertian kedua (tawasul dengan dzat) itu lebih mendekati, sebab Allah  dalam ayat ini memerintahkan taqwa dan mencari wasilah, sedang arti taqwa  adalah mengerjakan perintah dan menjauhi larangan. Apabila kata &lt;i&gt;"Ibtighoul wasilah"&lt;/i&gt; (mencari wasilah) kita artikan dengan amal-amal sholeh, berarti perintah dalam mencari wasilah hanya sekedar pengulangan dan pengukuhan. Tetapi jika lafad &lt;i&gt;"al-Wasilah"&lt;/i&gt; ditafsirkan dzat-dzat yang ulia, maka ia berarti yang asal, dan akna inilah yang  lebih diutamakan dan lebih didahulukan. Disamping itu apabila tawasul itu  boleh dengan amal-amal perbuatan baik, padahal amal-amal perbuatan merupakan  sifat yang diciptakan, maka dzat-dzat yang diridloi oleh Allahlebih berhak  dibolehkan, mengingat ketinggian tingkat ketaatan, keyakinan dan ma'rifat dzat-dzat  itu kepada Allah SWT, allah SWT.berfirman:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;(QS. An-Nisa' : 64).&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat ini dengan jelas menerangkan dijadikannya RAsulullah sebagai wasilah kepada Allah SWT.  Firman Allah &lt;i&gt;"Jaa-uuka"&lt;/i&gt; (mereka dating kepadamu) dan &lt;i&gt;"Wastaghfaro lahumurrosuulu"&lt;/i&gt; (dan Rasul memohokan ampun untuk mereka). Andaikata tidak demikian, maka apa kalimat &lt;i&gt;"Jaa-uuka"&lt;/i&gt;. &lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Apakah tawasul itu dibolehkan secara umum, baik dengan orang-orang  yang hidup dan orang-orang yang mati?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Ya, dibolehkan secara umum, karena ayat tersebut juga umum ('&lt;i&gt;amm&lt;/i&gt;),  ketika beliau masih hidup di dunia dan sesudah beliau wafat.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Telah dipastikan, bahwa para nabi dan para wali itu hidup dalam kubur mereka, dan arwah mereka  di sisi Allah SWT. Barangsiapa tawasul dengan mereka dan menghadap kepada  mereka, maka mereka menghadap kepada Allah dalam rangka tercapainya permintaannya.  Dengan demikian, maka yang dimintai adalah Allah. Dia-lah yang berbuat dan yang mencipta, bukan lain-Nya. Sesunggguhnya kami golongan ahlussunnah wal  jama'ah tidak meyakini adanya kekuasaan, penciptaan, manfaat, dan mudhorot  kecuali milik Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Para Nabi dan para  wali tidak memiliki kekuasaan apapun. Mereka hanya diambil berkah dan  dimintai bantuan karena kedudukan mereka, sebab mereka adalah orang-orang yang  dicintai Allah, karena merekalah Allah memberi rahmat kepada hamba-hamba-Nya.  Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara mereka yang masih hidup atau mereka yang  sudah meninggal dunia. Yang kuasa berbuat dalam dua kondisi tersebut  hakekatnya adalah Allah, bukan mereaka yang hidup atau yang mati.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Adapun orang-orang yang masih hidup dan orang-orang yang telah  meninggal, sepertinya mereka itu berkeyakinan bahwa orang-orang yang masih hidup  memiliki kemampuan memberi pengaruh kepada orang lain sedangkan orang yang telah meninggal tidak. Keyakinan seperti ini batil, sebab Allah-lah pencipta  segala sesuatu. &lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Apa tawasul dengan orang-orang yang telah meninggal itu diperbolehkan?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Dalilnya sebagaimana firman Allah:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan  Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha  Penerima taubat lagi Maha Penyayang.&lt;/i&gt;(QS.An-Nisa' :64).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas adalah umum (&lt;i&gt;'amm&lt;/i&gt;) mencakup  pengertian ketika beliau masih hidup dan ketika sesudah wafat dan berpindahnya ke alam &lt;i&gt;barzakh&lt;/i&gt;. Imam ibnu Al-Qoyyim dalam kitab &lt;i&gt;Zadul ma'ad&lt;/i&gt; menyebutkan:&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;عن أبي سعيد الخضريّ قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم ما خرج رجل من  بيته إلى الصلاة فقال اللّهم إنّي أسألك بحقّ السائلين عليك وبحقّ ممساي هذا إليك  فإني لم أخرج بطرا ولا أشرا&amp;nbsp; ولا رياءا ولا سمعة وإنما خرجت اتّقاء سخطك وابتغاء مرضاتك وأسألك أن تنقذني من النّار وأن  تغفر لي ذنوبي فإنه لايغفر الذنوب إلاّ أنت إلاّ وكّل الله به سبعين ألف ملك  يستغفرون له وأقبل الله عليه بوجهه حتّى يقضي صلاته.&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Dari Abu Sa'id al-Khudry, ia berkata, Rasulullah SAW.bersabda: "seseorang dari rumahnya hendak sholat dan membaca do'a:&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;اللّهم إنّي أسألك بحقّ السائلين عليك وبحقّ ممساي هذا إليك فإني لم أخرج بطرا ولا أشرا&amp;nbsp; ولا رياءا ولا سمعة وإنما خرجت اتّقاء سخطك وابتغاء مرضاتك وأسألك أن تنقذني من النّار وأن تغفر لي ذنوبي  فإنه لايغفر الذنوب إلاّ أنت&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;Kecuali Allah menugaskan 70.000 malaikat agar memohokan ampun  untk oran tersebut, dan Allah menatap orang itu hingga selesai sholat".&lt;/i&gt; (HR.  Ibnu Majjah).&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dari Imam al-Baihaqi, Ibnu As-Sunni dan al-Hafidz Abu Nu'aim  meriwayatkan bahwa do'a Rasulullah ketika hendak keluar menunaikan shalat adalah:&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;اللّهم إنّي أسألك بحقّ السائلين....إلخ&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;Para ulama; berkata, "ini adalah tawasul yang&amp;nbsp; jelas dengan semua  hamba beriman yang hidup atau yang telah mati. Rasulullah mengajarkan kepada sahabat dan  memerintahkan mebaca do'a ini. Dansemua orang salaf dan sekarang selalu berdo'a dengan  do'a ini ketika hendak pegi sholat."&lt;br /&gt;Abu Nu'aimah dalam kitab al-Ma'rifah, at-Tabrani dan Ibnu Majjah  mentakhrij hadits:&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال لمّا ماتت فاطمة بنت أسد أم علي بن ابي طالب  رضي الله عنهما -وذكر الحديث- وفيه: أنه صلى الله عليه وسلم اضطجع في قبرها  وقال: الله الذى يحي ويميت وهو حيّ لايموت اغفر لأمّي فاطمة بنت أسد ولقنها حجتها  ووسّع مدخلها بحقّ نبيّك والأنبياء والمرسلين قبلي فإنك أرحم الراحمين&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;Dari Anas bin Malik ra, ia berkata, "ketika Fatimah binti Asad ibunda Ali bin Abi  Thalib ra meninggal, maka sesungguhnya Nabi SAW berbaring diatas kuburannya dan bersabda:&lt;br /&gt;"Allah adalah Dzat yang Menghidupkan dan mematikan. Dia adalah Maha Hidup, tidak mati. Ampunilah ibuku Fatimah binti Asad, ajarilah hujjah (jawaban) pertanyaan kubur dan lapangkanlah kuburannya dengan hak  Nabi-Mu dan nabi-nabi serta para rasul sebelumku, sesungguhnya Engkau Maha  Penyayang."&lt;br /&gt;Maka hendaklah diperhatikan sabda beliau yang berbunyi:&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;بحقّ الأنبياء قبلي&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Dengan hak para nabi sebelumku".&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Jika tawasul dengan orang-orang yang telah mati itu boleh, mengapa kholifah Umar din al-Khottob tawasul dengan al-Abbas,  tidak dengan Nabi SAW?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Para ulama' telah menjelaskan hal ini juga, mereka berkata:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Adapun tawasul Umar bin al-Khottob dengan al-Abbas ra bukanlah dalil larangan tawasul  dengan orang yang telah meninggal dunia. Tawasul Umar bin al-Khottob dengan  al-Abbas tidak dengan Nabi SAW itu untuk menjelaskan kepada orang-orang bahwa  tawasul dengan selain itu boleh, tidak berdosa. Tentang mengapa dengan al-Abbas bukan  dengan sahabat-sahabat lain, adalah untuk memperlihatkan kemuliaan ahli bait Rasulullah SAW.&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Apa dalilnya?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Dalilnya adalah perbuatan para sahabat. Mereka selalu dan terbiasa bertawasul dengan rasulullah SAW setelah beliau wafat.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Seperti yang diriwayatkan Imam al-Baihaqi dan Ibnu abi Syaibah dengan sanad yang shohih:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Sesungguhnya orang-orang pada masa kholifah Umaar banal-Khottob ra tertimpa paceklik karena kekurangan hujan. Kemudian Bilal bin al-Harits  ra dating ke kuburan Rasulullah SAW dan berkata: "Ya rasulullah,  mintakanlah hujjah untuk umatmu karena mereka telah binasa." Kemudian ketika Bilal  tidur didatangi oleh Rasulullah SAW dan berkata: datanglah kepada Umar dan  sampaikan salamku kepadanya dan beritahukan kepada mereka, bahwa mereka akan  dituruni hujan. Bilal lalu dating kepada kholifah Umara dan menyampaikan berita tersebut. Umar menangis dan orang-orang dituruni hujan."&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Di mana letak penggunaan dalil hadits tersebut?Letak penggunaan dalil dr hadits  tersebut adalah perbuatan Bilal bin Al-Harits, seorang sahabat Nabi SAW yang tidak  diprotes oleh kholifah Umar maupun sahabat-sahabat Nabi lainnya. Imam ad-Darimi  juga mentakhrij sebuah hadits:&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;إن أهل المدينة قحطوا قحطا شديدا فشكوا إلى عائشة رضي الله عنها فقالت انظروا  إلى قبر النبيّ صلى الله عليه وسلّم فاجعلوا منه كوى إلى السماء حتى يكون بيبه وبين  السماء سقف ففعلوا فمطروا مطرا شديدا حتى نبت العشب وسمنت الإبل حتي تفتقن فيسمّى  عام الفتقة&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya penduduk Madinah mengalami paceklik yang amat parah, karena langka hujan. Mereka mengadu  kepada Aisyah ra dan ia berkata: "lihatlah kamu semua ke kuburan Nabi SAW lalu  buatlah lubang terbuka yang mengarah ke arah langit, sehingga antara kuburan  beliau dan langit tidak ada atap yang menghalanginya. Meeka melaksanakan perintah  Aisyah, kemudian mereka dituruni hujan yang sangat deras, hingga rumput-rumput  tumbuh dan unta menjadi gemuk."&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt; Ringkasnya, tawasul itu dibolehkan, baik dengan amal  perbuatan yang baik maupun dengan hamba-hamba Allah yang soleh, baik yang masih hidup atau  yang sudah meninggal dunia. Bahkan tawasul itu telah berlaku sebelum Nabi  Muhammad diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Apa dalil bahwa tawasul terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW diciptakan?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Umar bin al-Khottob:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Ketika Nabi Adam terpeleset melakukan kesalahan, maka berkata, &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Hai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu dengan haq Muhammad, Engkau pasti  mengampuni kesalahanku."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Allah berfirman: "Bagaimana kamu mengetahui Muhammad, padahal belum Aku ciptakan?" &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nabi Adam berkata: "Hai Tuhanku, karena Engkau ketika menciptakanku dengan tangan kekuasaan-MU, aku mengangkat kepalaku  kemudian aku melihat ke atas tiang-tiang arsy tertulis La ilaaha illa Allah. Kemudian  aku mengerti, sesungguhnya Engkau tidak menyandarkan ke nama-MU, kecuali makhluk yang  paling Engkau cintai." &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kemudian Allah berfirman: "Benar engkau hai adam. Muhammad adalah makhluk yang paing Aku cintai. Apabila kamu memohon kepada-Ku  dengan hak Muhammad, maka Aku mengampunimu, dan andaikata tidak karena Muhammad  maka Aku tidak menciptakanmu." &lt;/i&gt;(HR. al-Hakim, at-Thobroni dan al-Baihaqi). &lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Nabi Adam as adalah orang yang mula-mula tawasul dengan Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;Imam Malik telah memberi anjuran &lt;i&gt;tawasul&lt;/i&gt; kepada Khalifah al-Mansur, yaitu ketika ia ditanya oleh  kholifah yang sedang berada di masjid Nabawi:&lt;br /&gt;Saya sebaiknya menghadap kiblat dan berdo'a atau menghadap Nabi SAW?"&lt;br /&gt;Imam Malik berkata kepada kholifah, &amp;nbsp;"Mengapa engkau memalingkan wajahmu dari beliau, padahal beliau adalah wasilahmu dan  wasilah bapakku Nabi Adam as.kepada Allah SWT. Menghadaplah kepada beliau dan  mohonlah pertolongan dengannya, Allah akan memberinya pertolongan dalam apa yang  engkau minta."&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Allah befirman:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon  ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah  mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.&lt;/i&gt;(QS.An-Nisa'  :64).&lt;br /&gt;Keterangan ini disebutkan oleh al-Qodli ‘Iyadl dalam kitab as-Syifa'.&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Bagaimana cara tawasul?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Para ulama telah menerangkan, bahwa tawasul dengan dzat-dzat yang mulia, seperti Nabi SAW, para Nabi dan hamba-hamba Allah itu ada tiga  macam, yaitu:&lt;/blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Memohon      (berdoa) kepada Allah SWT.dengan meminta bantuan mereka. Contoh:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;اللهم إني أسألك بنبيك محمد أو بحقه عليك أو أتوجّه به إليك في كذا....&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Ya Allah, saya memohon kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad&lt;/i&gt; &lt;i&gt;atau  dengan hak beliau atas Kamu atau supaya saya menghadap kepada-Mu dengan Nabi SAW untuk..."&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Meminta kepada      orang yang dijadikan wasilah agar ia memohon kepada Allah untuknya  agar      terpenuhi hajat-hajatnya seperti:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;يا رسول الله، ادع الله تعالى أن يستقينا  أو...&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Ya Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah SWT agar Dia menurunkan hujan atau..."&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Meminta sesuatu      yang dibutuhkan kepada orang yang dijadikan wasilah, dan  meyakininya hanya      sebagai sebab Allah memenuhi permintaannya karena pertolongan orang  yng      dijadikan wasilah dank arena doanya pula. Cara ketiga ini  sebenarnya sama      dengan cara kedua.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;blockquote&gt;Tiga macam cara tawasul ini semua berdasarkan nash-nash yang shahih dan dalil-dalil yang  jelas. Apa dalil tawasul dengan cara yang pertama?&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dalil tawasul dengan cara yang pertama adalah hadits-hadits Nabi SAW antara lain:&lt;/blockquote&gt;&lt;i&gt;"Dari Autsman bin Hunaif ra:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sesungguhnya seorang laki-laki tuna netra datang kepada Nabi SAW dan berkata, "Ya Rasululah, berdo'alah kepada Allah agar  menyembuhkan saya." &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Beliau bersabda, "Jika engkau mau, berdoalah. Dan jika engkau mau bersabarlah (dengan kebutaan) karena hal itu (sabar) lebih baik untuk  kamu." &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Laki-laki itu berkata: "berdo'alah untuk saya, karena mataku  benar-benar benar-benar memberatkan (merepotkan)ku." &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kemudian Nabi SAW memerintahkan si laki-laki itu agar berwudlu, shalat dua rakaat, lalu berdoa seperti doa  dalam hadits yang arti doa itu adalah: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon  kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad, nabi pembawa rahmat.  Ya Muhammad, sesungguhnya aku melalui kamu menghadap kepada Tuhanku dalam  urusan hajatku ini, agar hajat itu dikabulkan kepadaku. Ya Allah, tolonglah  beliau dalam urusanku." &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Si laki-laki itu melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah SAW kemudian pulang dalam keadaan dapat melihat."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Renungkanlah bagaimana Nabi SAW tidak berdoa sendiri untuk kesembuhan mata si tuna  netra, tetapi beliau mengajarkan kepadanya cara berdoa dan menghadap kepada  Allah melalui kedudukan diri beliau &amp;nbsp; &amp;nbsp; dan memohon kepada Allah agar meminta bantuan dengan beliau. Dalam hal ini,  ada dalil yang jelas tentang kesunahan tawasul dan meminta bantuan dengan  dzat Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;Ajaran &lt;i&gt;tawasul&lt;/i&gt; dalam doa yang disebutkan pada hadits  tersebut tidak khusus untuk laki-laki tuna netra itu saja, tetapi umum untuk  umatnya seluruhnya, baik semasa beliau masih hidup atau sesudah wafat. Pemahaman  &lt;i&gt;rawi&lt;/i&gt; dalam menghadapi hadits itu dapat dijadikan &lt;i&gt;hujjah&lt;/i&gt;  sebagaimana diuraikan dalam &lt;i&gt;ilmu ushul&lt;/i&gt;.&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Apa dalil tawasul dengan cara kedua?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Dalilnya banyak, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dari Anas ra.ia berkata:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Ketika Nabi SAW berkhutbah pada hari Jum'at, tiba-tiba ada seorang laki-laki  masuk dar pintu masjid dan langsung menghadap kepda Nabi SAW seraya berteriak: &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Hai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalan telah putus, maka berdoalah kepada Allah supaya menghujani kami. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Rasulullah SAW.lalu mengangkat tangan dan berdo'a, "Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami tiga kali. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anas berkata: "Demi Allah kami melihat awan di langit dan kami hari itu  dituruni hujan begitu juga hari berikutnya. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kemudian si laki-laki itu atau orang lainnya datang dan berkata: "Ya Rasulullah rumah-rumah ambruk dan jalan-jalan  terputus. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kemudian Beliau berdoa: "Allah, turunkanlah hujan disekitar kita  bukan diatas kita," kemudian awan terbelah dan kami keluar berjalan di bawah sinar  matahari.&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Di dalam hadits yang shahih ini ada petunjuk atau dalil, bahwa setiap orang disamping boleh berdoa (memohon)  kepada Allah secara langsung, boleh juga boleh juga mengunakan perantara  orang-orang yang dicintai Allah yang dijadikan oleh-Nya sebagai sebab terpenuhinya  hajat hamba-hambanya.&lt;br /&gt;Disamping itu, karena manusia ketika melihat dirinya masih berlepotan dosa yang membuatnya jauh dari Allah yang tentu saja merasa  layak ditolak permohonannya. Sebab itu, ia menghadap kepada Allah melaui  orang-orang yang dicintai-Nya, ia memohon kepada Allah denga kedudukan dan kemuliaan  para kekasih-Nya, agar Allah mengabulkan hajatnya karena hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya yang mereka itu tidak tahu apa-apa kecuali ta'at  kepada-Nya.&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Apa dalil tawasul yang ketiga?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Dalilnya banyak antara lain:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dari Rabi'ah bin Malik al-Aslami ra.ia berkata Nabi SAW bersabda kepadaku: "Mintalah apa saja yang kamu inginkan." Saya berkata: "Saya memohon kepada-Mu dapat bersama-Mu di  surga." Beliau bersabda: "Selain itu?" Saya berkata: "Hanya itu." Kemudian  beliau bersabda: "Bantulah saya untuk memenuhi keinginanmu dengan memperbanyak  sujud." (HR. Imam Muslim).&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;أن قتادة نعمان أصيب بسهم في عينه عند يوم أحد فسالت على خدّه فجاء إلى رسول  الله وقال عيني يارسول الله فخيره بين الصبر وبين أن يدعو له فاختار الدعاء  فردّها عليه السلام بيده الشريفة إلى موضعها فعادت كما كانت&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Sesungguhnya Qotadah bin Nu'man pada waktu perang Uhud matanta terkena panah sampai keluar ke pipinya, lalu dating  kepada Nabi SAW dan berkata: "mataku Ya Rasulullah." Beliau memberinya pilihan  antara sabar dengan sakit pada matanya itu dan beliau berdoa untuk  kesembuhannya. Qotadah memilih agar Rasulullah menyembuhkannya melalui doa. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Kemudian  beliau mengembalikan mata Qotadah ke tempatnya semula dengan mata beliau yang mulia sehingga kembali normal  seperti semula."&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h3&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/risalah_amaliyah_nahdliyah-pcnu_malang-mar08.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_4"&gt;&lt;/a&gt;ZIARAH  KUBUR &amp;nbsp;&lt;/h3&gt;&lt;h4&gt;Apa hukum ziarah kubur?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Ziarah ke kuburan untuk orang laki-laki sunnah hukumnya. Sebelumnya, yaitu pada permulaan islam ziarah ke kubur memang dilarang. Lalu hukum  larangan ini dinasakh dengan sabda Nabi SAW dan perbuatannya.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ada beberapa hadits berkaitan dengan ziarah kuburan, antara lain:&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Dulu saya telah melarang kamu semua ziarah ke kuburan, maka (sekarang) berziarahlah ke kuburan)."&lt;/i&gt; (HR. imam Muslim)&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها فإنها ترق القلب وتدمع العين وتذكر الأخرة&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Dulu saya telah melarang kamu semua ziarah ke kuburan, maka (sekarang)  berziarahlah ke kuburan, sebab ziarah kubur itu dapat melunakkan hati, mencucurkan air  mata dan mengingatkan akhirat."&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Para ulama menjelaskan bahwa ziarah ke kuburan itu termasuk hal yang biasa dilakukan oleh Nabi SAW dan para  sahabat beliau juga melakukannya. Semasa beliau belum wafat, Nabi SAW juga  mengajarkan kepada sahabatnya tata cara ziarah kubur, ntuk mengingat dan mengambil pelajaran. Sampai saat ini ziarah kubur itu masih berlaku di berbagai  daerah, kota dan pedesaan.&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Apa hukum ziarah kubur bagi kaum wanita?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Lama menerangkan, bahwa ziarah kubur bagi wanita itu makaruh hukumya, karena dikhawatirkan jiwanya selau sedih, mengingat kaum wanita gampang susah dan jarang yang bias menahan sabar terhadap musibah,  terkecuali ziarah ke kuburan para wali, orang-orang sholeh dan lama. Mereka tetap disunahkan untuk mendapatkan barokah. Sebagian ulama membolehkan kaum  wanita berziarah ke kubur secara mutlak, berdasarkan hadits Nabi SAW:&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;أنه صلى الله عليه وسلّم رأى امرأة بمقبرة تبكي على قبر ابنها فقال لها اتقى  الله واصبري&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya Nabi SAW melihat seorang wanita di atas kuburan dengan menangis diatas kuburan anaknya, kemudian beliau bersabda  kepadanya: "Takutlah kepada Allah dan bersabarlah". &lt;/i&gt;HR. Bukhori dan Muslim).&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dalam hadits di atas, Rasulullah menyuruh wanita agar bersabar dan tidak mengingkarinya ziarah kubur.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين ويرحم الله المستقدمين منّا  والمستأخرين وإنّا إن شاء الله بكم لاحقون&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya Nabi SAW mengajarkan Aisyah do'a ketika berziarah ke kuburan beliau  bersabda: "ucapkan:&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Bagaimana halnya dengan sabda Nabi SAW Allah melaknat wanita wanta peziarah kubur?&lt;/h4&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Menurut ulama &lt;i&gt;ahli tahqiq&lt;/i&gt;, hadits tersebut ditakwil, jika ziarah wanita-wanita itu untuk meratapi  dan menangisi yang meninggal, seperti yang berlaku di masyarakat jahiliyah,  maka ziarah kubur seperti itu jelas haram berdasarkan ijma'. Apabila bersih  dari hal-hal tersebut maka tidak diharamkan dan tidak termasuk dalam ancaman  hadits tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Apa hukum melakukan perjalanan ziarah ke makan Rasulullah SAW, makam para Nabi dan para wali?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Ziarah ke makam Rasulullah SAW,  merupakan salah satu perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Demikian juga perjalanan menuju ke  tempat beliau dan juga ke tempat-tempat para Nabi, para wali dan para syuhada'  untuk mendapatkan barokah dari Allah dan mengambil I'tibar. Perjalanan seperti  itu hukumnya mustahab dan banyak faedahnya. Yang terpenting adalah harus  dapat menjaga adab (tata cara) menurut syari'at.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Apa dalil kesunahan perjalanan ziarah itu?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Dalilnya adalah firman Allah SWT: &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya Jikalau mereka  ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun  untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.&lt;/i&gt;(QS.An-Nisa' :64). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Dalam hadits pun telah dijelaskan,  bahwa Nabi SAW tetap hidup di dalam kuburannya. Dengan demikian, berarti  ziarah kepada beliau sesudah wafat seperti ziarah kepada beliau saat hidup.  Dasarnya adalah hadits:&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;من حجّ فزار قبري بعد وفاتى فكأنما زارني في حياتي&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; &lt;i&gt;"Barangsiapa menunaiakan  ibadah ahji, lalu ziarah ke kuburku sesudah aku wafat, maka ia seperti ziarah kepadaku sewaktu aku dalam  keadaan hidup."&lt;/i&gt; (HR. Thabrani).&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;من حج لم يزرني فقد جفاني&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa menunaikan ibadah haji dan enggan berziarah kepadaku, ia benar-benar  juh."&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h3&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/risalah_amaliyah_nahdliyah-pcnu_malang-mar08.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_5"&gt;&lt;/a&gt;AL-Qur'an  dan Shalat&lt;/h3&gt;&lt;h4&gt;Salah satu bentuk pengagungan al-qur'an adalah larangan menyentuhnya apabila tidak suci (hadats). Apakah dalil para ulama'  terhadap hukum ini?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Larangan berasal dari firman Allah SWT:&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Tidak menyentuhnya kecuali  orang-orang yang disucikan. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Yamg diturunkan dari Tuhan semesta alam."&lt;/i&gt; (QS. Al-Waqi'ah: 79-80). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Atas dasar ini para ulama  menyatakan bahwa haram hukumnya menyentuh Al-Qur'an bila tidak punya wudlu. &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Syaikh Zainudddin al-Malibari menyatakan: &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Haram sebab hadats kecil,  melakukan sholat, thawaf, sujud (yakni sujud tilawah dan sujud syukur), membawa  mushaf dan menyentuh kertas yang ditulisi ayat al-Qur'an, walaupun hanya  sebagian ayat." &lt;/i&gt;(fath al-Mu'in, hal 10).&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Apakah menyentuh lain jenis dapat membatalkan wudlu?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;Menurut pendapat  Imam Syafi'I ra, menyentuh lain jenis yang bukan mahram itu membatalkan wudlu, baik yang menyentuh atau orang yang  disentuh. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-Fath al-Manhaji: &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Seorang lak-laki yang menyentuh istrinya atau perempuan ajnabiyah (yang bukan mahramnya) tanpa penghalang maka wudlu laki-laki dan perempuan itu  menjadi batal. Yang dimaksud dengan ajnabiyah (perempuan lain) adalah setiap  wanita yang halal dinikahi." &lt;/i&gt;(al-Fiqh al-Manhaji, juz I, hal 63). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Pendapat ini didasarkan firman Allah SWT.: &lt;i&gt;&amp;nbsp;"Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu  tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)".  (QS. An-Nisa' : 43).&lt;/i&gt; &amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Bagaimana hukum mengucapkan niat (lafal usholli dan seterusnya) ketika hendak melakukan sholat?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Niat merupakan inti dari setiap pekerjaan. Sebab, baik tidaknya pekerjaan itu tergantung pada niatnya. Sebagaimana sabda Nabi SAW.:&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Segala perbuatan hanyalah tergantung niatnya. Dan setiap perkara tergantung  pada apa yang diniatkan." &lt;/i&gt;(Shohih al-Bukhori, no 1). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Demikian juga dalam sholat. Niat adalah rukun yang pertama. Akan tetapi, karena niat tempatnya di dalam hati maka disunnahkan mengucapkan niat tersebut  dengan lisan untuk membantu gerakan hati (niat). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Imam Ramli (wafat tahun 1004 H.)  dalam kitabnya &lt;i&gt;Nihayah al-Muhtaj&lt;/i&gt; mengatakan: &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Disunnahkan mengucapkan apa yang diniati (kalimatusholli) sebelum takbir, agar  supaya lisan bias membantu hati, sehingga bias terhindar dari was-was (keragu-raguan)  hati akibat bisikan syetan). Dan agar bias keluar dari pendapat ulama yang mewajibkan.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Dalam beberapa kessempatan Nabi  SAW pernah melafalkan niat. Misalnya dalam ibadah haji. Dalam sebuah hadits dijelaskan:&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;عن أنس رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلّم يقول لبّيك عمرة وحجا&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; &lt;i&gt;"Dari sahabat Anas ra berkata, saya mendengar Rasulullah SAW mengucapkan,  Labbaika aku sengaja mengerjakan umrah dan haji." &lt;/i&gt;(Shahih Muslim, no 2168).&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Ketika melakukan ruku' dan sujud, disunahkan membaca tasbih (kalimat subhanallah).&lt;/h4&gt;Hanya saja banyak orang yang menambah dengan tahmid (yaitu bacaan wa bihamdihi).  Bagaimana hukum menambah bacaan tahmid tersebut?&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;Membaca tasbih ketika ruku' dan sujud memang sudah menjadi kebiasaan Rasulullah  SAW dalam shalat. Banyak hadits beliau yang menerangkan hal tersebut. Antara  lain hadits beliau yang diriwayatkan dari ‘Aisyah ra:&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;عن عائشة رضي الله عنها قالت أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول في  ركوعه وسجوده: سبّوح قدّوس ربّ الملائكة والروح.&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, beliau berkata bahwa Rasulullah membaca subbuh quddus  rab al-malaikat wa al-ruh ketika ruku' dan sujud." &lt;/i&gt;(Musnad Ahmad bin  Hambal, no 24877) &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Dalam hadits lain disebutkan: &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Diriwayatkan dari Hudzaifah ra, beliau berkata, "aku pernah shalat bersama Nabi SAW. Lalu beliau  membaca subhana robbiyal adzimi dalam ruku'nya. Dan ketka sujud membaca subhana  rab al-a'la. Dan setiap beliau membaca ayat rahmat, Nabi SAW diam lalu  berdo'a (agar rahmat tersebut diberikan kepadanya), sedangkan pada saat membaca  ayat tentang siksa Allah SWT (adzab) beliau selalu memohon perlindungan  kepada Allah SWT." &lt;/i&gt;(Sunan al-Darimi, no 1273). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Kedua hadits ini tidak menyebutkan kata-kata &lt;i&gt;wabihamdihi&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Apakah lalu membaca &lt;i&gt;wabihamdihi&lt;/i&gt;  termasuk bid'ah. Karena tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW? Tentu  saja tidak, sebab dalam hadits lain disebutkan:&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt; &lt;i&gt;"Rabi' bin Nafi'  menceritakan kepada kami, dari Uqbah bin Amir ra, beliau berkata: Bertasbihlah kamu  kepada Tuhanmu Yang Maha Agung," Rasulullah SAW lalu bersabda, "Jadikanlah  bacaan itu dalam setiap ruku'mu." Manakala turun ayat "Bertasbihlah kepada Tuhanmu  Yang Maha Tinggi," Rasulullah kemudian bersabda, kerjakanlah perintah itu  dalam setiap sujudmu." (ada riwayat lain) bahwa ahmad bin Yunus menceritakan  kepada kami sebuah hadits yang diriwayatkan dari Uqbah bin Amir ra dengan  kandungan yang sama, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW kalau ruku' beiau  mengucapkan subhana robbi al- adzimi wa bihamdihi tiga kali." &lt;/i&gt;(Sunan Abi Dawud,  no 736). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Dari sini menjadi jelas bahwa Rasulullah SAW juga menambahkan &lt;i&gt;wabihamdihi&lt;/i&gt; di dalam ruku' dan  sujudnya.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Bagaimana hukum membaca basmalah (bismillahirrohmaanirrohiim) dalam surat  al-Fatihah ketika sholat? Dan kalau wajib, apakah harus dikeraskan bacaannya?&amp;nbsp;&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Membaca surat al-Fatihah merupakan rukun sholat, baik dalam sholat fardlu maupun  shalat sunnah, hal ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;عن عبادة بن الصامت يبلغ به النبي صلى الله عليه وسلّم لاصلاة لمن لم يقرأ  بفاتحة الكتاب&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; &lt;i&gt;"Dari ‘Ubadah bin as-Sholit,  Nabi SAW menyampaikan&amp;nbsp;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;padanya  bahwa tidak sah sholat seseorang yang tidak membaca surat al-Fatihah". &lt;/i&gt;(Shohih Muslim,  no 595). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Sementara basmalah merupakan ayat dari surat al-Fatihah. Maka tidak sah jika  seseorang shalat tanpa membaca &lt;i&gt;basmalah&lt;/i&gt; berdasarkan firman Allah SWT.:&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Dan Sesungguhnya Kami telah  berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang[814] dan Al Quran yang agung."&lt;/i&gt; (QS. Al-Hijr:  87). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Yang dimaksud tujuh yang berulang-ulang adalah surat al-Fatihah. Karena al-Fatihah itu terdiri dari ayat-ayat yang dibaca secara berulang-ulang pada tiap-tiap  raka'at shalat. Dan ayat yang pertama adalah basmalah. &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Dalam sebuah hadits disebutkan: &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Dari Abi Hurairah beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda, "al-hadulillahi robbil ‘alamiin merupakan induk al-Qur'an, pokoknya al-Kitab serta surat  al-Sab'u al-Matsani."&lt;/i&gt; (Sunan Abi Dawud, no 1245). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Berdasarkan dalil ini, imam Syafi'I ra mengatakan bahwa basmalah merupakan bagian  dari ayat yang tujuh dalam surat al-Fatihah, jika ditinggalkan baik seluruhnya  maupun sebagian, maka raka'at shalatnya tidak sah.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Bagaimana hukumnya melafalkan sayyidina ketika membaca Tasyahud?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Kata-kata sayyidina sering kali  digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun diluar shalat. Hal itu termasuk hal yang sangat  utama, karena merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi SAW. &lt;i&gt;Syaikh Ibrahim  bin Muhammad al-Bajuri &lt;/i&gt;menyatakan: &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW) karena yang  lebih utama (dengan menggunakan sayyidina itu) adalah cara beradab (bersopan  santun pada Nabi SAW)."&lt;/i&gt; (Hasyiyah al-Bajuri, juz I hal 156). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;عن ابي هريرة قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم أنا سيد ولد آدم يوم  القيامة وأوّل من ينشق منه القبر وأوّل شافع وأوّل مشفع&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Saya gusti (penghulu) anak Adam pada hari kiamat, orang yang pertama bangkit dari  kuburan, orang yang pertama memberikan syafa'at dan orang yang pertama kali  diberi hak untuk memberikan syafa'at."&lt;/i&gt; (Shohih Muslim, no 4223). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Hadits ini menyatakan bahwa Nabi SAW menjadi Sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad  SAW menjadi sayyid hanya di hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi tuan (sayyid) manusia di dunia dan akhirat. &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Sebagaimana yang dikemukakan oleh  Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani dalam kitabnya &lt;i&gt;Manhaj  al-Salaf fi Fahm al-Nushush bain al-Nadzariyat wa al-Tatthbiq:&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Kata Sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk NAbi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana  yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits. "Saya adalah sayyid-nya anak cucu Adam di hari kiamat. Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan Adam di dunia dan akhirat". (Manhaj al-Salaf fi Fahm  al-Nushush bain al- Nadzoriyat wa Tathbiq, 169)&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu,. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat  manusia yang harus kita hormati sepanjang masa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca &lt;i&gt;sayyidina&lt;/i&gt; katika membaca shalawat  kepada Nabi Muhammad SAW bole-boleh saja, bahkan dianjurkan. Demikian pula ketika  tasyahud di dalam shalat.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Ada sebagian kalangan yang beranggapan kalangan yang beranggapan bahwa qunut  subuh tidak sunnah.&lt;/h4&gt;Bahkan haram hukumnya, karena Rasulullah SAW tidak melakukannya. Bagaimanakah sebenarnya hokum membaca qunut dalam shalat subuh? Apakah  benar Rsulullah tidak melakukannya?&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa hukum membaca qunut pada sholat  shubuh termasuh &lt;i&gt;sunnah ab'ad&lt;/i&gt;. Sebagaimana dikatakan oleh Imam  Nawawi dalam kitabnya al-&lt;i&gt;Majnu&lt;/i&gt;':&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Dalam madzhab kita (madzhab Syafi'i) disunnahkan membaca qunut dalam sholat shubuh, baik ada bala'  (cobaan, bencana, adzhab dll) maupun tidak, inilah pendapat kebanyakan ulama'  salaf dan setelahnya. Diantaranya adalah Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin  al-Khottob, Utsman bin Affan, Ali bin Abbas dan al-Barro' bin ‘Azib ra."&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;al-Maju',&lt;/i&gt;juz  1 hal 504).&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dalil yang bisa dijadikan acuan adalah hadits Nabi SAW:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;"Diriwayatakan dari  Anas bin Malik ra beliau berkata, "Rasulullah SAW senantiasa membaca qunut ketika sholat shubuh sehingga beliau wafat." &lt;/i&gt;(Musnad  Ahmad bin Hambal, no 12196).&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div dir="ltr"&gt;Sedangkan do'a qunut yang warid (diajarkan langsung) oleh Nabi SAW adalah:&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;اللهمّ اهدنا فيمن هديت، وعافنا فيمن عافيت، وتولّنا فيمن تولّيت، وبارك لنا فيما  أعطيت، وقنا شرّ ما قضيت، فإنك تقضى ولايقضى عليك، وإنه لايذلّ من واليت، ولايعزّ  من عاديت، تباركت ربنا وتعاليت، فلك الحمد على ما قضيت، أستغفرك وأتوب إليك&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Ya Allah berilah kami petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah kami  kesehatan seperti orang-orang yang telah Engkau beri kesehatan. Berilah kami  perlindungan sebagaimana orang-orang yang Engkau beri perlindungan. Berilah berkah  kepada segala yang telah Engkau berikan kepada kami. Jauhkanlah kami dari segaa kejahatan yang Engkau pastikan. Sesunggunya Engkau Dzat Yang Maha  Menentukan dan Egkau tidak dapat ditentukan. Tidak akan hina orang yang Engkau  lindungi. Dan tidak akan mulia orang yang Kamu musuhi. Engkau Maha Suci dan Maha  luhur. Segala puji bagi-Mu atas segala yang Engkau pastikan. Kami mohon ampunan  dan bertaubat kepada-Mu."&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Dengan demikian membaca qunut shubuh dalam segala keadaan itu hukumnya sunnah. Karena Nabi Besar  Muhammad SAW selalu melakukannya hingga beliau wafat. &amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Dalam tahiyat ketika membaca illallah, biasanya orang yang sholat mengangkat  jari telunjuknya. Adakah dasar hukumnya? Lalu apa hikmah yang dikandung?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt; Ulama' Syafi'iyah menganjurkan untuk meletakkan kedua tangn diatas paha ketika  sedang duduk tasyahud. Sementara jari-jari tangan kanan digenggam, kecuali  jari-jari telunjuk dan ketika membaca &lt;i&gt;illallah&lt;/i&gt; jari telunjuk tersebut  sunnah diangkat tanpa digerak-gerakkan, dalam sebuah hadits dijelaskan: &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Diriwayatkan dari Ali bin Abdirrohman al-Mu'awi, beliau bercerita bahwa pada suatu saat Ibnu Umar  ra melihat saya sedang mempermainkan kerikil ketika shoat. Ketika saya  selesai shalat, beliau menegur saya lalu berkata, "(Apabila kamu sholat) maka  kerjakan sebagaimana yang dilaksanakan Rasulullah SAW (dalam shalatnya). Ibnu  Umar berkata, "Apabila Nabi Muhammad SAW duduk ketika melaksanakan sholat,  beliau meletakkan telapak tangan kanannya dan menggenggam semua jarinya.  Kemudian berisyarah dengan (menganggkat) jari telunjukknya (ketika mengucapkan illallah), dan meletakkan telapak tangan kirinya diatas paha kirinya". &lt;/i&gt;(Shahih  Muslim, no 193). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Hadits inilah yang dijadikan dasar para ulama tentang kesunahan mengangkat jari telunjuk ketika  tasyahud. Sedangkan dari hikmah tersebut adalah supaya kita meng-esakan Allah SWT. Seluruh tubuh kita men-tauhidkan-Nya dipandu oleh jari telunjuk itu. &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Syeikh Ibnu Ruslan dalam kitab &lt;i&gt;Zubad&lt;/i&gt;nya mendendangkan sebuah syair:&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;وعند إلا الله فالمهملة (*) إرفع لتوحيد الذي صلّيت له&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Ketika mengucapkan illallahu, maka angkatlah jari telunjukmu untuk mengesakan Dzat yang  engkau sembah."(Matan az-Zubad, hal 24).&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Jadi, mengangkat jari telunjuk ketika tasyahud itu disunnahkan karena merupakan teladan Nabi  Muhammad SAW. Perbuatan itu dimaksudkan sebagai symbol sarana untuk mentauhidkan  Allah SWT. &lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Salah satu kebiasaan yang sering kita lihat, setiap selesai dalam shalat,  orang-orang mengusap wajah dengan tangan kanannya. Bagaimana hukumnya?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Setelah berdoa Rasulullullah SAW selalu mengusap wajahnya dengan kedua  tangannya. Dalam sebuah hadits disebutkan:&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;عن السائب بن يزيد عن أبيه أنّ النبي صلّى الله عليه وسلّم كان إذا دعا فرفع  يديه مسح وجهه بيده&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt; &lt;i&gt;"Dari Sa'ib bin Zayid dari ayahnya, "Apabila Rasulullah SAW berdoa beliau selalu mengangkat kedua tangannya lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangnnya." &lt;/i&gt;(Sunan Abu  Dawud, no 1275). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Begitu pula orang yang telah selesai melaksanakan shalat, ia juga disunahkan mengusap wajah dengan  kedua tangannya. Sebab sholat secara bahasa berarti berdoa, karena didalamnya terkandung doa-doa kepada Allah SWT sang Kholik. Sehingga oaring yang mengerjakan sholat juga sedang berdoa. Maka wajar jika setelah sholat ia  juga disunahkan mengusap muka. &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Imam Nawawi dalam kitab &lt;i&gt;al-Adzkar  &lt;/i&gt;mengutip hadits&amp;nbsp; yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW selalu mengusap wajah dengan tangan, sekaligus  tentang doa yang beliau baca setelah salam:&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="arab" dir="rtl"&gt;عن عِمران بن حُصَين رضي الله عنه أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: صلّ  قائما، فإن لم تستطع فقاعدا فإن لم تستطع فعلى جنبك أى: لاتقطعون ذِكره في جميع  أحوالهم بسرائرهم وضمائرهم وألسنتهم&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Kami meriwayatkan (hadits) dalam kitabnya Ibn al-Sunni dari sahabat Anas ra bahwa Rasulullah SAW  apabila setelah selesai melaksanakan sholat beliau mengusap wajahnya dengan  tangan kanannya.. lalu berdoa, "saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Dia Dzat  Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah hilangkanlah dariku kebingungan  dan kesusahan." &lt;/i&gt;(al-Adzkar, hal 69). &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Hal ini menjadi bukti bahwa mengusap muka setelah sholat memang dianjurkan dalam agama. Karena Nabi Muhammad SAW juga mengusap muka setelah shalat. &lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h4&gt;Sudah berlaku di masyarakat, setiap selesai sholat, satu jamaah dengan yang  lainnya saling bersalaman. Itu dilaksanakan pada sholat yang lima waktu. Adakah  dasar ukumnya?&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Bersalaman antar sesama muslim memang sangat dianjurkan oleh Nabi SAW. Hal itu dimaksudkan agar persaudaraan islam semakin kuat dan persatuan umat islam semakin kokoh. &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Salah satu bentuknya adalah anjuran untuk bersalaman apabila bertemu. Bahkan  jika ada saudara muslim yang dating dari bepergian jauh, misalnya habis  melaksanakan ibadah haji, maka disunahkan berangkulan (&lt;/span&gt;mu'anaqoh&lt;span style="font-style: normal;"&gt;). Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW bbersabda:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt; &lt;i&gt;"Diriwayatkan dari al-Barro' bin ‘Azib, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda "Tidakkah dua orang  laki-laki bertemu, kemudian keduannya bersalaman, kecuali diampuni dosanya sebelum  mereka berpisah." (Sunan ibn Majah, no 3693).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt; Berdasarkan hadits inilah ulama' Syafi'iyah mengatakan bahwa bersalaman setelah sholat hukumnya  sunnah. Kalaupun perbuatan itu dikatakan bid'ah, tetapi termasuk dalam kategori  bid'ah mubahah. Imam Nawawi menganggap bahwa hal itu adalah perbuatan yang baik  untuk dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt; &lt;i&gt;"(Soal) apakah berjabat tangan setekah sholat Ashar dan Shubuh memiliki keutamaan ataukah tidak? (jawab) berjabat tangan itu sunnah dilakukan ketiak bertemu. Adapun  orang-orang yang mengkhususkan diri untuk melakukannya setelah dua sholat itu (Ashar  dan Shubuh) maka dianggap bid'ah mubahah. (pendapat yang dipilih),  sesungguhnya kalua seseorang sudah berkumpul dan bertemu sebelum sholat, maka  berjabat tnagn tersebut adalah bid'ah mubahah sebagaimana diatas. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Tapi jika  sebelumnya belum pernah bertemu maka sunnah (bersalaman). Karena seperti itu (dianggap) baru bertemu." (Fatwa al-Imam al-Nawawi,  hal 61).&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Bahkan sebagian ulama mengatakan  bahwa orang yang sholat itu sama dengan orang&amp;nbsp; yag ghoib (tidak ada ditempat karena berpergian atau yang lainnya). Setelah sholat ia seakan akan baru  datang dan bertemu dengan saudaranya yang muslim. Maka ketika tu dianjurkan untuk berjabat  tangan. &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Sebagaimana yang disebutkan dalam  kitab &lt;i&gt;Bughyah al-Mustarsydin:&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;"Bersalaman itu termasuk bid'ah yang muah, dan Imam al-Nawawi menganggapnya sesuatu yang baik.  Tapi hendaknya di tafshil (diperinci), antara orang yang sebelum sholat sudah bertemu, maka salaman itu hukumnya ubah (boleh). Dan jika memang  sebelumnya tidak bersama (tidak bertemu) maka dianjurkan (untuk salaman setelah  salam). Karena salaman itu disunahkan ketika bertemu menurut ujma' ulama'.  Sebagian ulama berpendapat bahwa orang-orang yang sholat seperti orang-orang yang  ghoib (tidak ada/tidak bertemu). Maka baginya disunahkan bersalaman setiap  selesai sholat lima waktu secara mutlak (baik sudah bertemu sebelumnya atau  tidak)." Bughyah al-Mustarsyidin, hal 50-51).&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa hukum bersalaman setelah selesai sholat adalah boleh  bahkan &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt; jika sebelum sholat memang belum pernah bertemu. &lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7952077414346619986-2312686014553073461?l=bulletinarrisaalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/feeds/2312686014553073461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/risalah-amaliyah-nahdliyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/2312686014553073461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/2312686014553073461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/risalah-amaliyah-nahdliyah.html' title='Risalah Amaliyah Nahdliyah'/><author><name>Bulletin Ar-Risaalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='16' src='http://4.bp.blogspot.com/_eaQoFojG5Uw/S_qCG0vgVSI/AAAAAAAAAAM/IzR7PqANidY/S220/logo+bulletin+copy.psd.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7952077414346619986.post-6408089549019482329</id><published>2010-05-27T20:16:00.001+07:00</published><updated>2010-05-27T20:57:59.582+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Aswaja NU'/><title type='text'>Peningkatan Amal dari Ajaran Aswaja</title><content type='html'>Sebagaimana kita ketahui bahwa ajaran dari agama Islam itu terdiri dari  tiga macam, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ajaran tentang Islam, yang dipergunakan untuk membimbing manusia  selaku makhluk yang memiliki nafsu (&lt;i&gt;homo animale&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ajaran tentang Imam, yang dipergunakan untuk membimbing manusia  selaku makhluk yang memiliki akal fikiran (&lt;i&gt;homo rationale&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ajaran tentang Ihsan, yang dipergunakan untuk membimbing manusia  selaku makhluk yang memiliki budi pekerti, atau hati nurani, atau  sarirah, atau 'ainul bashirah (&lt;i&gt;homo somatica&lt;/i&gt;)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Ketiga ajaran agama Islam tersebut, yaitu: Imam, Islam dan Ihsan,  disebut sebagai Risalah Islamiyah atau&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Fithrah Munazzalah&lt;/i&gt;. Sedang  ketiga unsur jiwa manusia tersebut, yaitu: nafsu, akal fikiran dan hati  nurani, disebut sebagai &lt;i&gt;Fithrah Mukhallaqah&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Faham atau aliran Aswaja, dalam bidang: &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Keimanan, mengikuti faham yang dirumuskan oleh Imam Abul Hasan Al  Asy'ari, atau Imam Abu Mansur Al Maturidi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fiqih, mengikuti salah satu dari madzhab empat: Hanafi, Maliki,  Syafi'i, Hambali.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akhlaq/tasawwuf, mengikuti faham yang dirumuskan oleh Imam Junaid Al  Baghdadi dan Imam Al Ghozali serta orang-orang yang sefaham dengan  kedua beliau.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Tujuan utama dari Risalah Islamiyah itu adalah untuk membentuk Insan  Kamil, yaitu manusia yang seluruh aspek hidup dan kehidupannya telah  dijiwai oleh ketiga ajaran agama Islam. Untuk itu setiap muslim dituntut  untuk melakukan peningkatan dalam ketiga bidang ajaran agama Islam  tersebut, baik dari segi kwantitas maupun dari segi kwalitas. &lt;br /&gt;Peningkatan imam dari segi kwantitas, ialah dengan jalan mengamalkan &lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/cabang_iman/index.idx"&gt;cabang-cabang  iman&lt;/a&gt; sebanyak 77 cabang, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi  Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh para ahli hadits sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="teksArab"&gt;اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً ، اَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ  اِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَاَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ ،  وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيْمَانِ . رَوَاهُ الْمُحَدِّثُوْنَ . &lt;/div&gt;&lt;i&gt;Iman itu tujuh puluh tujuh cabangnya. Cabang yang paling utama adalah  mengucapkan kalimah "Laa ilaaha illallaah" dan cabang yang paling  rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan. Dan malu berbuat  maksiat adalah salah satu cabang dari iman. (H.R. para ahli hadits)&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;Ketujuh puluh tujuh cabang iman tersebut dituturkan oleh Syeikh  Zainuddin bin Ali dalam kitab &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syu'abul Iman&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; sebagai  berikut: &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Beriman kepada Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beriman kepada para malaikat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beriman kepada kitab-kitab Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beriman kepada para nabi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beriman kepada hari kiamat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beriman kepada kepada kebangkitan orang yang sudah mati.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beriman kepada qadar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beriman bahwa para makhluk semuanya sesudah dibangkitkan dari kubur,  akan digiring ke padang mahsyar, yaitu tempat pemberhentian mereka di  hari kiamat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beriman bahwa sesungguhnya surga itu adalah tempat tinggal yang  kekal bagi orang muslim.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencintai Allah ta'ala.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Takut kepada siksa Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengharap rahmat Allah ta'ala.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tawakkal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencintai Nabi Muhammad saw. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengagungkan derajat Nabi Muhammad saw.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bakhil dengan agama Islam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencari ilmu;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyebarkan ilmu agama Islam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengagungkan dan menghormati Al Qur'an.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersuci.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menunaikan shalat lima waktu dengan sempurna.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan zakat kepada yang berhak menerimanya dengan niat yang  khusus.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berpuasa pada bulan Ramadlan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I'tikaf.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menunaikan ibadah haji.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berjuang membela agama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempertahankan garis demarkasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tetap dalam memerangi musuh dan tidak lari dari medan pertempuran.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan seperlima dari harta rampasan perang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memerdekakan budak yang mu'min.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membayar kafarat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memenuhi janji.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersyukur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjaga lidah dari omongan yang tidak pantas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjaga kemaluan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menunaikan amanat kepada yang berhak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meninggalkan membunuh orang muslim.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjaga diri dari makanan dan minuman yang diharamkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjaga diri dari harta yang haram.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjaga diri dari pakaian, perhiasan dan tempat (bejana) yang  diharamkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjaga diri dari permaianan-permainan yang dilarang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sederhana dalam membelanjakan harta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meninggalkan dendam dan hasud.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melarang mencela orang-orang muslim, baik di hadapan mereka atau  tidak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ikhlas dalam beramal karena Allah ta'ala.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Senang sebab ta'at, susah sebab kehilangan ta'at dan menyesal sebab  maksiat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bertaubat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyembelih kurban, aqiqah dan hadiah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ta'at kepada ulil amri, mengenai perintah mereka yang berjalan  menurut kaidah-kaidah syara', demikian pula ta'at kepada larangan mereka  yang sesuai dengan  kaidah-kaidah syara'.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berpegang teguh pada apa yang telah disepakati jama'ah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghukumi manusia dengan adil.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyuruh perkara yang telah diketahui kebaikannya dan melarang  parkara yang mungkar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saling membantu dalam kebajikan dan ketaqwaan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Malu kepada Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berbuat baik kepada kedua orang tua.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Silatur rahim.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berbudi pekerti yang baik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berbuat baik kepada budak belian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketaatan budak kepada majikannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjaga hak isteri dan anak-anak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyintai ahli agama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjawab salam dari orang-orang muslim.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengunjungi orang yang sakit.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyalati mmayit yang muslim.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membacakan "tasymit" kepada orang yang bersin yang membaca  "hamdalah".&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjauhi setiap orang yang berbuat kerusakan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memuliakan tetangga.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memuliakan tamu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menutupi cacat orang-orang muslim.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sabar dalam menjalankan keta'atan sehingga dapat melaksanakannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Zuhud.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cemburu dan tidak membiarkan isterinya bercumbu rayu dengan  laki-laki lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berpaling dari omongan yang tidak berguna.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dermawan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghormati orang tua dan menyayangi anak muda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendamaikan pertikaian yang ada di antara orang-orang muslim.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencintai untuk orang lain apa saja yang dicintai untuk dirinya  sendiri.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sedang meningkatkan kwalitas iman, adalah berusaha meningkatkan iman  dari &lt;i&gt;'ilmul yaqin&lt;/i&gt;, menjadi &lt;i&gt;'ainul yaqin&lt;/i&gt; dan terakhir  menjadi &lt;i&gt;haqqul yaqin&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan amal Islam dari segi kwantitas harus dilakukan dengan jalan  mem-perbanyak jumlah amal ibadah yang dikerjakan dan berusaha untuk  menjalankannya dengan istiqamah. Sedang meningkatkan amal Islam dari  segi kwalitas harus dilakukan dengan jalan melakukan amal ibadah karena  takut kepada siksa Allah, menjadi karena mengharapkan sorga Allah, dan  terakhir karena semata-mata ingin mendekat-kan diri kepada Allah.  &lt;br /&gt;Meningkatkan amal Ihsan dari segi kwantitas, harus dilakukana dengan  jalan mem-bersihkan hati dari akhlak-akhlak yang tersela yang induknya  oleh Imam Al Ghazali disebutkan sebanyak 10, kemudian menghiasi hatinya  dengan akhlak-akhlak yang terpuji yang induknya oleh Imam Al Ghazali  disebutkan sebanyak 10. &lt;br /&gt;Sepuluh induk akhlak tercela: &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tamak terhadap makanan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tamak kepada omongan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Suka marah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hasud&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bakhil dan senang harta&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ambisi dan gila hormat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Senang dunia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ujub atau membanggakan diri&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Takabur&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Riya' atau mencari simpati dari selain Allah dengan amal ibadah&lt;br /&gt;Sepuluh induk akhlak terpuji:&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bertaubat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Khauf dan raja'&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Zuhud&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sabar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Syukur&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ikhlas dan jujur&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tawakkal&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cinta kepada Allah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rela kepada ketentuan Allah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selalu mengingat mati dan hakekatnya&lt;br /&gt;Sedang meningkatkan amal Ihsan dari segi kualitas adalah berusaha  meningkatkan diri dari tingkat orang awam menjadi orang shalih. Dari  tingkat orang shalih menjadi orang yang bertaqwa. Dari orang yang  bertaqwa menjadi orang yang mencintai Allah. Dari orang yang mencintai  Allah menjadi ahli ma'rifat. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Pemakalah:&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;img align="left" height="36" src="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/images/kh_masduqi.jpg" style="padding-right: 10px;" width="36" /&gt; H. Achmad Masduqi Machfudh&lt;br /&gt;Malang, 10 Agustus 1996&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7952077414346619986-6408089549019482329?l=bulletinarrisaalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/feeds/6408089549019482329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/peningkatan-amal-dari-ajaran-aswaja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/6408089549019482329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/6408089549019482329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/peningkatan-amal-dari-ajaran-aswaja.html' title='Peningkatan Amal dari Ajaran Aswaja'/><author><name>Bulletin Ar-Risaalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='16' src='http://4.bp.blogspot.com/_eaQoFojG5Uw/S_qCG0vgVSI/AAAAAAAAAAM/IzR7PqANidY/S220/logo+bulletin+copy.psd.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7952077414346619986.post-2271299054131128761</id><published>2010-05-27T20:14:00.003+07:00</published><updated>2010-05-27T20:58:50.069+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Aswaja NU'/><title type='text'>Kilas Sejarah Seputar Pendirian NU: Dukungan KH Kholil Bangkalan terhadap KH. Hasyim Asy'ari</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Artikel  ini dikutip dari buletin Nahdliyah yang diterbitkan PCNU  Pasuruan edisi 1 dan 2 September dan Oktober 2006. Artikel ini dimuat  kembali agar generasi muda NU dan simpatisannya semakin memahami NU dan  mempertebal keimanan Ahlussunnah wal Jamaahnya.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam  proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab  Chasbullah (Surabaya asal Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan  Kiai Cholil  (Bangkalan). Mujammil Qomar, penulis buku "NU Liberal: Dari  Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam", melukiskan peran  ketiganya sebagai berikut Kiai Wahab sebagai pencetus ide, Kiai Hasyim  sebagai pemegang kunci, dan Kiai Cholil sebagai penentu berdirinya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentu selain dari ketiga tokoh ulama tersebut , masih ada beberapa  tokoh lainnya yang turut memainkan peran penting. Sebut saja KH. Nawawie  Noerhasan dari Pondok Pesantren Sidogiri.  Setelah meminta restu kepada&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;Kiai Hasyim seputar rencana pendirian Jamiyyah. Kiai Wahab oleh Kiai  Hasyim diminta untuk menemui Kiai Nawawie. Atas petunjuk dari Kiai  Hasyim pula, Kiai Ridhwan-yang diberi tugas oleh Kiai Hasyim untuk  membuat lambang NU- juga menemui Kiai Nawawie. Tulisan ini mencoba  mendiskripsikan peran Kiai Wahab, Kiai Hasyim, Kiai Cholil dan  tokoh-tokoh ulama lainnya dalam proses berdirinya NU.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Keresahan Kiai Hasyim&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bermula dari keresahan batin yang melanda Kiai Hasyim. Keresahan itu  muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan  ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah  wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, untuk  urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok  pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan  sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga  masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh  lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu muncul dari forum diskusi  Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di  Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran”  ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya  terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait  dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta  forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka  Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu  merupakan tokoh ulama pesantren yag sangat berpengaruh di Jawa Timur. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah, hati Kiai Hasyim resah.  Gelagat inilah yang nampaknya "dibaca" oleh Kiai Cholil Bangkalan yang  terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (&lt;i&gt;mukasyafah&lt;/i&gt;). Dari  jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim.  Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan  hati yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil  salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal  sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung  cucunya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Tongkat “Musa”&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini  kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik, Kiai,” jawab As’ad  sambil menerima tongkat itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Setelah membeerikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut kepada  Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat  Thaha ayat 17-23.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;Allah berfirman: ”Apakah itu yang di tangan kananmu, hai musa?  Berkatalah Musa : ‘ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku  pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan  yang lain padanya’.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!”  Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular  yang merayap dengan cepat”, Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan  takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah  tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa  cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan  kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.”&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai Cholil memberikan dua  keeping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos ke Jombang.  Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai  Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya  erat-erat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski sudah dibekali uang, namun As’ad  memilih berjalan kaki ke  Jombang. Dua keeping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia simpan di  sakunya sebagai kenagn-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil itu  teramat berharga untuk dibelanjakan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim.  Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad  merupakan utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan  Kiai Hasyim, As’ad segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya   diutus oleh Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat  ini,” kata As’ad seraya menyerahkan tongkat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan penuh perasaan. Terbayang  wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah  selama menjadi santri juga terbayang  dipelupuk matanya. “Apa masih ada  pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!” jawab  As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan  kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak  keberatan apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk  mendirikan Jamiyyah. Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah  terus dimatangkan. Meski merasa sudah mendapat lampu hijau dari Kiai  Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta mewujudkan niatnya untuk mendirikan  jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah dengan para kiai lainnya,  terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi Pengasuh Pondok  Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil Bangkalan)  dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin  Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk menemui Kiai Nawawie.  Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera berangkat ke Sidogiri  untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab segeraa menuju  kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai Wahab  langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Kiai Wahab yang  menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai Nawawie tidak serta merta  pula langsung mendukungnya, melainkan memberikan pesan untuk  berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri itu  supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak  pakai uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai  Nawawi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat sampai dengan  perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah  rupanya berjalan cukup lama.  Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan  tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak  kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, maskih  tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung  dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna  bagi ummat Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim  dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya  diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad sambil  menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya  Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan  dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil  itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk  melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah.  Sedangkan bacaan Asma Allah,  bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh  upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir  sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa  dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang  sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak  bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma  Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa,  keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang. Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk  mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil  meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih  belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, “jabang  bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama  (NU).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah para ulama sepakat mendirikan jamiyyah yang diberi nama NU,  Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Nashir untuk membuat lambangnya.  Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat gambar bumi dan  bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan menghadap  Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya. “Gambar  ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri  untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai  Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh Kiai Hasyim diminta membuat gambar  lambang NU. Setelah saya buat gambarnya, Kiai Hasyim meminta saya untuk  sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih lanjut,” papar Kiai Ridhwan  seraya menyerahkan gambarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah memandang gambar lambang NU secara seksama, Kiai Nawawie  memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar bumi dan  sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.”  Selain itu, Kiai Nawawie jug a meminta supaya tali yang mengikat gambar  bumi ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih  kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Bapak Spiritual&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendirian NU  yaitu sebgai penentu berdirinya, sebenarnya masih ada satu peran lagi,  peran penting lain yang telah dimainkan oleh Kiai Cholil Bangkalan.  Yaitu peran sebagai bapak spiritual bagi warga NU. Dalam tinjauan  Mujammil Qomar, Kiai Cholil layak disebut sebagai bapak spiritual NU  karena ulama asal Bangkalan ini sangat besar sekali andilnya dalam  menumbuhkan tradisi tarekat, konsep kewalian dan haul (peringatan  tahunan hari kematian wali atau ulama).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam ketiga masalah itu, kalangan NU berkiblat kepada Kiai Cholil  Bangkalan karena ia dianggap berhasil dalam menggabungkan kecenderungan  fikih dan tarekat dlam dirinya dalam sebuah keseimbangan yang tidak  meremehkan kedudukan fikih. Penggabungan dua aspek fikih dan tarekat itu  pula yang secara cemerlang berhasil ia padukan dalam mendidik  santri-santrinya. Selain membekali para santrinya dengan ilmu-ilmu lahir  (eksoterik) yang sangat ketat –santrinya tak boleh boyong sebelum hafal  1000 bait nadzam Alfiah Ibn Malik, ia juga menggembleng para santrinya  dengan ilmu-ilmu batin (esoterik).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kecenderungan yang demikian itu bukannya tidak dimiliki oleh pendiri  NU lainnya. Tokoh lainnya seperti Kiai Hasyim, memiliki otoritas yang  sangat tinggi dalam bidang pengajaran kitab hadits shahih Bukhari, namun  memiliki pandangan yang kritis terhadap masalah tarekat, konsep  kewalian dan haul. Kiai Hasyim merupakan murid kesayangan dari Syaikh  Mahfuzh at Tarmisi. Syaikh Mahfuzh adalah ulama Indonesia pertama yang  mengajarkan kitab  hadits Shahih Bukhari di Mekkah. Syaikh  Mahfuzh  diakui sebagai seorang mata rantai (isnad) yang sah dalam transmisi  intelektual pengajaran kitab Shahih Bukhari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena itu, Syaikh Mahfuzh berhak memberikan ijazah kepada  murid-muridnya yang berhasil menguasai kitab  Shahih Bukhari. Salah  seorang muridnya yang mendapat ijazah mengajar Shahih Bukhari adalah  Kiai Hasyim Asy’ari. Otoritas Kiai Hasyim pada pengajaran kitab hadits  Shahih Bukhari ini diakui pula oleh Kiai Cholil Bangkalan. Di usia  senjanya, gurunya itu sering nyantri pasaran (mengaji selama bulan  puasa) kepada Kiai Hasyim. Ini merupakan isyarat pengakuan Kiai Cholil  terhadap derajat keilmuan dan integritas Kiai Hasyim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai ulama yang otoritatif dalam bidang hadits, Kiai Hasyim  memiliki pandangan yang kritis terhadap perkembangan aliran-aliran  tarekat yang tidak memiliki dasar ilmu hadits. Ia menyesalkan timbulnya  gejala-gejala penyimpangan tarekat dan syariat di tengah-tengah  masyarakat. Untuk itu, ia menulis kitab al Durar al Muntasyirah fi  Masail al Tis’a’Asyarah yang berisi petunjuk praktis agar umat Islam  berhati-hati apabila hendak memasuki dunia tarekat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain kritis dalam memandang tarekat, Kiai Hasyim juga kritis dalam  memandang kecenderungan kaum Muslim yang dengan mudah menyatakan  kewalian seseorang tanpa ukuran yang jelas dan dapat  dipertanggungjawabkan secara teologis. Terhadap masalah ini, Kiai Hasyim  memberikan pernyataan tegas: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;“Barangsiapa mengaku dirinya sebagai wali tetapi tanpa kesaksian  mengikuti syariat Rasulullah SAW, orang tersebut adalah pendusta yang  membuat perkara tentang Allah SWT.”&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih tegas beliau menyatakan: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;“Orang yang mengaku dirinya wali Allah SWT, orang tersebut bukanlah  wali yang sesungguhnya melainkan hanya wali-walian yang jelas salah  sebab dia mengatakan &lt;i&gt;sir al-khushusiyyah&lt;/i&gt; (rahasia-rahasia  khusus) dan dia membuat kedustaan atas Allah Ta’ala.”&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian pula terhadap masalah haul. Selain Kiai Hasyim, para pendiri  NU lainnya seperti Kiai Wahab dan Kiai Bisri Syansuri juga bersikap  kritis terhadap konsep haul dan mereka menolak untuk di-haul-i (Qomar,  2002). Akan tetapi di kalangan NU sendiri, acara haul telah menjadi  tradisi yang tetap dipertahankan sampai sekarang. Para wali atau kiai  yang meninggal dunia, setiap tahunnya oleh warga nahdliyih akan  di-haul-i dengan serangkaian kegiatan seperti ziarah kubur, tahlil dan  ceramah agama untuk mengenang perjuangan mereka agar dapat dijadikan  teladan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa masalah tarekat, konsep kewalian dan haul yang mendapat  kritikan pedas dari Kiai Hasyim tersebut, justru ditradisikan di  kalangan NU? Apakah warga NU sudah tidak lagi mengindahkan peringatan  Kiai Hasyim? Untuk memastikan jawabannya, menurut Mujammil Qomar, agak  sulit, mengingat NU bisa berkembang pesat juga karena usaha dan pengaruh  Kiai Hasyim. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wallahu a’lam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Penulis&lt;/b&gt;: &lt;br /&gt;&lt;i&gt;Moh. Syaiful Bakhri&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Penulis buku "Syaikhona Cholil Bangkalan: Ulama Legendaris dari  Madura" dan sekretaris Lajnah Ta'lif Wan Nasr NU Kabupaten Pasuruan.  Pemuatan artikel ini juga merupakan penghormatan dan dukungan moril  kepada PCNU Kab. Pasuruan yang berusaha mendorong terciptanya masyarakat  yang maju, sejahtera dan berakhlakul karimah dengan menerbitkan buletin  dua bulanan. Semoga usaha penerbitan ini bisa istiqamah.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7952077414346619986-2271299054131128761?l=bulletinarrisaalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/feeds/2271299054131128761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/kilas-sejarah-seputar-pendirian-nu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/2271299054131128761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/2271299054131128761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/kilas-sejarah-seputar-pendirian-nu.html' title='Kilas Sejarah Seputar Pendirian NU: Dukungan KH Kholil Bangkalan terhadap KH. Hasyim Asy&apos;ari'/><author><name>Bulletin Ar-Risaalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='16' src='http://4.bp.blogspot.com/_eaQoFojG5Uw/S_qCG0vgVSI/AAAAAAAAAAM/IzR7PqANidY/S220/logo+bulletin+copy.psd.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7952077414346619986.post-6785715491678640830</id><published>2010-05-27T20:12:00.004+07:00</published><updated>2010-05-27T21:00:30.106+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Aswaja NU'/><title type='text'>Ahlus Sunnah wal Jamaah &amp; Ijtihad</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebagian kecil masyarakat ada yang mengidentikkan pengertian &lt;i&gt;Ahlus  Sunnah wal Jamaah&lt;/i&gt; dengan masalah &lt;i&gt;khilafiyah&lt;/i&gt; sekitar &lt;i&gt;tahlil,  talqin, qunut&lt;/i&gt;, bacaan &lt;i&gt;ushalli&lt;/i&gt; dalam mengawali salat, dan  lain sebagainya. Sebenarnya masalah yang terkait dengan &lt;i&gt;Ahlus sunnah  wal jamaah&lt;/i&gt; jauh lebih mendasar, bukan hanya permasalahan yang sering  dipertentangkan sebagai &lt;i&gt;khilafiyah&lt;/i&gt; tersebut. Karena itu kiranya  generasi muda perlu mendapatkan pemahaman yang wajar tentang masalah ini  guna menghindari pertikaian, perselisihan, dan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;  percekcokan yang tidak  diketahui permasalahan yang sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Asal kata&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Nabi Muhammad saw dalam salah satu haditsnya bersabda bahwa umat Islam  nantinya terpecah dalam berbagai kelompok yang berbeda pendapat sebanyak  73 golongan. Dari seluruh golongan tersebut, yang selamat, tidak di  neraka, hanya satu yaitu yang disebut dengan &lt;i&gt;Ahlus Sunnah wal Jamaah&lt;/i&gt;, Ketika ditanya tentang artinya, beliau menjawab singkat:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="teksArab" style="text-align: right;"&gt;مَا اََنَا عَلَيْهِ اْليَوْمَ وَاَصْحَابِيْ &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Segala yang aku berada di atasnya sekarang bersama para sahabatku,  atau segala yang aku lakukan bersama sahabat-sahabatku.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;istilah &lt;i&gt;ahlus sunnah wal jamaah&lt;/i&gt; sudah pernah dipergunakan  oleh Nabi saw sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;secara garis besar sudah diterangkan pula artinya. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/aswaja.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_2"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pengertian&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Berdasar hadits tersebut dapat diuraikan pengertian sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kata &lt;i&gt;&lt;b&gt;ahlun&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, ahlu atau ahli, berarti kaum atau  golongan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kata &lt;i&gt;&lt;b&gt;assunnah&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; artinya tingkah laku, kebiasaan, ucapan,  perbuatan atau sikap Nabi saw. Sama persis dengan arti hadits, bahkan  ada pendapat bahwa assunnah lebih mendalam dari pada hadits, yaitu sikap  yang berulang-ulang menjadi kebiasaan atau karakteristik.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kata &lt;i&gt;&lt;b&gt;wa&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;wal&lt;/i&gt; adalah kata sambung, berarti  "dan".&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kata &lt;i&gt;&lt;b&gt;aljamaah&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, semula berarti kelompok. Dalam hal ini  pengertiannya sudah mengkhusus menjadi kelompok sahabat Nabi. Istilah  sahabat Nabi artinya sudah mengkhusus pula, yaitu mereka yang beriman  kepada Nabi dan hidup sezaman atau pernah berjumpa dengan beliau.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/aswaja.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_3"&gt;&lt;/a&gt;Analisis&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Arti kata demi kata tersebut dapat dianalisis sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kata &lt;i&gt;&lt;b&gt;ahlu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; sudah jelas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kata &lt;i&gt;&lt;b&gt;assunnah&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; dalam arti sempit hanya mencakup hadits,  belum mencakup al-Quran, sumber pertama dari ajaran Islam. Tetapi kalau  diingat bahwa Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah tidak pernah  seujung rambut pun berbeda sikap dengan firman Allah (al-Quran), maka  dapat dipastikan bahwa mengikuti assunnah pasti mengikuti al-Quran.  Bahkan al-Quran itu dapat sampai kepada kita melalui beliau. Jadi &lt;b&gt;&lt;i&gt;ahlussunnah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;  pasti &lt;i&gt;&lt;b&gt;ahlul Quran&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, tidak bisa lain.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kata &lt;b&gt;&lt;i&gt;wa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; menunjukkan bahwa kedua hal yang disebut  sebelum dan sesudahnya adalah sama, meskipun tidak sederajat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kata &lt;b&gt;&lt;i&gt;aljamaah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; berarti para sahabat, terutama sahabat  terkemuka. Mereka adalah orang-orang paling dekat dan selalu bersama  Nabi. Mereka buka saja membaca atau mendengar sesuatu hadits, tetapi  juga menghayati sesuatu yang tersurat pada hadits karena para sahabat,  terutama sahabat terkemuka mengetahui: &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;sebab musabab sesuatu hadits timbul,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;situasi pada saat timbul sesuatu hadits, dan &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;hubungan sesuatu hadits dengan hadits yang lain, dengan ayat  al-Quran, dengan kebiasaan atau tingkah laku Nabi sehari-hari dan  sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Kalau kita membaca sebuah hadits diibaratkan melihat sebuah potret, maka  mereka lebih mengetahui obyek yang dipotret dan mengenal daerah  sekitarnya, mengenal orang-orang yang ada pada potret itu. Mereka lebih  menghayati hadits atau sunnah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Faktor penghayatan mereka sangat penting sekali nilainya sebagai bahan  pertimbangan utama untuk menyimpulkan sesuatu pendapat mengenai arti  sesuatu hadits. Memang penghayatan atau pendapat para sahabat terkemuka  tidak termasuk sumber hukum agama Islam sebagaimana al-Quran dan  al-Hadits yang sahih. Tetapi mengabaikan atau meremehkan  pendapat/penghayatan para sahabat terkemuka adalah suatu sikap yang  kurang bijaksana. Apalagi kalau pengabaian atau peremehan hanya berdasar  atas pendapat pihak yang meyakinkan penghayatan dan ketajaman  analisisnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Bukan suatu hal yang mustahil ada sesuatu sikap atau tingkah laku Nabi  yang dilihat dan dihayati oleh para sahabat terkemuka tetapi beritanya  tidak sampai kepada kita. Mungkin tidak terbaca oleh kita, atau mungkin  tidak tercatat oleh para pencatat hadits. Itulah antara lain sebabnya,  masalah tarawih 20 rakaat, berdasar pendapat atau penghayatan sahabat  Umar bin Khattab dan tidak ditentang oleh para sahabat lainnya diterima  sebagai sesuatu yang benar. Demikian pula adzan dua kali untuk salat  Jumat berdasar pendapat sahabat Utsman bin Affan.  Sudah tentu &lt;i&gt;nash  sharih&lt;/i&gt; selalu didahulukan dari pendapat siapa pun. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Penilaian yang tinggi terhadap penghayatan para sahabat terbukti dengan  bunyi hadits di atas, yang oleh Nabi sendiri dirangkaikan antara &lt;b&gt;assunnah&lt;/b&gt;  dengan &lt;b&gt;aljamaah&lt;/b&gt;. Nabi pernah bersabda yang maksudnya bahwa para  sahabatnya adalah ibarat bintang-bintang, yang dengan siapa saja kalau  kamu sekalian mau ikut, maka kamu sekalian akan mendapat petunjuk.  Meskipun demikian, tetaplah al-Hadits merupakan sumber kedua dari agama  Islam di samping al-Quran, sedangkan penghayatan para sahabat terkemuka  adalah petunjuk utama untuk mencapai garis kebenaran yang ada pada  al-Quran dan al-Hadits. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Dengan pengertian inilah kata &lt;b&gt;assunnah&lt;/b&gt; dengan &lt;b&gt;aljamaa&lt;/b&gt;  dirangkaikan. Assunnah diartikan sebagaimana diuraikan di atas, dan  aljamaah diartikan penghayatan dan amalan para sahabat terkemuka sebagai  petunjuk pembantu untuk mencapai ketepatan memahami dan mengamalkan  assunnah. Oleh karena itu disimpulkan pengertian: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;assunnah wal jamaah&lt;/b&gt;: persis sama dengan  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="teksArab"&gt;مَا اََنَا عَلَيْهِ اْليَوْمَ وَاَصْحَابِيْ &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; , yaitu: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;ajaran yang dibawa, dikembangkan, dan diamalkan oleh Nabi Muhammad  saw, dan &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;dihayati, diikuti, dan diamalkan pula oleh para sahabat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;ahlussunnah wal jamaah&lt;/b&gt; ialah golongan yang berusaha selalu  berada pada garis kebenaran &lt;i&gt;assunnah wal jamaah&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Secara popular dan mudah, tetapi berbau reklame dan agitasi dapat  dirumuskan bahwa &lt;b&gt;ahlussunnah wal jamaah&lt;/b&gt; adalah golongan yang  paling setia kepada Nabi Muhammad saw.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/aswaja.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_4"&gt;&lt;/a&gt;Proses  perkembangan&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Sinyalemen Nabi tentang golongan dan perbedaan yang timbul ternyata  benar. Maklum, bahwa hal yang disabdakan oleh beliau selalu berdasar  wahyu Allah. Setelah beliau wafat mulai timbul orang-orang yang kemudian  menjadi kelompok dan golongan, yang berangsur-angsur membedakan diri,  memisahkan diri, dan mulai menyimpang dari garis lurus &lt;i&gt;assunnah wal  jamaah&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Faktor utama yang menyebabkan pembedaan, pemisahan, dan penyimpangan  ialah sikap &lt;i&gt;tatharruf&lt;/i&gt; atau ekstrimisme, berlebih-lebihan di dalam  memegang pendirian atau melakukan sesuatu perbuatan. Sebagaimana adat  dunia, tiap ada yang berlebihan ke kanan, biasanya timbul pihak yang  berlebihan ke kiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Hal yang menonjol dalam sejarah ialah kebangkitan golongan &lt;b&gt;Syiah&lt;/b&gt;  yang berlebihan mencintai famili Nabi, sehingga menyalahkan sahabat Abu  Bakar ra dan lain-lain. Sikap berlebihan ini makin lama makin hebat dan  menimbulkan tandingan yang berlebihan pula, tetapi berlawanan arah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Kemudian muncul golongan &lt;b&gt;Khawarij&lt;/b&gt; yang terlalu kaku, radikal.  Semula mereka tergolong Syiah, tetapi ketika ada usaha kompromi antara  Syiah dan anti Syiah, maka golongan ini melepaskan diri dan menamakan  diri Khawarij. Kalau golongan Syiah dapat disebut terlalu emosional  sentimental atau terlalu mengikuti perasaan, maka golongan Khawarij  dapat disebut terlalu radikal anarkis yang memusuhi semua pihak, tidak  mau diatur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Pada zaman berikutnya muncul lagi golongan &lt;b&gt;Mu'tazilah&lt;/b&gt; yang  terlalu memuja akal, sehingga kalau ada dalil nash yaitu al-Quran dan  al-Hadits yang tidak atau kurang sesuai dengan selera pikiran, maka  dipaksakan penafsiran menurut selera mereka yang terlalu rasionalistis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Semula perbedaan atau penyimpangan kecil, makin lama membesar dan makin  parah. Tiap penyimpangan disusul dengan penyimpangan, bercabang-cabang  menjadi semrawut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Hal-hal lain yang menambah keparahan perbedaan atau penyimpangan, bahkan  penyelewengan dan bentrokan adalah: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kepentingan famili, politik, dan kekuasaan, Kepentingan politik  telah menimbulkan golongan pro dan kontra Utsman bin Affan dan Ali bin  Abu Thalib, berkelanjutan dengan golongan Umawiyah dan Abbasiyah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Infiltrasi kaum munafik yang berpura-pura Islam. Infiltrasi kaum  munafik secara halus telah banyak menimbulkan pertentangan antara lain  pernah ada 'anti Aisyah'.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sisa-sisa kepercayaan lama dan &lt;i&gt;israiliyat&lt;/i&gt; yang sedikit banyak  masih ada pada pemeluk Islam baru dari berbagai unsur seperti Majusi,  Yahudi, Nasrani, dan lain-lain terselundup di kalangan kaum muslimin  baik disengaja maupun tidak. Dongeng-dongeng yang tidak ada dasarnya  dalam Islam adakalanya dianggap seperti dari Islam.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pengaruh filsafat barat, Yunani. Filsafat Yunani yang diungsikan  dari barat karena dimusuhi oleh kaum Masehi banyak diterima,  diterjemahkan, dan dikembangkan oleh sarjana-sarjana Islam. Disamping  kemajuan berpikir yang positif, hal ini berakibatsampingan timbul sikap  terlalu akal-akalan sehingga akidah Islam yang mudah dan logis menjadi  rumit dan sulit.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Disamping penyimpangan dan penyelewengan yang semrawut, masih cukup kuat  dan besar kaum muslim yang tetap berada pada jalan lurus dengan tokoh  para ulama &lt;i&gt;shalihin mukhlishin&lt;/i&gt;, ahli agama yang beramal saleh dan  yang ikhlas. Mereka juga disebut ulama salaf yang berusaha, berjuang,  dan bekerja keras memelihara, mempertahankan, menyiarkan, dan  mengembangkan &lt;i&gt;assunnah wal jamaah&lt;/i&gt; serta membentengi umat Islam  dari unsur-unsur penyelewengan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/aswaja.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_5"&gt;&lt;/a&gt;Prinsip  kebenaran&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Selain perjuangan praktis insidental mengajarkan assunnah wal jamaah dan  menolak serangan atau penyelewengan, mereka juga berusaha keras  mempersenjatai umat Islam dengan prinsip, metoda, dan haluan untuk tetap  berada pada garis kebenaran &lt;i&gt;assunnah wal jamaah&lt;/i&gt; agar terbentengi  dari penyelewengan. Metoda, haluan atau pedoman dimaksud antara lain: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;nash&lt;/i&gt; yang &lt;i&gt;qath'iy&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, yaitu al-Quran dan hadits  sahih yang jelas tegas artinya selalu didahulukan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;ar-ra'yu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, akal pikiran dipergunakan dalam hal nash  tidak &lt;i&gt;qath'iy&lt;/i&gt; atau tidak ada /nash/nya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;penggunaan &lt;i&gt;ar-ra'yu&lt;/i&gt; untuk menyimpulkan hukum agama yang lazim  disebut &lt;b&gt;ijtihad&lt;/b&gt; hanya dilakukan oleh mereka yang memenuhi syarat  yang ketat supaya hasilnya selalu berada pada garis kebenaran &lt;i&gt;assunnah  wal jamaah&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;bagi yang tidak mampu memenuhi syarat tersebut dipersilakan  mengikuti hasil ijtihad para ahli yang memenuhi syarat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;sikap &lt;b&gt;&lt;i&gt;tawassuth&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yaitu sikap tegak lurus yang tidak  membelok ke kanan atau ke kiri dan sikap &lt;b&gt;&lt;i&gt;tawazun&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; yaitu  sikap berkeseimbangan yang tidak berat sebelah harus selalu menjadi  pedoman dalam segala hal ketika menghadapi segala masalah agar tidak  terjerumus kepada penyelewengan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Metoda yang dibekalkan oleh para ulama &lt;i&gt;salaf, shalihin, mukhlishin&lt;/i&gt;  kepada umat Islam adalah agar selalu berada pada garis kebenaran &lt;i&gt;assunnah  wal jamaah&lt;/i&gt;. Tokoh paling terkenal di kalangan Islam yang pendapat  dan hasil ijtihadnya diakui oleh dunia Islam sepanjang sejarah sebagai  pendapat yang berada pada garis kebenaran &lt;i&gt;assunnah wal jamaah&lt;/i&gt;  antara lain: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bidang akidah, tauhid, atau kepercayaan: &lt;b&gt;Imam Abul Hasan  al-Asy'ariy&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Imam Abu Mansur al-Maturidiy&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bidang syariah, fikih, atau hukum: &lt;b&gt;Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam  Syafi'iy&lt;/b&gt;, dan &lt;b&gt;Imam Hambali&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Sebenarnya masih banyak lagi selain yang disebut di atas, namun  merekalah yang paling terkenal yang pendapat, hasil ijtihadnya, dan  hasil perumusannya dapat dibukukan serta dipelajari sampai sekarang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/aswaja.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_6"&gt;&lt;/a&gt;Argumentasi&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Berdasarkan pedoman yang telah dibekalkan oleh para ulama &lt;i&gt;salaf  shalihin mukhlishin&lt;/i&gt; tersebut dapat dikemukakan argumentasi: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; 1. &lt;b&gt;Nash qath'iy&lt;/b&gt; yang harus didahulukan sebelum penggunaan akal  pikiran adalah memang sudah menjadi konsekuensi wajar atas syahadat  kita, yaitu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang membawa  konsekuensi taat kepada al-Quran; dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad  utusan Allah yang membawa konsekuensi taat kepada al-Hadits. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; 2. &lt;b&gt;Ar-ra'yu&lt;/b&gt; yang dipergunakan adalah berdasar hadits ketika Nabi  Muhammad saw mengutus sahabat Muadz bin Jabal ke Yaman. Sahabat tersebut  memberikan jawaban atas ujian yang dilakukan oleh Nabi, bahwa ia akan  selalu memberikan hukum berdasar al-Quran dan al-Hadits; kalau tidak  ditemukan maka dia akan berijtihad yaitu menggunakan ra'yu. Nabi  membenarkan jawaban sahabat Muadz. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; 3. Penggunaan &lt;i&gt;ar-ra'yu&lt;/i&gt; yang harus dilakukan dengan memenuhi  syarat ketat adalah wajar, karena dalam hal ini yang dicari bukanlah  hal-hal duniawi tetapi hukum agama yang membawa konsekuensi &lt;i&gt;ukhrawi&lt;/i&gt;.  Hadits Nabi menerangkan bahwa barang siapa menafsirkan al-Quran dengan  pendapat atau selera sendiri, maka baginya disiapkan tempat di neraka.  Kesembronoan dalam menggunakan &lt;i&gt;ra'yu&lt;/i&gt; atau ijtihad akan membawa  konsekuensi yang berat, bukan saja dosa akibat salah karena sembrono,  tetapi juga dosa para pengikutnya yang harus terpikul. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; 4. Keharusan seseorang yang tidak mampu memenuhi syarat berijtihad  sendiri dan dipersilakan untuk mengikuti pendapat para ahli agama yang  ahli ijtihad adalah wajar. Orang yang tidak tahu harus bertanya kepada  yang tahu, yang tidak ahli harus bertanya kepada yang ahli. Firman Allah  dalam al-Anbiya' ayat 7 yang artinya: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="quote" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Bertanyalah kepada ahli agama kalau kamu sekalian tidak tahu.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Siapakah yang ahli agama itu? Mereka adalah para ulama mujtahidin, yang  memenuhi persyaratan ijtihad dan hasil ijtihadnya dapat diketahui dengan  mudah karena terbukukan dengan lengkap. Mengikuti hasil ijtihad ahli  agama inilah yang disebut bermadzhab atau &lt;i&gt;taklid&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; 5. Umat Islam yang harus bersikap &lt;i&gt;tawassuth&lt;/i&gt;, jalan tengah lurus,  dan &lt;i&gt;tawazun&lt;/i&gt;, berkeseimbangan, adalah memang watak atau  karakteristik agama Islam dan demikian pula perintah Allah. Banyak ayat  yang menunjukkan karakteristik Islam dan kaum muslim. Hal ini juga dapat  dibuktikan bahwa tiap kebenaran itu selalu berada di tengah-tengah  antara dua kesalahan. Kebenaran selalu berada pada yang berkeseimbangan.  Sikap &lt;i&gt;tawassuth&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;tawazun&lt;/i&gt; adalah karakteristik yang  menonjol bagi ahlus sunnah wal jamaah dalam semua bidang. Bahkan gaya  hidup dan kehidupannya ditandai dengan karakter ini. Sudah barang tentu  sikap &lt;i&gt;tawassuth&lt;/i&gt; harus tidak menyeleweng dari kaidah agama yang  lebih mutlak.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/aswaja.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_7"&gt;&lt;/a&gt;Perilaku  &lt;i&gt;ahlus sunnah wal jamaah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Seorang &lt;i&gt;ahlus sunnah wal jamaah&lt;/i&gt; dalam realisasi kongkrit  berperilaku sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mula-mula belajar pada seorang ulama atau guru agama yang memberikan  pelajaran berdasar atas hasil ijtihad seorang mujtahid dan menerima  kebenaran semua pelajaran tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kemudian mempelajari dalil yang menjadi dasar pelajaran tersebut  sehingga lebih mantap.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bagi yang berkemampuan atau berkesempatan dapat dilanjutkan dengan  memperbanding sesuatu pedapat dengan pendapat lain, menilai  argumentasinya dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mungkin kalau benar-benar dapat mencapai syarat-syarat kemampuan dan  keikhlasan dapat berijtihad sendiri. Tetapi pada umumnya hanya sampai  kepada kemampuan 'punya pendapat' sendiri di dalam satu hal tetapi masih  dalam rangkaian pendapat para mujtahid sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Berhati-hati dalam mengemukakan sesuatu pendapat sendiri karena  harus pula mengakui kekuatan pendapat pihak lain sehingga selalu  bersikap toleran, &lt;i&gt;tawassuth&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;tawazun&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Dengan berbekal pedoman dari ulama salaf dalam proses pembinaan yang  berabad-abad lamanya, terwujudlah golongan yang lazim disebut kaum  kiyahi dengan santri-santrinya yang pada umumnya disebut dan menyebut  diri ahlus sunnah wal jamaah. Suatu sebutan yang sama sekali tidak  salah, tetapi harus segera diingatkan bahwa &lt;i&gt;ahlus sunnah wal jamaah&lt;/i&gt;  tidaklah terbatas hanya pada mereka saja. Mereka dengan tekun dan penuh  disiplin ketat belajar dan memperdalam ilmu agama Islam serta  pengamalannya menurut garis &lt;i&gt;assunnah wal jamaah&lt;/i&gt;. Tetapi setiap  muslim dapat menjadi &lt;i&gt;ahlus sunnah wal jamaah&lt;/i&gt; yang baik asal mau  mengikuti jejak dan mengikuti bekal yang diberikan oleh ulama salaf,  tokoh pembela dan pejuang assunnah wal jamaah. Dengan mengikuti jejak  mereka kita akan tetap berada di atas garis kebenaran &lt;i&gt;assunnah wal  jamaah&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Anggapan bahwa &lt;i&gt;ahlus sunnah wal jamaah&lt;/i&gt; tidak menggunakan akal  pikirannya, hanya bertaklid buta saja, adalah suatu anggapan yang  keliru. Anggapan bahwa kaum kiyahi dan santri tidak tahu dalil sesuatu  masalah, hanya ikut-ikutan saja adalah anggapan yang tidak sesuai dengan  kenyataan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Mungkin di kalangan mereka masih sedikit orang yang pandai  berkomunikasi, berdialog, dan menyampaikan pikirannya dalam media massa  modern seperti buku, majalah, dan sebagainya dengan menggunakan bahasa  banyak dan mudah dipahami oleh masyarakat yang disebut masyarakat  modern. Mereka lebih mengarahkan sasaran komunikasinya di kalangan  intern. Hal ini merupakan tantangan bagi ahlus sunnah wal jamaah dan  juga bagi semua pihak agar komunikasi menjadi lebih lancar, lebih  terbuka, dan lebih baik. Saling pengertian yang lebih baik secara timbal  balik sangat diperlukan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Kaum muslim di Indonesia wajib melipatgandakan rasa syukur kepada Allah,  karena pada umumnya tidak terdapat perbedaan pendapat yang besar dalam  masalah keagamaan. Hal yang perlu kita garap adalah penyempurnaan  kehidupan beragama kita, bukan mempertajam perbedaan pendapat. Untuk itu  perlu memperdalam pengetahuan dan memperbanyak amal keagamaan, bukan  perdebatan yang emosional. Diharapkan pengertian bagi generasi muda  Islam terhadap hal seperti ini agar tidak membuat sempalan sendiri  dengan jaringan liberal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/aswaja.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_8"&gt;&lt;/a&gt;Berijtihad  vs bermadzhab&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Berbicara tentang ahlus sunnah wal jamaah lazim dikaitkan dengan masalah  ijtihad dan madzhab. Memang kedua hal tersebut ada hubungannya. Ijtihad  yang pada uraian yang lalu diartikan juga penggunaan &lt;i&gt;ra'yu&lt;/i&gt;  adalah usaha keras untuk menyimpulkan hukum agama atas sesuatu hal  berdasar dari al-Quran dan/atau hadits, karena hal yang dicari hukumnya  tidak ada nash yang sharih, jelas, tegas, atau &lt;i&gt;qath'iy&lt;/i&gt;, pasti. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Ijtihad adalah usaha yang diperintahkan oleh agama Islam untuk mendapat  hukum sesuatu yang tidak ada &lt;i&gt;nash sharih&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;qath'iy&lt;/i&gt; dalam  al-Quran dan/atau hadits. Ijtihad dilakukan dengan beberapa metoda,  yang paling terkenal adalah cara qiyas atau analogi dan &lt;i&gt;ijma'&lt;/i&gt;  atau kesepakatan para mujtahidin. Hasil berijtihad yang berwujud  pendapat hukum itulah yang disebut madzhab yang asal artinya tempat  berjalan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Hasil ijtihad atau madzhab seorang mujtahid biasanya diterima dan  diikuti oleh orang lain. Sementara orang lain yang tidak berkemampuan  berijtihad sendiri yang menerima dan mengikuti hasil ijtihad disebut  bermadzhab kepada mujtahid tersebut. Ibaratnya yang berijtihad adalah  produsen dan yang bermadzhab adalah konsumen.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/aswaja.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_9"&gt;&lt;/a&gt;Persyaratan  ijtihad&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Sebagaimana diuraikan sebelumnya, menurut &lt;i&gt;ahlus sunnah wal jamaah&lt;/i&gt;  bahwa ijtihad atau penggunaan &lt;i&gt;ra'yu&lt;/i&gt;&lt;i&gt;assunnah wal jamaah&lt;/i&gt;. Persyaratan ijtihad cukup banyak,  tetapi pada pokoknya adalah: &lt;/span&gt; dalam menyimpulkan hukum  agama harus disertai persyaratan yang ketat agar hasilnya tidak  menyalahi &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kemampuan ilmu agama dengan al-Quran dan al-Hadits dan segala  kelengkapannya seperti bahasa Arab, tafsir, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kemampuan menganalisis, menghayati, dan menggunakan metoda kaidah  yang dapat dipertanggungjawabkan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Semuanya dilakukan atas dasar akhlak atau mental yaitu keikhlasan  mengabdi kepada Allah dalam mencari kebenaran, bukan sekedar  mencari-cari argumentasi untuk membenar-benarkan kecenderungan selera  dan nafsu atau kepentingan lain.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Jika dikomparasikan dengan produsen, persyaratan yang diperlukan adalan  memiliki bahan baku, pengetahuan tentang bahan, dan teknologi yang benar  untuk menghasilkan produksi yang benar dan bermanfaat. Kiranya tidak  sulit dipastikan bahwa tidak semua orang dapat dan mampu melakukan  ijtihad. Padahal semua orang Islam sudah harus melakukan perintah dan  menjauhi larangan Allah, meskipun belum mampu berijtihad. Karena itu ada  dua alternatif: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Berijtihad sendiri, yang dapat dilakukan oleh mereka yang memenuhi  persyaratan. Jumlah mereka sangat sedikit.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menerima dan mengikuti hasil ijtihad atau madzhab orang lain, yang  dapat dilakukan oleh semua orang. Kenyataan juga menunjukkan bahwa  hampir semua orang Islam melakukannya, setidak-tidaknya pada waktu  permulaan yang cukup panjang, bahkan seumur hidup karena tidak pernah  mencapai kemampuan untuk berijtihad sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Mungkin ada orang yang merasa mampu berijtihad sendiri. Tetapi kalau  diteliti, seringkali baru mencapai taraf 'merasa' mampu, namun belum  benar-benar mampu. Oleh karena itu ahlus sunnah wal jamaah mengambil  haluan bermadzhab bagi kebanyakan kaum muslimin, yang dapat dilakukan  oleh semua orang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Bermadzhab sering disebut dengan bertaklid. Pengertian taklid hendaknya  jangan digambarkan seperti kerbau yang dicocok hidungnya, taklid buta,  atau membuta tuli tanpa ada kesempatan menggunakan akal pikiran, tanpa  boleh mempelajari dalil al-Quran dan al-Hadits. Pada taraf permulaan  memang demikian. Setiap pelajaran yang diberikan oleh ulama, kiyahi,  serta guru hendaknya diterima dan diikuti. Selanjutnya setiap muslim  didorong dan dianjurkan untuk mempelajari dalil dan dasar pelajaran  tersebut dari al-Quran dan al-Hadits. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Bermadzhab bukanlah tingkah laku orang bodoh saja, tetapi merupakan  sikap yang wajar dari seorang yang tahu diri. Ahli hadits paling  terkenal, Imam Bukhari masih tergolong orang yang bermadzhab Syafi'iy.  Jadi, ada tingkatan bermadzhab. Makin tinggi kemampuan seseorang, makin  tinggi tingkat bermadzhabnya sehingga makin longgar keterikatannya, dan  mungkin akhirnya berijtihad sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Ada alternatif lain yang disebut &lt;i&gt;ittiba'&lt;/i&gt;, yaitu mengikuti hasil  ijtihad orang lain dengan mengerti dalil dan argumentasinya. Beberapa  hal yang dapat dikemukakan tentang &lt;i&gt;ittiba'&lt;/i&gt; antara lain: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Usaha untuk menjadikan setiap muslim dapat melakukan &lt;i&gt;ittiba'&lt;/i&gt;  adalah sangat baik, wajib didorong dan dibantu sekuat tenaga. Namun  mewajibkan ittiba' atas setiap muslim dengan pengertian bahwa setiap  muslim harus mengerti dan mengetahui dalil atau argumentasi semua hal  yang diikuti kiranya tidak akan tercapai. Kalau sudah diwajibkan, maka  yang tidak dapat melakukannya dianggap berdosa. Jika demikian, berapa  banyak orang yang dianggap berdosa karena tidak mampu melakukan &lt;i&gt;ittiba'&lt;/i&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebenarnya &lt;i&gt;ittiba'&lt;/i&gt; adalah salah satu tingkat bermadzhab atau  taklid yang lebih tinggi sedikit. Dengan demikian hanya terjadi  perbedaan istilah, bahwa &lt;i&gt;ittiba'&lt;/i&gt; tidak diwajibkan, melainkan  sekedar anjuran dan didorong sekuat tenaga.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Kalau kita hayati kenyatannya, perbedaan faham mengenai masalah ijtihad  dan taklid atau bermadzhab lebih banyak bersifat teoritis saja,  sedangkan dalam praktek tidak banyak berbeda. Tak ada pihak anti ijtihad  dan anti bermadzhab dalam arti murni dan mutlak. Pihak yang menamakan  diri golongan bermadzhab sesungguhnya ingin juga mampu berijtihad karena  hal tersebut diperintahkan agama sebagaimana disebut dalam hadits.  Namun ketahudirian dan melihat kenyataan kemampuan yang dimiliki,  ditempuhlah jalan yang lebih selamat dari kekeliruan di bidang agama  yang membawa konsekuensi ukhrawi dan hal tersebut dapat  dipertanggungjawabkan serta dibenarkan berdasar al-Quran dan al-Hadits.  Jalan tersebut adalah sistem bermadzhab. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Pihak yang menamakan diri sebagai golongan ijtihad sebenarnya dalam  kenyataannya tidak mampu berijtihad sendiri. Mereka tetap mengikuti  hasil ijtihad orang lain juga, melepaskan diri dari madzhab lama dan  mengikuti madzhab baru. Di antara mereka ada yang dapat mengerti atau  mengetahui beberapa dalil serta argumentasi 'hasil ijtihad' baru, tetapi  lebih banyak yang tidak mengetahuinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Pertentangan yang timbul biasanya tidak bertitik tolak pada inti  masalah, namun sudah berada di luarnya. Permasalahan yang timbul sering  disebabkan ulah dan sikap mereka yang sok tahu, tetapi sebenarnya mereka  tidak tahu apa-apa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Penyakit lain di kalangan umat Islam yang sangat mengganggu usaha  kerukunan umat adalah terlalu berorientasi atau berkiblat kepada  kepentingan golongan dan kurang berorientasi kepada pendirian keagamaan  dan kepada agama. Upaya yang dilakukan adalah terlalu ingin memenangkan  golongan masing-masing atau orang-orang di dalam golongan tersebut dan  kurang terarah kepada kemenangan agama Islam dan pendirian keagamaan.  Mereka akhirnya merasa puas kalau berhasil menyingkirkan golongan atau  orang lain dan dapat merebut posisinya tanpa banyak memikirkan apakah  posisi tersebut menguntungkan atau merugikan umat dan agama. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Penyakit yang sangat parah tersebut menghasung upaya pembinaan generasi  muda yang penuh pengertian atas tanggung jawabnya pada masa depan.  Penanganan dan pemupukan serta pengembangan bibit pengertian ke arah  persatuan umat mutlak diperlukan demi kejayaan umat masa depan. Di  tengah kerisauan menghadapi masalah generasi muda yang terkadang  merisaukan kiranya perlu dipelihara sikap optimisme. Jika sikap  optimisme hilang, maka menyebabkan kehilangan antusiasme, semangat, dan  gairah yang berakibat kehilangan segala-galanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Sepanjang sejarah, tiap generasi tua yang pasti akan mengakhiri  kiprahnya dalam peredaran zaman selalu melihat dengan telti kesalahan  generasi muda yang akan menggantikan dengan penuh rasa khawatir.  Kekhawatiran seperti itu adalah wajar, namun tidak boleh berlebihan yang  dapat mengarah kepada peremehan, tidak percaya kepada generasi muda  yang pasti akan menggantikan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Karena itu generasi tua yang sadar akan memberikan bimbingan dengan  penuh kasih sayang dan penuh kepercayaan. Dengan demikian tidak perlu  meremehkan dan mencurigai generasi muda. Keberhasilan generasi tua dapat  diceritakan, namun kegagalannya tidak boleh disembunyikan. Hal ini  dimaksudkan untuk membuat generasi muda dapat mengambil pelajaran secara  wajar, baik dari sisi keberhasilan maupun kegagalan atau  kebelumberhasilan generasi tua. Keberhasilan perlu dikembangkan dan  kegagalan perlu dipelajari penyebabnya serta dicari solusi agar dapat  keluar dari kegagalan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/aswaja.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_10"&gt;&lt;/a&gt;Reorientasi  agamawi&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Salah satu hal yang dipandang belum berhasil adalah kerukunan umat  secara mantap.  Berulangkali umat Islam Indonesia berhasil membentuk  wadah kerukunan, namun belum berhasil memelihara dan mengembangkannya  secara mantap. Melihat gelagat yang dapat dibaca dari situasi dunia  Islam pada umumnya dan kaum muslimin Indonesia khususnya, kita dapat  menancapkan harapan bahwa proses sejarah mengarah kepada masa depan  Islam yang gemilang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Terkadang kita perlu prihatin melihat beberapa kondisi yang tidak  mengenakkan, terutama melihat posisi berbagai organisasi Islam, meski  potensi sesuatu umat tidak hanya bergantung kepada posisi organisasinya  saja. Banyak faktor  lain yang ikut menentukan potensi tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Mari kita coba untuk merenungkan diri kembali. Orientasi umat Islam yang  selama ini terpencar dan berserakan kiranya perlu dikembalikan ke  pusatnya, yaitu masalah agamawi, atau berorientasi agamawi. Kita perlu  berusaha dan bekerja keras, belajar, dan berupaya meningkatkan potensi  agama Islam di Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Perjuangan untuk menumbuhkan, memelihara, dan mengembangkan potensi  agama dan umat bukan hanya tugas satu generasi saja. Perjuangan adalah  tugas seluruh generasi secara berkesinambungan. Generasi tua harus sadar  bahwa umur dan kesempatan sudah hampir pupus dan pada gilirannya pasti  habis. Kemudi dan tanggung jawab pasti beralih ke tangan generasi muda,  bagaimana pun kondisi generasi muda saat ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Karena itu kiranya perlu menjadikan generasi muda sebagai manusia  sejarah dan manusia pejuang yang sanggup berdiri sendiri. Mereka tidak  boleh menjadi anak-anak yang hanya pandai membanggakan hasil karya nenek  moyangnya. Pepatah Arab mengatakan:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="teksArab" style="text-align: right;"&gt;اِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ هَا اَنَا ذَا * &lt;span style="font-size: small;"&gt; لَيْسَ الْفَتَى مَنْ  يَقُوْلُ كَانَ اَبِيْ ... &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Generasi muda ialah mereka yang berani berkata: "Inilah aku!", bukan  mereka yang hanya dapat berkata: "Aku keturunan tokoh anu ..."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/aswaja.single?seemore=y#TOC0" name="toc_0_11"&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Ahlus sunnah wal jamaah&lt;/i&gt; adalah golongan yang selalu berusaha  tetap di atas garis kebenaran &lt;i&gt;assunnah wal jamaah&lt;/i&gt;, yaitu yang  mempergunakan dasar al-Quran dan al-Hadits sebagai sumber utama agama  Islam serta penghayatan para sahabat terkemuka sebagai petunjuk untuk  mencapai garis kebenaran yang ada pada al-Quran dan al-Hadits.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Penggunaan &lt;i&gt;ar-ra'yu&lt;/i&gt; atau akal untuk menyimpulkan hukum agama  atas sesuatu masalah yang tidak ada nash sharih/jelas dalam al-Quran dan  al-Hadits disebut dengan ijtihad; yang dapat dilakukan dengan berbagai  cara antara lain qiyas/analogi dan ijmak atau kesepakatan para mujtahid.  Karena hanya sedikit orang yang mampu memenuhi persyaratan mujtahid,  maka ada alternatif untuk menerima dan mengikuti hasil ijtihad orang  lain yang disebut dengan bermadzhab.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Generasi muda perlu memahami akar masalah antara mampu berijtihad,  merasa mampu berijtihad, atau tahu diri tentang kemampuannya dalam  memahami masalah agama agar tidak terjadi pertikaian dan membuat  kelompok-kelompok baru yang menyendiri.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Generasi tua perlu memberikan bimbingan terhadap generasi muda yang  pada gilirannya akan menggantikan kemudi dalam perjalanan sejarah  berikutnya, bagaimanapun kondisi keberagamaan generasi mudanya saat  ditinggalkan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Penyusun&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;A. Muchith Muzadi (Jember, 21 Muharram 1395)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Editor:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Ahmed Machfudh(Jakarta, 21 Dzulhijjah 1425) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7952077414346619986-6785715491678640830?l=bulletinarrisaalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/feeds/6785715491678640830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/ahlus-sunnah-wal-jamaah-ijtihad.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/6785715491678640830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/6785715491678640830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/ahlus-sunnah-wal-jamaah-ijtihad.html' title='Ahlus Sunnah wal Jamaah &amp; Ijtihad'/><author><name>Bulletin Ar-Risaalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='16' src='http://4.bp.blogspot.com/_eaQoFojG5Uw/S_qCG0vgVSI/AAAAAAAAAAM/IzR7PqANidY/S220/logo+bulletin+copy.psd.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7952077414346619986.post-6545128726978468328</id><published>2010-05-27T19:57:00.000+07:00</published><updated>2010-05-27T19:57:40.739+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>KH. Achmad Masduqi Machfudz</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;img align="right" border="0" height="200" src="http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/images/kh_masduqi_biografi.jpg" width="138" /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; KH. Drs. Achmad Masduqi Machfudz dilahirkan di desa Saripan (Syarifan)  Jepara Jawa Tengah pada 1 Juli 1935. Di desa tersebut, terdapat sebuah  makam kuno yang banyak dikenal orang dengan Mbah Jenggolo. Alkisah,  berkat karomah dari Mbah Jenggolo ini, dulu ketika baru ada radio dan  televisi, siapa saja yang membawa ke desa ini pasti gila. Penyakit gila  ini baru akan sembuh kalau kedua alat elektronik dikeluarkan dari  Saripan. Keadaan seperti ini masih bisa ditemui semasa Kyai Masduqi  masih kecil. Namun perlahan-perlahan seiring dengan perubahan zaman,  karomah ini berangsur surut hingga hilang sama sekali. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Melihat lingkungannya yang seperti itu, ditambah dengan lingkungan  keluarga yang taat dan fanatik terhadap agama serta memiliki semangat  juang yang tinggi untuk menegakkan kebenaran dan menyebarkan agama  Allah.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jalur Keturunan dari Ayah&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Jika dilihat dari jalur keturunan Ayah ini, tidak dapat diketahui secara  terperinci tetapi yang jelas seluruh keluarga beliau adalah termasuk  orang-orang yang gigih berjuang dalam mensyiarkan agama Allah. Jalur  keturunan ayah ini terputus hingga kakek beliau saja.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Kakek beliau ini termasuk tokoh agama yang disegani dalam lingkungan  masyarakat mereka. Perjuangannya tidak hanya terhadap orang awam  saja,  melainkan kepada seluruh lapisan masyarakat bahkan yang jahat sekalipun.  Beliau bahkan dengan gigih menaklukkan orang-orang jahat yang banyak  berkeliaran saat itu. Hingga beliau mampu merubah pola tingkah laku  mereka itu menjadi orang yang taat menjalankan agama Allah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Semangat jihad, fanatik dan ketaatan menjalankan agama serta keberanian  membela kebenaran ini secara terus menerus ditempa dan ditekankan oleh  Kyai Machfudz, Kyai Masduqi. Maka tidak heran bila sifat-sifat tersebut  sangat melekat pada diri Kyai Masduqi dalam menegakkan agama Allah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jalur Keturunan dari Ibu&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Bila ditelusuri dari garis keturunan ibu ini dapat dilihat dari Syeikh  Abdullah al Asyik Ibn Muhammad.  Beliau adalah seorang Jogoboyo dari  kerajaan Mataram. Al kisah salah satu keampuhan beliau adalah setiap ada  mara bahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau memukul bedug untuk  mengingatkan penduduk dari cukup dari rumahnya. Suara bedug ini  terdengar keseantero kerajaan Mataram. Pada makamnya yang terletak di  Tayu Pati, tertulis "Makom niki dipun bangun Bagus Salman bongso jin"  (makam ini dibangun Bagus Salman bangsa Jin). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Dari Syeikh Abdullah al Asyik inilah menurunkan nenek KH. Achmad Masduqi  Machfudz yaitu Nyai Taslimah. Dikalangan masyarakat Nyai Taslimah  sebagai seorang pewaris perjuangan Syeikh Abdullah al Asyik Ibn  Muhammad, dikenal sebagai seorang penyebar agama. Ditangannya tidak  sedikit orang yang diislamkan. Mereka yang asalnya belum beragama dengan  baik akhirnya menjadi santri Nyai Taslimah.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Dari pernikahannya dengan Kyai Asmo Dul, Nyai Taslimah dikaruniai dua  rang putri, yaitu Chafshoh dan Masfufah. Beliau juga mengangkat seorang  anak angkat yang bernama Suyuti. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Putri beliau yang pertama; Chafsoh dipersunting oleh Kyai Machfudz,  putra dari Bapak Arso Husein dengan Ibu Saumi. Dari pernikahan ini,  keduanya dikarunia 14 putra-putri. Mereka ini adalah: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Muainamah (Alm)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Achmad Fahrurrazi (Alm)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Khadijah (Alm)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Achmad Masduqi (Malang)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sa'adah (Jepara)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Achmad Said (Alm)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sofiyah (Jepara)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Achmad Shohib (Alm)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Achmad Zahid (Malang)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Achmed Mas'udi (Jakarta)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Achmad Zahri (Alm)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Achmad Maskuri (Alm)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Aslihah (Malang)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Achmad Mujab (Jepara)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Dari keempat belas putra-putri Nyai Chafsoh ini, tujuh diantaranya  meninggal dunia ketika masih kecil dan remaja. Kyai Masduqi merupakan  putra keempat dan merupakan putra sulung yang hidup. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kehidupan Keluarga KH. Achmad Masduqi Machfudz&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; KH. Achmad Masduqie Machfudz, terkenal seorang yang dalam kehidupan  sehari-hari cukup sederhana. Corak kehidupan keluarga yang beliau bangun  sama sekali jauh dari citra kemewahan. Kesederhanaan yang dicitrakan  Kyai Machfudz sangat membias pada keluarga Kyai Masduqi. Terlebih sejak  kecil, Kyai Masduqi sangat gigih dalam menekuni bidang keilmuan terutama  ilmu agama. Salah satu prinsip hidup beliau adalah: "Kalau kita sudah  meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang  akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan  duniapun akan teraih. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Dari hasil pernikahannya dengan Nyai Chasinah putri dari KH. Chamzawi  Umar pada 7 Juli 1957 dalam usia 22 tahun, beliau dikaruniau 9 orang  anak, yaitu: &lt;a class="bloxanchor" href="" name="mushaddaq"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Mushoddaqul Umam, S.Pd&lt;/b&gt; dilahirkan di Tarakan Kalimantan  Timur, tanggal 21 Juli 1958. Saat ini di kediamannya di Jl. Danau  Kerinci IV, E15, disamping kesibukan sehari-hari menjadi Wakil Kepala  Sekolah SMU 10 dan pengajar pada MA Al Maarif Singosari, Sarjana strata  satu bahasa Inggris yang pernah mondok di Pesantren Roudlotul Tolibin  Rembang ini, juga merintis majlis Ta'lim untuk orang tua dan siswa SD,  SMP, SMU dan Mahasiswa.  &lt;a class="bloxanchor" href="" name="luthfillah"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Muhammad Luthfillah, SE&lt;/b&gt;, dilahirkan di Rembang Jawa Tengah  pada tanggal 28 Oktober 1959. Sarjana Ekonomi dari UNIBRAW yang  sebelumnya menempuh pendidikan di Pesantren Roudlotul Tolibin Rembang  ini, saat ini menjadi pengurus PP.Pagar Nusa dan anggota DPRD Jatim dari  fraksi FKB. &lt;a class="bloxanchor" href="" name="niam"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;dr. Moch. Shobachun Niam Sp.B&lt;/b&gt;. dilahirkan di Samarinda  Kalimantan Timur pada 25 Agustus 1961, sambil berdinas di RSU Polmas  Sulawesi, alumnus Pesantren Roudlotut Tolibin Rembang ini juga menjadi  pengurus wilayah NU Sulawesi Selatan. &lt;a class="bloxanchor" href="" name="taqiyyudin"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;M. Taqiyyuddin Alawiy&lt;/b&gt;, dilahirkan di Malang pada 8 April  1963. Setelah menyelesaikan studi di Pesantren Al Anwar Sarang Rembang,  meneruskan studi di Fakultas Tehnik UNISMA Malang. Saat ini, disamping  menjadi dosen di Institusi yang sama, juga menjadi Rais Syuriah MWC  Kedung Kandang Malang. &lt;a class="bloxanchor" href="" name="ana"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Dra. Roudlotul Hasanah&lt;/b&gt;, dilahirkan di Malang pada 8 Maret  1965, setelah mondok di Pesantren Tambakberas Jombang, memperoleh gelar  Sarjana Bahasa Inggris di IAIN Malang (sekarang UIIS), dalam  kesehariaannya mengajar di MTSN Sepanjang Gondalegi Malang juga menjadi  salah seorang tenaga pengajar pada Pesantren Nurul Huda Malang. &lt;a class="bloxanchor" href="" name="isyroq"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Isyroqunnadjah, M.Ag&lt;/b&gt;. dilahirkan di Malang pada 18 Februari  1967, menyelesaikan studi S2 di PPS IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.  Saat ini alumnus Pesantren Lirboyo Kediri ini, disamping menjadi Ketua  Program Bahasa Arab pada UIIS, juga menjadi wakil sekretaris Rabithah  Maahidil Islam, Cabang Malang. &lt;a class="bloxanchor" href="" name="badiah"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Dra. Badiatus Shidqoh&lt;/b&gt;, dilahirkan di Malang pada 11 April  1968. saat ini alumnus Pesantren Tambakberas Jombang ini menjadi tenaga  pengajar pada STIE Malangkucecwara Malang. &lt;a class="bloxanchor" href="" name="fitri"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Fauchatul Fithriyyah. S.Ag&lt;/b&gt;. dilahirkan di Malang pada 25  Agustus 1970, Memperoleh gelar sarjana di STAIN Malang (sekarang UIIS)  setelah sebelumnya mondok di PP. Maslakul Huda Kajen Pati Jateng,  mengelola beberapa TPQ binaan Pesantren Nurul Huda, juga menjadi tenaga  pengajar pada Pesantren Nurul Huda Malang. &lt;a class="bloxanchor" href="" name="shampton"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Achmad Shampton Mas, SHI&lt;/b&gt;. dilahirkan di Malang pada 23 April  1972, selepas SMP, mondok di Pesantren Lirboyo Kediri dan beberapa  Pesantren di sekitar Kediri. Memperoleh gelar sarjana di STAIN Malang  (sekarang UIIS), saat ini menjadi khodim Pesantren Nurul Huda&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Sebelum memasuki dunia perkuliahan seluruh putra dan putri beliau tanpa  kecuali diharuskan mengenyam pendidikan di pesantren. Ini merupakan  prinsip yang ditanamkan Kyai Masduqi para putra putrinya. Dari  pengalaman mengaji di pesantren ini, meskipun background pendidikan  putra putri beliau beragam, mereka mampu menjalankan amanah dakwah di  tengah-tengah masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pendidikan Formal&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; KH. Achmad Masduqi Machfudz terlahir di tengah-tengah keluarga religius  yang taat dan fanatik terhadap agama Islam. Sehingga sejak kecil beliau  sudah dihiasi dengan tingkah laku, sikap dan pandangan hidup ala santri.  Karena itu pula, Kyai Machfudz orang tua beliau tidak menghendaki Kyai  Masduqi kecil untuk bersekolah di sekolah umum, cukup di sekolah agama  saja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Tetapi larangan orang tua ini tidak mematahkan semangat Kyai Masduqi  kecil untuk mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan yang tidak  terbatas hanya dibidang agama saja. Dengan semangat tinggi, Kyai Masduqi  menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri dengan  menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan yang lain tanpa  sepengetahuan kyai atau orang tuanya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Adapun pendidikan formal yang telah beliau selesaikan antara lain: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sekolah Rakyat di Jepara, 1942 - 1948&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;SMP di Jepara, 1950 - 1953&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sekolah Guru Hakim Agama (SGHA) di Yogyakarta, 1953 - 1957&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;IAIN Sunan Ampel Malang, 1962 - 1966&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;IAIN Sunan Ampel Malang (program doktoral) 1975 - 1977&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Ketekunan, keuletan dan semangat juang yang tinggi, Kyai Masduqi  akhirnya mampu meraih berbagai macam ilmu pengetahuan baik dibidang  agama maupun pengetahuan umum. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pendidikan non Formal &lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; KH. Achmad Masduqi Mahfudz sejak berusia 5 tahun tepatnya pada tahun  1939 sudah diselenggarakan di madrasah ibtidaiyah di kampungnya yang  pada waktu itu dikenal dengan istilah "Sekolah Arab", karena di sini  pelajarannya semua berbahasa arab. Beliau belajar di sekolah ini selama  kurang lebih lima tahun yaitu dari tahun 1939-1944, di sinilah beliau  mulai mempelajari dasar-dasar berbahasa arab dan agama Islam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Kemudian setelah beliau menyelesaikan sekolahnya dan mempunyai dasar  yang cukup, beliau meneruskan belajarnya di pondok pesantren Jepara. Di  sini beliau belajar kurang lebih selama 8 tahun, yakni dari tahun 1945 -  1953, dan menyelesaikan Madrasah Tsanawiyah pondok selama 3 tahun. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Pondok pesantren Jepara ini diasuh oleh Kyai Abdul Qadir, di sini beliau  belajar ilmu-ilmu alat yakni nahwu dan shorof, fiqih, tauhid dan  lain-lain, karena beliau belajar di sini sudah cukup lama, maka tidak  heran jika ilmu-ilmu tersebut sedikit banyak telah beliau kuasai. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Setelah menyelesaikan pelajarannya di pondok pesantren Jepara, beliau  masih merasa belum cukup ilmu pengetahuan agamanya, dan akhirnya beliau  pergi untuk belajar di Pondok Pesantren Krapyak.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;!-- back to top link //--&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7952077414346619986-6545128726978468328?l=bulletinarrisaalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/feeds/6545128726978468328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/kh-achmad-masduqi-machfudz.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/6545128726978468328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7952077414346619986/posts/default/6545128726978468328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bulletinarrisaalah.blogspot.com/2010/05/kh-achmad-masduqi-machfudz.html' title='KH. Achmad Masduqi Machfudz'/><author><name>Bulletin Ar-Risaalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='16' src='http://4.bp.blogspot.com/_eaQoFojG5Uw/S_qCG0vgVSI/AAAAAAAAAAM/IzR7PqANidY/S220/logo+bulletin+copy.psd.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
